• Latest
Rekam Jejak Pidie - EAC7D6B4 3625 41C5 AB0C 790DA72C7BBC | Jalan-jalan | Potret Online

Rekam Jejak Pidie

Mei 12, 2022
9fdb3c1c-1879-4f8c-9aa8-02113678bceb

Warisan Musik Aceh dari Gampong Padang Manggeng

April 21, 2026
Ilustrasi siluet pasangan dengan hati retak melambangkan cemburu, konflik emosional, dan hubungan yang rapuh

Cemburu Membunuh Perempuan

April 21, 2026
Rekam Jejak Pidie - 1001348646_11zon | Jalan-jalan | Potret Online

Kisah Perempuan – Lubna dari Córdoba

April 21, 2026
Rekam Jejak Pidie - 1001353319_11zon | Jalan-jalan | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

April 21, 2026
IMG_0878

Perempuan di Titik Klimaks

April 21, 2026
Rekam Jejak Pidie - 1001361361_11zon | Jalan-jalan | Potret Online

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

April 21, 2026
d2a5b58f-c424-41eb-91dc-d0a057017eda

Menguak Kenangan Orkes Mekar Melati Manggeng dan Para Musisi Muda

April 21, 2026
Selasa, April 21, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Rekam Jejak Pidie

Redaksi by Redaksi
Mei 12, 2022
in Jalan-jalan
Reading Time: 4 mins read
0
Rekam Jejak Pidie - EAC7D6B4 3625 41C5 AB0C 790DA72C7BBC | Jalan-jalan | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Cerpen  Mayherlina

Di Bukit Tinggi, Sumatera Barat

Baca Juga
  • HABA Si PATok
  • Rapat TPID: Lima Komoditi Pengaruhi Inflasi Bulan November

 “Ingat Minang, jika aku berangkat ke Mekkah, aku akan membelikan kau kitab gundul agar kau kelak bisa belajar di pesantren.

“Tenang, Angku. Doakan Minang bisa mewujudkan cita-cita, Angku.”

Baca Juga
  • Dekranasda Kota Bina Pengrajin Untuk Tingkatkan Kualitas Kerajinan
  • Pengentasan Permukiman Kumuh Melalui Program KOTAKU

Angku menggandeng tangan Minang berjalan menuju rumah. Angku sangat sayang kepada Minang karena ibu Minang anak perempuan Angku yang paling rajin. Ibu Minang selalu menemani Angku berjualan makanan kecil depan stasiun. Angku menyiapkan celengan dari bambu untuk ke tanah suci. Sebenarnya saudara ibu Minang yang lain sering iri tetapi ibu Minang tetap baik kepada saudaranya karena Angku menasihati untuk selalu akur.

 Saudara ibu Minang akhirnya sadar karena dari enam bersaudara, ekonomi ibu paling mapan. Ibu Minang bekerja sebagai pegawai, ayah bertani sekaligus berdagang. Ayah Minang banyak belajar ilmu dagang dari Angku, kakek Minang. Begitu juga dengan Minang. Setiap perkataan Angku selalu dilaksanakannya. Minang masuk pesantren di pelosok kabupaten. Usulan dari ayah Minang karena tamatannya ada yang sekolah ke Mesir.

Baca Juga
  • MEMBACA CATATAN KEBENCIAN
  • Mengenal Kampung Pembuat Senjata Ilegal, Darra Adam Khel

Angku tidak jadi memecahkan celengannya untuk berangkat haji. Ada bekas maka buah Angku datang dari tanah seberang. Niatnya akan membawa Angku dan Amai pergi haji. Alhamdulillah usaha dagang makannan asli Sumatera Barat berkembang pesat sampai ke negeri Jiran. Dulu, anak buah Angku membantu membakar tempurung untuk arang sate. Angku kasihan akan nasib Rustam,maka diizinkan Rustam tinggal di rumah.

Angku menemui orang tua Rustam, rupanya anak emak Rustam susun paku. Bapaknya bekerja sebagai tukang angkat barang di pasar. Angku berjanji menyekolahkan Rustam semampu Angku. Rustam sangat rajin bekerja. Sebelum berangkat sekolah sudah disiapkannya bumbu sate. Siang, Rustam membawa ketupat rebus ke kedai kopi di sekitar pasar atau orang yang membeli minta diantar ke rumah.

