POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Peringatan Hari Anak Nasional: Antara Kekhawatiran, Mimpi, dan Harapan

Siti HajarOleh Siti Hajar
July 24, 2025
Peringatan Hari Anak Nasional: Antara Kekhawatiran, Mimpi, dan Harapan
🔊

Dengarkan Artikel


Oleh: Siti Hajar

Setiap tanggal 23 Juli, Indonesia memperingati Hari Anak Nasional sebagai bentuk kepedulian terhadap perlindungan dan pemenuhan hak anak. Momen ini bukan sekadar seremonial tahunan, tetapi pengingat bahwa anak-anak adalah amanah sekaligus investasi masa depan bangsa. Mereka tumbuh bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk negeri ini. Di Hari Anak Nasional, negara, orang tua, guru, dan masyarakat diajak untuk merenung: sudahkah kita hadir sebagai pelindung dan pengarah bagi masa depan anak-anak kita?

Namun, menjadi anak di era digital seperti sekarang sangatlah berbeda dibandingkan 10 atau 20 tahun yang lalu. Dulu, anak-anak bermain di lapangan terbuka, mengenal dunia lewat alam, buku cerita bergambar, dan pelukan orang tua. Kini, banyak dari mereka mengenal dunia lewat layar—telepon pintar, video pendek, media sosial, dan game yang menyita waktu dan atensi.

Di satu sisi, teknologi memberi peluang belajar yang takt erbatas. Di sisi lain, ia membawa gelombang ancaman yang tersembunyi: kecanduan layar, cyberbullying, paparan konten tak layak, hingga kesepian sosial meski berada di keramaian.

Kekhawatiran: Dunia yang Terlalu Cepat dan Terlalu Terbuka

Anak-anak kini tumbuh di tengah dunia yang serba cepat, namun terlalu terbuka. Di media sosial, mereka bisa dengan mudah mengakses informasi apa pun, termasuk yang tidak sesuai usia. Mereka juga rentan menjadi target kejahatan digital—perundungan, predator seksual, hingga eksploitasi ekonomi sebagai content creator di usia dini demi keuntungan.

Yang lebih mencemaskan, di balik layar ponsel mereka setiap hari berseliweran gaya hidup hedonis yang dipamerkan oleh artis, selebgram, dan influencer. Anak-anak disuguhi pameran kemewahan: liburan ke luar negeri, baju mahal, gadget terbaru, kehidupan yang tampak mudah dan serba instan. Tanpa disadari, standar kebahagiaan mereka pun bergeser—bukan lagi tentang rasa cukup, tetapi tentang apa yang bisa dipamerkan.

Fenomena ini turut melahirkan kasus-kasus yang mengiris hati. Ada anak yang tega membunuh orang tuanya karena tak dibelikan motor, anak yang membakar rumah karena dilarang bermain game, bahkan remaja yang memaksa orang tuanya menggadaikan rumah demi bisa liburan ke Bali bersama teman-temannya. Semua ini tumbuh dari akumulasi paparan dunia maya yang membelokkan nilai dan merusak konsep kebahagiaan sejati.

Sebagai orang tua, kekhawatiran seperti ini sering tak sempat terucap. Kita melihat perubahan perilaku anak-anak, tapi tak tahu harus mulai dari mana. Apakah cukup dengan melarang? Atau menasihati saja? Dunia yang mereka hadapi jauh lebih kompleks dibanding masa kecil kita dulu.

Di sisi lain, daerah terpencil menghadapi persoalan berbeda: akses pendidikan yang belum merata, gizi buruk, dan anak-anak yang masih menjadi korban pekerja anak atau kekerasan domestik. Hari Anak Nasional seharusnya menjadi momentum untuk membunyikan lonceng perhatian terhadap ketimpangan dan risiko-risiko ini.

Pertanyaan mendasar pun menggema: dunia seperti apa yang telah kita izinkan masuk ke kehidupan mereka? Sudahkah kita menjadi pelindung pertama, atau malah ikut memacu mereka mengejar hal-hal yang dangkal? 
Apakah mereka masih merasa cukup hanya dengan kita—orang tuanya—yang hadir utuh dan penuh kasih?

📚 Artikel Terkait

Kreativitas Tidak Bergantung Pada Teknologi: Penulis Akan Tetap Menulis Dengan Atau Tanpa AI

Erril Telah Pulang

Meningkatkan Minat Baca Siswa di SMPN 1 Seunagan Menggunakan E Mading

BENGKEL OPINI RAKyat

Mimpi: Anak Indonesia yang Tangguh, Kreatif, dan Berbudi

Di tengah kegelisahan itu, mimpi tentang anak-anak Indonesia yang tumbuh tangguh, kreatif, dan berbudi luhur tetap menyala. Kita membayangkan generasi yang bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi juga mampu berpikir kritis, memiliki empati, dan siap beradaptasi dengan dunia yang terus berubah.

