POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Demokrasi Terbelenggu Feodalisme

RedaksiOleh Redaksi
August 14, 2025
Nenengisme di Antara Budaya Omon-Omon
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Novita Sari Yahya

Ketika membaca tulisan Rosihan Anwar di Kompas 4 Desember 2010 dengan judul inlander dinilai. Saya memikirkan apakah perilaku kita yang tidak peduli, nir-empati ditunjukan dengan perilaku korupsi  yang angkanya fantastis  karena karakter inlander yang masih melekat akibat amnesia post kolonialisme.

Dalam tulisan inlander dinilai digambarkan karakter inlander oleh wartawan Willem Walraven (1887-1943). Menurut Walraven Inlanders bukan orang demokratis, melainkan orang otokratis yang mau kuasa sendiri tanpa batas,  orang angkuh, namun biasanya tidak ada arti, membunuh atau bercerai karena hal remeh-temeh, minta berhenti bekerja karena soal sepele. 

Orang Indonesia terhormat adalah seorang materialis ’mementingkan serba kebendaan, sama sekali bukan idealis ’hidup dengan cita-cita atau ideal’. Orang Indonesia bukan marxis, bukan sosialis, melainkan betul-betul tipikal orang borjuis. 

Ciri-ciri yang disebutkan oleh Walfren adalah  karakter yang digambarkan oleh Mochtar Lubis dengan manusia Indonesia.

Tahun 1977, Mochtar Lubis menyampaikan pidato kebudayaannya di Taman Ismail Marzuki (TIM). Isi pidatonya tentang sifat-sifat manusia Indonesia yang hipokrit, enggan bertanggung jawab, bersikap dan berperilaku feodal, percaya takhyul, artistik serta berbakat seni, dan lemah watak atau karakternya.

Karakter manusia Indonesia yang digambarkan dalam tulisan Inlander Dinilai – Rosihan Anwar dan Sifat-sifat Manusia Indonesia – Mochtar Lubis menjelaskan kenapa manusia Indonesia dikendalikan dalam kekuasaan negara kuat orbais dan demokrasi berjalan di tempat setelah reformasi.

Proses pengendalian, hierarki, sentralis, stabilitas dari ciri negara kuat orbais yang merupakan ciri dari bapak-ibuimse  hidup di alam bawah sadar masyarakat Indonesia dan kemungkinan makin menguat di periode 5 tahun terakhir dengan pernyataan terbuka dengan istilah  “Raja Jawa”.

Menurut Langenberg (1986: 9-10), pengertian tentang bapak adalah dasar dari seluruh struktur stratifikasi sosial di Indonesia. Setiap patron adalah bapak, setiap klien  mempunyai seorang bapak. 

Dengan demikian, paham “bapakisme” merasuki perilaku aparat negara pada semua tingkat, dan semua hubungan adalah hubungan “bapak-anak buah.

Hubungan patrionistik inilah merupakan ciri dari feodalisme. Hubungan ketergantungan antara patron-klien.

Bapak-ibuisme dengan patronnya” priyayisasi’ yang kata kuncinya elite (Jawa). Bapak-ibuisme adalah perpaduan antara kapitalisme dan feodalisme Jawa (Julia Suryakusuma, 2011).

Kata kunci patron-klien mengambarkan hubungan antara pemimpin dengan anak buah atau rakyat menjelaskan bagaimana sistem demokrasi yang memberi ruang agar terbentuk individu yang independen dan kebebasan berpikir dan memutuskan pilihan tidak terwujud karena kontrol dari hubungan patron-klien.

Demokrasi Indonesia sejak orba sampai saat ini digambarkan sebagai demokrasi terbelenggu feodalsme. Apa yang dikhawatirkan tentang feodalisme dan fasisme yang akan membelenggu demokrasi penjelasan saya kutip dari pemikiran Syahrir tentang feodalisme dan fasisme.

Fasisme adalah ideologi absolut yang memposisikan perintah pemimpin laksana titah raja. Fasisme tumbuh subur dalam kultur feodalistik.  Budaya hamba yang membungkuk kepada majikan (penguasa) secara berlebihan.

Jika kita sebagai masyarakat Indonesia menyadari bahwa persoalan besar penghambat kemajuan bangsa adalah pada diri kita sebagai inlander, maka kita harus  memikirkan solusi atau jalan keluar dari persoalan tersebut dan mengikis habis mental inlander.

Syahrir sudah memikirkan cara untuk keluar dari belenggu feodalisme dan kecendrungan fasisme. Fasisme  yang di sebut Syahrir dengan otoriter misalnya  perilaku membungkam kebebasan berpikir dan berpendapat dengan cara kekerasan baik fisik maupun bully.

Syahrir menganjurkan revolusi sosial untuk mengendalikan feodalisme dan kecendrungan otoriter. Revolusi sosial itu bertujuan untuk membebaskan rakyat dari belenggu feodalisme lama dan dari jebakan-jebakan fasisme yang muncul bersamaan dengan imperialisme-kapitalisme yang tak terkendali (Sjahrir, 1994:11-12). 

Pendapat Syahrir tentang pendidikan yang berorientasi pada cita-cita yang tinggi membentuk budi baru, manusia baru, masyarakat baru (Sjahrir, 1982:240).