Angku bahagia. Sepulang haji, Angku mengumpulkan anak-anaknya. Angku ingin tinggal di Aceh. Rindu masa kecil bersama kakaknya yang tinggal satu-satunya. Kebetulan saudara ibu Minang nomor empat tinggal di Tangse, Aceh. Usaha dagang Angku dilanjutkan anak nomor lima bersama suaminya. Angku sudah membagi beberapa rumah kontrakan untuk anak-anaknya satu seorang. Angku tidak ingin sepeninggal dirinya semua memperebutkan harta.  

Angku berpesan rajin-rajin belajar di pesantren. Bila ada waktu, Angku pulang atau anak-anak datang ke Aceh. Angku ingin menghabiskan hidupnya di Aceh serambi Mekah. Angku dengan kakaknya seperti saudara kembar. Mereka berdua saja laki-laki sedang perempuan lima orang. Minang hampir setiap Minggu mengirim kartu pos. Ada saja cerita Minang yang terkadang lucu membuat Angku tertawa. Kakak Engku ikut membaca juga.

Minang sering ke Aceh sekadar bertemu Angku atau liburan bersama keluarga. Setiap datang, Angku menyuruh Minang membaca kitab gundul. Angku ingin tahu seberapa kemampuan memahami tidak sekadar membaca saja. Awalnya Minang malu didengar kakak Angku. Lama-lama jadi tidak masalah. Mereka sering terlibat adu debat. Angku meminta Minang kuliah di Syiah Kuala Banda Aceh, universitas ternama di Aceh.

Minang kuliah selama tiga setengah tahun dengan peringkat Summa cumlaude. Minang melanjutkan kuliah S2 di pulau Jawa. Tahun kedua, Angku meninggal dunia. Angku dimakamkan di Sigli tidak jauh dari pantainya. Adik ibu membeli tanah di Sigli dan membuat rumah di sana. Minang sangat sedih. Minang seperti kehilangan pegangan. Minang sering dinasehati untuk mengikhlaskan kepergian Angku. Angku butuh doa bukan ratapan dan air mata.

Kuburan Angku diberi rumah gadang Minangkabau yang terbuat dari kawat dicat warna merah ciri khas orang kabupaten Agam. Akhirnya Minang wisuda dengan gelar Magister Pendidikan Bahasa Arab. Minang berencana berziarah ke makam Angku. Minang akan berangkat bersama saudara sepupu. Mereka merencanakan tahun baru di Aceh. Minggu pagi, beberapa hari sebelum berangkat, tepat pukul 07.45 tsunami melanda Aceh. Semua panik. Komunikasi terputus, listrik padam, dan gempa datang bersusulan. Kiamat kecil meluluhlantakan Aceh. Keluarga besar Minang dilanda kecemasan. Buyar sudah rencana ziarah. Keesokan harinya adik ibu mengabari mereka berada di Medan.

Ibu mengusulkan untuk pulang ke Padang. Adik ibu akan pulang kalau anak nomor duanya datang dari Binjai. Setahun berlalu. Adik ibu kembali ke Aceh, mereka tinggal di kota Banda Aceh. Keluarga Minang belum ada yang berani ke Sigli. Terlalu pedih untuk menginjakkan kaki di Sigli. Doa tiada henti memunajat kepada Allah SWT. Ibu selalu mengingatkan, harta bisa dicari, nyawa selamat lebih berarti mengalahkan seisi dunia.

Minang bertekad dirinya harus sampai ke Sigli pengobat rindu di hati. Siapa tahu masih bisa dikenali bekas pusara Engku. Saudara ibu Minang menentang keinginan Minang saat Minang mengutarakan niatnya ke Sigli, Aceh. Minang terdiam membisu. Pendapatnya patah seketika tanpa pembelaan. Minang berjalan ke kamar. Dibukanya album cokelat tua. Satu persatu air matanya berlinang. Miang rindu Engku …

Sejak itu Minang tidak pernah mengungkit-ungkit pergi ke Aceh. Minang sering berselancar di dunia maya sekadar mengetahui keadaan Aceh setelah satu setengah tahun terjadinya peristiwa tsunami. Minang sangat senang dengan gambar liputan orang tentang Aceh. Ini mengobati rindu yang terpendam.(*)

 

***Mayherlina, lahir di Bukittinggi, mengajar agama Islam di madrasah, SMP, dan pendidikan Al-Qur’an, berbagi kebaikan dimana saja dan kapan saja.

 

 

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post

Mi Jawa dan Serba Jamur di Yogya

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com