Dengarkan Artikel
Oleh Agung Marsudi
“Pejabat merayakan hari kemerdekaan dengan anggaran negara, rakyat merayakan dengan iuran bersama”
RINDU itu seperti menunggu secangkir kopi yang kausajikan dengan tanda-tanda dan cinta, apalagi bunga-bunga liberika putih bermekaran harum wangi sebelum agustusan.
Ketika padi mulai menguning, petani berduyun-duyun menggendong harapan. Anak-anak berjanji pulang, hanya untuk ikut lomba panjat pinang.
Si bungsu sudah dewasa, sebentar lagi mengadu nasib di Jakarta, kota yang tak pernah tidur, meski selalu disergap rasa kantuk.
Antara ibu dan kota, masih ada istana yang tak mungkin ditukar guling dengan Jinping. Meski semua tahu, Indonesia tak akan pernah merdeka, selama Kedubes Amerika masih di Jalan Merdeka.
Indonesia itu berada di tengah antara Cina dan Amerika. Cina, Indonesia, Amerika, disingkat C.I.A.
📚 Artikel Terkait
Oh, harta, tahta, wanita
“Merdeka! Merdeka!”
Kepalanya ngaku nasionalis, tapi leher ke perut kapitalis, bawah perut maunya liberalis
Di negeri yang dikenal gemah ripah loh jinawi, ada partai ngaku demokrasi, tapi ketuanya gak ganti-ganti.
Jangan iri, hanya di negeri ini, ada ketua partai sekaligus merangkap sekjen. (Kok, gak merangkap bendahara sekalian).
Selamat datang partai gajah,
Di negeri yang dikenal ramah, tapi Pancasila kalah. Ingat, banteng tak biasa musyawarah.
Oh, negeri yang kepada rakyatnya “negeli”
abolisi dan amnesti adalah politik prakondisi tanpa oposisi, penggalangan jelang dua puluh dua sembilan
Di negeri ini, demokrasi adalah orang-orang yang dihitung, tidak “ditimbang”. Siapa yang banyak dia yang menang. Uang menusuk kasih sayang. Sayang, saya tak fasih dan gemetar meneriakkan, “Hidup, Jokowi!”
“Merayakan kemerdekaan daripada yang mana daripada siapa nyang merdeka”
“Merdeka! Merdeka!”
“Hidup Danantara!”
Kata Chomsky, “Prinsip dasar negara kapitalisme modern adalah biaya dan resiko di-sosialis-kan seluas mungkin, sementara laba diprivatisasi”
Solo, 10 Agustus 2025
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






