Dengarkan Artikel
Oleh Mustiar Ar
Sebuah karya sastra selalu membawa beban ganda: sebagai cermin bagi masyarakat dan sebagai potret batin sang penulis. Dalam bentuknya yang terbaik, sastra adalah jendela tempat dunia melihat ke dalam jiwa manusia, sekaligus kaca tempat manusia melihat kekurangan dirinya. Namun, apa jadinya bila kaca itu retak, atau bahkan buram sejak awal?
Bila karya sastra tumbuh tanpa kritik, ia seperti rumah megah yang dibangun tanpa pondasi. Dari kejauhan tampak gagah, tapi sesungguhnya rapuh menunggu waktu untuk roboh. Keindahannya menipu mata, dan daya tahannya rapuh di hadapan guncangan kecil. Banyak penulis yang percaya bahwa karya mereka cukup kokoh berdiri di atas pujian, padahal tanpa masukan yang jujur, setiap kata di dalamnya bisa menjadi debu yang tak meninggalkan jejak.
KRITIK BUKAN PALU GODAM, MELAINKAN PENGUKUR PRESISI
Banyak yang mengira kritik hanyalah serangan, sebuah palu besar yang menghantam karya sampai hancur berkeping-keping. Padahal, kritik sejati ibarat penggaris arsitek—memastikan garis lurus tetap lurus, sudut tepat pada tempatnya, dan bentuk sesuai dengan tujuan. Kritik yang tulus tidak pernah lahir dari niat menjatuhkan, melainkan dari kepedulian terhadap mutu.
Namun, kenyataan di lapangan sering kali berlawanan. Kritik yang hadir justru lahir dari lingkaran kecil—teman dekat, sesama komunitas, atau orang-orang yang tak ingin suasana menjadi “tidak enak”. Alhasil, kritik itu hanyalah pujian yang dipoles agar terdengar sedikit “analitis”. Lebih mirip formalitas belaka ketimbang cermin yang memantulkan wajah sebenarnya.
YANG TERPERANGKAP DALAM PUJIAN
Ada penulis yang hidupnya dikelilingi oleh orang-orang yang tak pernah berani mengucap “karya ini lemah di sini dan di sini.” Mereka hanya memberi senyum, tepukan di bahu, dan kalimat yang aman: “Bagus sekali!” Padahal, tanpa catatan yang jujur, bagaimana mungkin seorang penulis bisa berkembang?
Penulis semacam ini ibarat raja yang setiap hari bercermin pada kaca retak. Apa yang dilihatnya adalah bayangan indah yang menipu, bukan kebenaran. Mereka berjalan di jalan panjang sastra, tapi setiap langkahnya berada di atas tanah yang keropos. Satu hari nanti, langkah itu akan terperosok.
Tanpa Kritik, Sastra Menjadi Artefak Narsistik
📚 Artikel Terkait
Sastra yang bebas dari kritik tak ubahnya seperti perhiasan yang dibuat untuk dipajang di etalase sendiri. Ia bukanlah dialog dengan pembaca, melainkan monolog yang hanya menyanjung penciptanya. Tentu, semua orang berhak mencintai karyanya sendiri, tetapi cinta tanpa kejujuran hanya melahirkan kebanggaan kosong.
Kritik yang sehat memberi napas panjang pada sebuah karya. Ia memperkuat jalinan kata, memperjelas makna, dan mengasah ketajaman pesan. Sebaliknya, pujian berlebihan adalah racun halus yang mempercepat kematian kreativitas.
Pembaca Sejati Adalah Penilai yang Berani
Kita sering menganggap pembaca hanyalah penikmat pasif. Padahal, pembaca sejati adalah mereka yang berani memberi catatan, menunjukkan titik lemah, dan mempertanyakan maksud. Seorang pembaca yang kritis ibarat dokter yang menemukan gejala penyakit sebelum menjadi kronis. Tanpa mereka, sastra hanya akan menjadi hiasan dinding: indah, tapi tanpa daya hidup.
Sayangnya, di negeri ini, budaya kritik sering diartikan sebagai permusuhan. Mengkritik berarti “tidak mendukung” atau “tidak menghargai”. Padahal, kritik adalah bentuk penghargaan tertinggi—sebab ia lahir dari kesediaan untuk membaca, memahami, dan peduli.
Membuka Jendela Selebar-lebarnya
Sudah saatnya penulis, terutama yang bercita-cita meninggalkan jejak panjang, membuka jendela selebar-lebarnya. Biarkan angin kritik masuk, meski dingin menusuk. Biarkan suara-suara yang tidak nyaman terdengar, sebab dari situlah ketangguhan dibentuk. Karya sastra yang baik tidak akan runtuh hanya karena kritik, justru akan semakin kokoh karena telah diuji.
Jika tidak, kita akan terus hidup dalam lingkaran karya yang kita puji sendiri. Kita mengaguminya di ruang kecil yang tertutup, sampai suatu hari sadar bahwa dunia luar bahkan tidak tahu karya itu pernah ada.
Sastra tanpa kritik adalah sastra yang lupa berkaca. Ia mungkin terasa nyaman bagi penulisnya, tapi tidak akan pernah menjadi warisan yang layak dibaca generasi berikutnya. Kritik adalah teman seperjalanan yang jujur—terkadang menyebalkan, tapi selalu menyelamatkan. Tanpa itu, karya hanyalah bangunan rapuh yang indah dipandang, namun mudah roboh diterpa angin pertama.
Maka, bagi setiap penulis yang masih ingin tumbuh: jangan takut pada kritik. Tak ada pohon besar yang tumbuh di bawah naungan pujian semata.
Pasie karam,09.08.2025
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





