Dengarkan Artikel
Nama : Ulfa Ulfiana
Siswi MAN 1 Aceh Timur
Mameh, tinggal dengan nenek dari pihak ibu sejak kecil di sebuah desa yang dekat pantai merupakan kesenangan tersendiri. Desa kami diberi nama Keutapang Mameh. Konon katanya Pohon Ketapang di desa kami ada yang berbuah manis, sehingga menjadi cikal bakal untuk pemberian nama desa.
Penulis akan mengisahkan lebih lanjut apa yang membuat nama desa kami diberi nama Keutapang Mameh. Nenek kandung penulis pernah berkisah, “dulu sebelum ada kita, begitu kata nenek” desa kita dulunya ada pohon keutapang yang besar dan ada salah satu pohonnya yang berbuah manis.
Begitu nenek bercerita, penulis sendiri tidak terlalu mempertanyakan kebenarannya, namun kisah itu menjadi kebanggaan sendiri bagi penulis. Setidaknya desa kami memiliki sejarah.
Dulunya, pohon ketapang manis itu letak tumbuhnya di pinggir laut, namun karena dulu laut jauh dengan daratan, tapi kalau ditanya sekarang dimana letaknya pohon tersebut tumbuh pastinya di tengah laut.
Hal ini disebabkan karena pergeseran bibir pantai. Jikalau kita membuka internet, fenomena ini disebabkan karena adanya kenaikan muka air laut global yang disebabkan oleh dua faktor utama, es di daratan (gletser dan lapisan es) akibat pemanasan global, serta ekspansi termal, yaitu air laut yang memuai karena menghangat. Akibatnya, area daratan pesisir yang lebih rendah menjadi tergenang atau lebih sering mengalami banjir pasang.
Dari semua peristiwa itu lah ceritanya menjadi nama sebuah desa, yang dikenal Keutapang Mameh, sekarang desa kami terdiri dari 4 dusun yaitu Dusun Sampan Dusun Tambak, Dusun Timur, serta Dusun Tanjung.
Namun, terkait penamaan desa kami itu terjadi menjadi Ketapang Mameh, penulis bersama nenek juga kurang tahu.
Mungkin saja peristiwa tersebut terjadi pada masa nenek moyang kita. Karena kata nenek penulis, semenjak nenek lahir sudah banyak orang di desa kami dengan nama tersebut walaupun masih ada hutan (kemungkinan mangrove/bakau) di pinggir pantai.
📚 Artikel Terkait
Nah, mengapa desa kami ini sekarang sudah banyak penduduknya, karena masa-masa jaman dulu orang mejalajahi tempat-tempat yang bisa dijadikan rumah atau tempat tinggalnya. Ditambah juga keluarga yang terus memiliki anak-cucu tentunya. Dapat dibayangkan mereka membuka hutan, membangun permukiman awal, dan bagaimana mereka bertahan hidup.
Mereka mesti membuat cara, apapun itu yang bisa dilakukan seperti menjaring ikan di laut, membuat sampan kecil sebagai alat transportasi berburu ikan, dan membuat tambak untuk dijadikan ladang penghasilan sehari-hari.
Penulis sendiri yang tidak tahu seberapa dalam tingkat kebenaran cerita desa kami ini, tetapi jikalau mendengar dari orang tua dahulu, mereka bangga dengan orang-orang dulu yang menjaga desa ini dengan damai aman tentram, penulis menganggap itu adalah harapan mereka untuk kami para penerus penduduk desa.
Walaupun, orang luar desa kami cenderung memandang orang-orang desa kami itu sebagai penduduk pesisir, layaknya masyarakat pesisir di daerah lainnya cenderung bahasa mulut nya kotor, berkata dengan nada tinggi/dianggap kasar, tetapi tidak semua yang mereka lihat itu benar, suara bising ombak terkadang harus kami kalahkah dengan mengeraskan suara ketika bertutur kata.
Di balik itu, penulis berbangga hati bahwa di desa Keutapang Mameh kami ini, pernah hidup seorang ulama kharismatik, sekarang sudah tiada. Beliau bernama Abu Muhammad Hasan, atau dikenal juga sebagai Abu Hasan Keutapang Mameh. Dulunya kalau di desa dipanggil dengan sebutan “Nek Tengku atau Nek Abu”. Masyarakat desa kami sampai sekarang masih aktif memperingati haul takziyah beliau.
Nama Abu Hasan Keutapang mameh juga diambil untuk nama mushalla MAN 1 Aceh Timur, Madrasah tempat saya menimba ilmu. Karena, dulu Abu Hasan Keutapang Mameh salah seorang pelopor yang mendirikan lembaga pendidikan atau madrasah untuk masyakarat Aceh Timur terutama masyarakat idi Rayeuk ini, makanya nama abu Hasan Keutapang mameh diambil untuk nama musalla madrasah tersebut.
Tentunya untuk mengenang tokoh dalam pendirian madrasah tersebut. Abu Hasan Keutapang Mameh juga mendirikan sebuah balai pengajian di desa kami, dan rumah beliau masih ditempati, sedangkan makam beliau ada di samping rumahnya persisnya di samping balai pengajian tersebut.
Masjid desa kami juga diambil dari nama Nek Tengku. Karena semasa beliau hidup, Nek Tengku pernah mendirikan menasah untuk desa kami, lalu nek Tengku abu Hasan Keutapang Mameh juga mendirikan sebuah masjid yang dulu tidak begitu megah layaknya sekarang, juga diberi nama Masjid Abu di Keutapang Mameh.
Sekarang, di desa tercinta kami juga sudah ada pabrik Cold Storage, masyarakat kami yang kurang fasih berbahasa inggris sering menyebutnya dengan “kostrik” ikan, hehehe. Pabrik kostrik ikan itu berfungsi menyimpan sementara ikan. Tangkapan nelayan kami biasanya dibeli separuh oleh pabrik “kostrik” untuk dimasukan ke dalam pabrik es kostrik tersebut, kemudian mereka menyimpan ikan” tersebut untuk di ekspor ke luar daerah misalnya ke Medan dan sebagainya. Juga selain Cold Storage, di desa kami juga ada Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN), kantor-kantor pelabuhan, dan sekolah seperti SD dan TK.
Sekian terimakasih, hanya itu mungkin pada kesempatan kali ini penulis dapat bercerita. Hasil mendengar kisah dari para tetua dahulu, harapannya penduduk desa kami semakin makmur dan sejahtera saban harinya, dan penulis semakin cinta dengan desa manis ini tentunya.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






