Dengarkan Artikel
Mahmudi Hanafiah, S.H., M.H.
Dosen UNISAI Bireuen dan Guru Dayah Jamiah Al-Aziziyah Batee Iliek
Hidup penuh dengan perjalanan, pertemuan dan perpisahan. Melakukan perjalanan untuk sebuah pertemuan. Kemudian bertemu, untuk sebuah perpisahan. Aneh memang. Tapi itulah faktanya.
Kenapa bisa aneh…?
Imam Syafi’i pernah berkata: “Jika engkau telah merasakan manisnya pertemuan, engkau pasti akan mengetahui betapa pahitnya perpisahan”.
Pahitnya perpisahan sebanding dengan manisnya pertemuan. Artinya, pertemuan yang menciptakan berbagai kenangan yang penuh kesan akan menorehkan beragam luka saat perpisahan. Makanya, orang berkata: “Bukan perpisahan yang kutangisi, tapi pertemuan yang kusesali”.
Ada banyak sekali pertemuan yang sudah kita lalui semenjak kita lahir ke dunia ini. Mulai dari pertemuan dengan orang tua yang kita isi dengan tangisan dan disambut dengan air mata bahagia. Berlanjut pertemuan dengan tetangga dan sanak saudara. Pertemuan dengan kawan sejawat yang penuh dengan canda tawa. Pertemuan dengan para guru yang menyisakan niai yang luar biasa. Pertemuan dengan mitra kerja yang menggambarkan kekompakan tiada tara. Pertemuan dengan pasangan hidup yang memberikan kebahagiaan tak ternilai harga. Hingga pertemuan dengan anak cucu yang menandakan telah lanjutnya usia.
Semua pertemuan itu berujung dengan perpisahan. Pahitnya perpisahan yang kita rasakan selalu sebanding dengan manisnya kebersamaan yang kita lalui selama pertemuan. Kebersamaan setelah pertemuan kadang berlangsung lama, namun ada juga yang hanya sesaat saja. Bahkan, terkadang ada orang yang hanya sempat merasakan manisnya beberapa pertemuan saja, karena dia langsung dipertemukan dengan ‘pemutus’ semua pertemuan yang lain, yaitu kematian.
Kematian adalah pertemuan dengan malaikat ‘Izrail (malakul maut). Pertemuan dengan malakul maut memisahkan semua pertemuan yang telah dan yang sedang kita jalani. Namun di balik itu, pertemuan dengan malakul maut menjembatani pertemuan abadi dengan zat yang abadi, yaitu Allah. Di sinilah timbul pertanyaan, akankah pertemuan kita dirindukan…?
Pertemuan dengan Allah, yang dikatakan sebagai pertemuan yang dirindukan disebut sebagai ‘pertemuan habib dengan habib’ (pertemuan kekasih dengan kekasih). Artinya, untuk mendapatkan sebuah pertemuan yang dirindukan, kita harus menjalin hubungan dengan Allah sebagai hubungan kekasih dengan kekasih. Tanamkan rasa cinta kita yang paling mendalam hanya kepada Allah.
📚 Artikel Terkait
Cintai Allah melebihi cinta kita kepada yang lainnya, apapun dan siapapun itu.
Kadang timbul pertanyaan dalam benak kita. Bagaimana cara mencintai Allah…?
Apakah mencintai Allah melebihi dari mencintai yang lain bisa menyebabkan kita mengabaikan kewajiban dan tanggung jawab kepada orang tua, anak, istri dan lainnya?
Kita bisa membuat analogi dengan cinta kita kepada orang-orang yang kita sayangi. Rasa cinta kepada mereka kita perlihatkan dengan perhatian yang maksimal terhadap mereka, memenuhi kebutuhan mereka, mengupayakan yang terbaik bagi mereka, serta memberikan apa saja yang mereka minta. Apapun kita lakukan demi mencukupi kebutuhan mereka.
Berbagai macam cara kita lakukan demi membuat mereka tersenyum bahagia.
Cinta kita kepada Allah malah lebih sederhana. Allah sama sekali tidak mempunyai kebutuhan sedikitpun terhadap kita. Bahkan, Allah tidak butuh kita cintai. Hanya kita yang perlu mencitai Allah, agar kita dicintai Allah.
Mencintai Allah cukup dengan mengikuti Rasul-Nya, dan dengan begitu, kita juga akan dicintai Allah. Sebagaimana Allah berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 31: “Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
Jadi, mencintai Allah sama sekali tidak mengabaikan tanggung jawab dan kewajiban kita kepada orang tua, istri/suami, anak dan seluruh makhluknya. Karena, di samping menyuruh dan mencontohkan kepada kita bagaimana cara kita berintaeraksi dengan Allah dalam ibadah mahdhah, seperti shalat dan puasa, Rasulullah dalam banyak hadisnya juga menegaskan kepada kita agar selalu berbakti kepada orang tua, menyayangi istri/suami dan anak serta berbuat baik kepada sesama manusia, bahkan kepada semua makhluk Allah.
Tidak mengabaikan kewajiban terhadap sesama, mencintai Allah justru meningkatkan tanggung jawab kita terhadap amanah-Nya, dan dengan begitu kita akan mendapatkan cinta-Nya.
Cinta merupakan perasaan hati, bukan omongan lisan. Cinta tumbuh dari dalam hati dan terlihat dari sikap dan perbuatan. Mencintai Allah tidak dengan ucapan ‘aku cinta Allah’, tetapi perlu diwujudkan dalam keseharian dengan melaksanakan semua perintah dan meninggalkan semua larangan-Nya.
Cinta kepada Allah tidak pernah bertepuk sebelah tangan. Ketika cinta kepada Allah telah tumbuh dalam diri kita, saat itulah kita mendapatkan cinta Allah. Ketika cinta Allah telah kita dapatkan, pertemuan kita dengan Allah menjadi pertemuan yang dirindukan. Kedekatan dengan Allah hanya dijembatani oleh kematian. Kala itu, kematian tidak lagi dianggap sebagai hal yang ditakutkan, melainkan suatu hal yang ditunggu-tunggu, karena di balik kematian ada pertemuan antara kekasih dengan kekasih, itu pertemuan yang dirindukan.
Semoga kita mampu menumbuhkan rasa cinta yang setinggi-tingginya hanya kepada Allah, mendapatkan cinta Allah serta memperoleh pertemuan yang dirindukan.
Wallahu waliyyut tawfiq.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