📚 Artikel Terkait

Perpustakaan dan Kearsipan Kota Lhokseumawe Bedah Buku Kearifan Lokal

Titik

Serumpun Puisi Heza Hara

Badan Pendidikan Dayah Akan Perbaharui Data Dayah Banda Aceh

Pertanyaan bagaimana membentuk budi manusia, manusia baru dan masyarakat baru dengan mengikis habis mental inlander?.

Salah satu cara adalah dengan pendidikan individu keluarga dalam seluruh siklus kehidupan mereka dengan metode pendampingan. Alasannya  dengan memutus mata rantai hubungan  patron-klien dengan menumbuhkan karakter nation, kesetaraan, keadilan kemandirian, yang di satukan oleh nasionalisme, cinta tanah air tanpa ketergantungan hubungan antara individu dengan organisasi, kelompok, kader dalam partai.

Menghilangkan ketergantungan hubungan antara patron-klien akan bisa menghilangkan karakter membungkuk, menghamba dan ketergantungan.

Pembetukan nation and character building masyarakat Indonesia  dicita-citakan oleh the founding father harus dilakukan melalui pendidikan berkelanjutan dalam seluruh siklus kehidupan manusia dan pendampingan oleh tenaga ahli yang terlepas dari intervensi hubungan birokratis dan hierarki kekuasaan.

Pendidikan nation and character building dengan pembentukan nasionalisme haruslah berdasarkan kemanusian.

Menurut Syahrir nasionalisme tanpa demokrasi akan bersekutu dengan feodalisme yang mengarah fasisme.

Kunci Sosialisme-demokrasi atau sosialisme-kerakyatan adalah kemanusiaan.

Konsep itu sudah saya canangkan dalam program rumah pengasuhan anak dan pendidikan keluarga yang diharapkan dapat dilaksanakan oleh kader perempuan NU dan Muhammadiyah. Kemanusian menurut Syahrir berdasarkan kepada kepercyaaan  pada persamaan, keadilan, kerjasama sesama manusia yang bisa diwujudkan dengan mendorong keterlibatan kelompok civil society seperti ormas muslimat NU, Fatayat NU dan Aisyah dengan konsep filantropi. 

Operasional rumah pengasuhan anak dan penddiikan dijalankan  secara  gotong royong dengan konsep filantropi. Kebiasaan berfilantropi atau berbagi untuk sesama akan mengikis mental materialistis atau kebendaan yang merupakan ciri Inlander .

Ketamakan akan kebendaan dapat menyebakan manusia bertindak otoriter karena ideologi bapak-ibuisme bercirikan petit borjuis dan merupakan perpaduan antara kapitalisme dengan feodalisme jawa.

Ketika manusia membiasakan diri berbagi dengan sesama dan melayani, maka feodalisme yang menganggap sebagai kelompok elitis dan priyayi akan berubah menjadi rasa kemanusian.

Kemanusian menurut Syahrir adalah kepercayaan pada persamaan, keadilan dan kerjasama sesama manusia.

Alasan dari keterlibatan perempuan sebagai garda terdepan pencanangan program rumah pengasuhan anak dan pendidikan keluarga adalah karena sifat dari domestifikasi perempuan sebagai ibu.

Kongres perempuan kedua tahun 1938 mencetuskan perempuan Indonesia sebagai ibu bangsa yang menanamkan nilai nasionalisme di keluarga dan masyarakat. Nasionalisme yang tunduk pada demokrasi harus dilaksanakan berdasarkan kemanusian menurut Syahrir.

Nilai kemanusian adalah dasar dari pembentukan nation and character.

Domestifikasi perempuan bisa berdampak positif jika diarahkan dengan cara yang tepat untuk tujuan ketahanan keluarga Indonesia. Ketahanan keluarga Indonesia adalah pelibatan  peran ibu atau perempuan untuk pembentukan nation and character.

Sebagaimana yang di manusia baru seperti yang dijelaskan Syahrir tentang manusia dengan budi baru, manusia baru dan masyarakat baru. Inilah saatnya kita berpikir untuk memutus mata rantai feodalisme yang membelenggu demokrasi yang bersumber dari karakter dasar inlander yang mengalami amnesia post kolonialisme.

Memutus mata rantai hubungan patron-klien agar fasisme yang bercirikan otoriter, yang tercerminkan dalam kehidupan sosial masyarakat seperti tawuran, kekerasan dalam berbagai bentuk termasuk relasi kuasa, kecendrungan bertindak semau gue selagi berkuasa, termasuk korupsi fantastis dan menyalahgunakan kekuasaan, bisa dikikis dari mental inlander agar terbentuk budi baru, manusia baru, masyarakat baru.

Daftar Pustaka

Suryakusuma, Julia. 2011. Ibuisme Negara Konstruksi Sosial Keperempuanan Orde Baru. Jakarta : Komunitas Bambu. 

Syahrir, Sutan. 1994. Perjuangan Kita. Jakarta : Pusat Dokumentasi Guntur 49. 

Syahrir, Sutan. 1982. Sosialisme Indonesia Pembangunan kumpulan Sutan Syahrir. Jakarta : Lembaga Penunjang Pembangunan Nasional (LEPPENAS). 

Biodata :

Novita Sari Yahya kelahiran Padang, 1 November 1972.

Novita adalah ibu dari dua orang putra dan satu putri.

Kegiatan sehari-hari sebagai penulis, peneliti, model platform digital international dan National Director Indonesia.

Kegiatan dapat dilihat pada akun instagram @novitasari.yahya

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Cahaya Kecil Bernama Apis

Luka yang Menjadi Cahaya

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00