POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Indonesia Bukan Negara

Don ZakiyamaniOleh Don Zakiyamani
August 4, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Don Zakiyamani

Malam itu, terlintas di beranda media sosial rencana pemerintah menyerahkan data rakyat kepada Amerika Serikat. Sambil melirik kopi, saya mencoba mendalami rencana tersebut. Sebuah rencana yang, menurut saya, mendiskualifikasi syarat utama menjadi sebuah negara: kedaulatan.

Syarat utama berdirinya negara bukanlah pengakuan dari negara lain. Bukan pula sekadar memiliki wilayah dan penduduk, melainkan kedaulatan. Penyerahan data itu ibarat ketua RT menyerahkan data warganya kepada pak lurah. Prabowo seolah menjadi ketua RT bagi lurah (Donald Trump).

Dengan demikian, Indonesia bukanlah negara secara hakikat. Indonesia hanya merupakan entitas negara bagian dari negara induk: Amerika Serikat. Meski perenungan ini tentu dapat dibantah, saya mengajak kita semua untuk mendekonstruksi ulang makna dari “negara”.

Negara bukan hanya soal syarat administratif. Dalam konstruksi sosial, negara yang dijalankan oleh sebuah pemerintahan memiliki kewajiban melindungi warga negara dalam segala hal dan bidang. Namun yang terjadi justru sebaliknya—pemerintahan Prabowo-Gibran seolah melakukan perdagangan data rakyat.

Sangat disayangkan, seorang mantan militer yang didoktrin untuk membela negara justru melakukan sebaliknya: menjual negara demi alasan-alasan yang tidak logis. Kini, Indonesia bukan lagi negara; sudah sejajar dengan Hong Kong—sebuah wilayah sub-negara.

Bahkan teori hegemoni Gramsci maupun teori soft power Joseph Nye tidak pernah memasukkan kedaulatan yang diserahkan secara legal sebagai bagian dari konsep dominasi.

Saat ini, Indonesia bahkan lebih mirip sebuah korporasi swasta yang beroperasi di Asia Tenggara. Bahkan korporasi seperti Apple tidak akan menyerahkan data pelanggannya, kecuali atas dasar kasus hukum yang diputuskan melalui proses pengadilan yang ketat. Sementara pemerintah Indonesia—ternyata—berada di bawah standar etika sebuah korporasi. Ini berarti, secara hakikat, Indonesia bukanlah negara, melainkan BUMA (Badan Usaha Milik Amerika Serikat).

📚 Artikel Terkait

Kuliah Siap,Wirausaha Dapat

Merindukanmu

Pulang Mudik Yang Terhimpit Kondisi Ekonomi Yang Sulit

Indonesia Perlukan Kedaulatan Pikiran di Tengah Gempuran Algoritma Global

Sebagai BUMA, Indonesia berkewajiban menyerahkan data dan mengikuti arahan pemerintah Amerika Serikat dalam berbagai bidang.

Kita kembali ingat perkataan Francis Bacon: “Knowledge is power”—pengetahuan adalah kekuasaan. Ini seperti permintaan Bacon: berikan data, dan kami akan mudah melakukan langkah-langkah strategis dan taktis. Amerika Serikat telah memiliki Indonesia sepenuhnya, tanpa harus menggerakkan tank dan pesawat. Bahkan bisa jadi, semua percakapan elit Indonesia telah diketahui—termasuk percakapan kita.

Dengan kegagalan negara melindungi rakyat, maka rakyat tidak lagi wajib tunduk. Lalu, solusi apa yang saya tawarkan?

Ada dua solusi: satu untuk negara, satu lagi untuk warga negara.

Jika saat ini infrastruktur internet kita masih bergantung pada jaringan global, sudah seharusnya negara memiliki jaringan internet sendiri. Merujuk pada Undang-Undang Kedaulatan Internet yang disahkan pada 2019, pemerintah memiliki dasar hukum untuk memutus jaringan internet luar negeri bila dianggap sebagai ancaman. Kita tahu, Rusia memiliki Runet, dan Tiongkok punya Great Firewall. Mereka sudah benar-benar berdaulat secara digital.

Kita harus mulai menolak sistem digitalisasi data pribadi seperti KTP elektronik, kartu kesehatan digital, dan lain sebagainya, sebelum pemerintah memiliki infrastruktur digital yang mandiri dan aman. Kita berhak bertanya: atas dasar legitimasi apa pemerintah menjual data kita kepada Amerika Serikat?

Apalagi, konstitusi dengan jelas menyatakan bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat, bukan di tangan pemerintah, bukan pula di tangan Prabowo—apalagi Gibran.

Kita pun berhak menolak menjalankan simbol-simbol negara—termasuk pengibaran Merah Putih—karena negara telah gagal melindungi warga negaranya. Perlawanan harus dimulai, entah melalui media sosial, website, tulisan, gambar, maupun video.

Indonesia bukan Hong Kong—sub-Tiongkok—dan bukan pula korporasi dari negara mana pun. Namun bila Indonesia tetap seperti ini, maka kita berhak berkata dengan lantang:  Indonesia bukan negara! Setuju?

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Don Zakiyamani

Don Zakiyamani

Penikmat kopi tanpa gula

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Ketika Allah Tidak Lagi Menegur dengan Suara

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00