Semua orang tua tentu berharap anaknya mampu mencapai apa yang dicita-citakan—hidup mandiri, mudah, dan bahagia dengan jalannya masing-masing. Harapan sederhana seperti melihat anak tersenyum karena tahu arah hidupnya, atau duduk menyelesaikan tugas sekolah dengan tenang, adalah cita-citayang hangat dalam hati setiap orang tua.

Namun mimpi itu sering kali berbenturan dengan realitas. Anak-anak kita begitu dekat dengan gadget. Sebelum sekolah sudah bermain game, pulang sekolah langsung meminta ponsel. Waktu mereka habis dalam dunia yang mengasingkan mereka dar ilingkungan dan dirinya sendiri.

Lebih mengkhawatirkan lagi, kemampuan dasar seperti membaca, menulis, dan berhitung pun ikut terabaikan. Di media sosial, kita sering melihat keluhan: anak kelas lima yang belum bisa membaca lancar, anak yang tak hafal perkalian, bahkan tak tahu nama ibu kota negara sendiri. Bukan karena mereka tak mampu, tetapi karena dunia digital mengalihkan perhatian mereka dari fondasi-fondasi penting itu.

Mimpi-mimpi besar itu kini harus bersaing dengan notifikasi, algoritma, dan konten yang terlalu cepat. Kita tak kekurangan cita-cita, tapi kekurangan waktu berkualitas untuk menanamkan nilai. Kita tak kekurangan anak-anak yang berpotensi, tapi mulai kehilangan koneksi yang tulus—obrolan sebelum tidur, pelukan hangat, atau tepuk tangan sederhana saat mereka berhasil.

Harapan: Menjadi Generasi yang Tak Lelah Mengasuh dan Melindungi

Meski tantangan begitu nyata, harapan tetap ada. Dan harapan itu tumbuh dari kesadaran bahwa kita semua punya andil dalam menciptakan dunia yang lebih ramah untuk anak-anak. Orang tua bisa mulai dengan hadir lebih banyak, bukan hanya secara fisik, tetapi juga emosional. Bukan sekadar memberi gadget agar anak tenang, tapi memberi waktu, perhatian, dan kehangatan.

Kita juga berharap sekolah menjadi ruang yang mendukung tumbuh kembang anak—bukan hanya soal nilai akademik, tapijuga tempat yang aman dan terbuka. Pemerintah pun diharapkan lebih serius menjamin pemenuhan hak-hak anak—dari akses pendidikan, kesehatan, hingga perlindungan dari kekerasan dan eksploitasi digital.

Bagaimanapun keadaannya, orang tua tentu tidak pernah putus harap. Meski sering letih menghadapi dinamika zaman, kasih sayang dan tanggung jawab akan tetap menyala. Mereka akan terus memberikan yang terbaik—dalam bentuk perhatian, keteladanan, bahkan doa-doa diam yang menyertai langkah anak-anak setiap hari.

Pendidikan tetaplah kunci. Ingatkan mereka bahwa belajar bukan hanya kewajiban, tapi bekal untuk masa depan. Pendidikan bukan hanya tentang nilai di atas kertas, tetapi juga cara berpikir, bersikap, dan membangun masa depan dengan tangguh.

Sebagai guru, tetaplah menjadi pelita. Didik mereka dengan ketegasan yang hangat, bentuk karakter mereka agar tidak rapuh di tengah tekanan zaman. Jadikan sekolah bukan hanya tempat menuntut capaian, tapi ruang yang merawat jiwa anak-anak.

Dan untuk para guru ngaji, ajarkan anak-anak kita untuk tidak sekadar mengenal huruf, tapi memahami makna Al-Qur’an. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya—kejujuran, kesabaran, kasih sayang, tanggung jawab, dan tawakal—itulah pedoman hidup sejati di dunia dan akhirat.

Akhirnya, dengan momentum Hari Anak Nasional ini, semoga semua kita, apapun profesinya, tetaplah berbuat dan berdoa yang terbaik untuk putra-putri kita—penerus harapan bangsa. Kita mungkin tak bisa memberi dunia yang sempurna untuk mereka, tapi kita bisa membekali mereka dengan hati yang kuat, pikiran yang terbuka, dan nilai-nilai yang benar. Karena sejatinya, masa depan Indonesia ada dalam genggaman anak-anak hari ini.

Maka, mari kita rawat mereka dengan cinta, didik mereka dengan harapan, dan temani mereka dengan doa yang tidakpernah putus—tidak hanya hari ini, tapi setiap hari. []

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 138x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 98x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Siti Hajar

Siti Hajar

Siti Hajar adalah seorang perempuan lahir di Sigli pada 17 Desember. Saat ini tinggal di Banda Aceh dan bekerja sebagai tenaga kependidikan di Fakultas Pertanian USK. Menggemari dunia literasi karena baginya menulis adalah terapi dan cara berbagi pengalaman. Beberapa buku yang sudah cetak, di antaranya kumpulan cerpen, “Kisah Gampong Meurandeh” Novel, Sophia dan Ahmadi, Patok Penghalang Cinta, Beberapa novel anak, di antaranya The Spirit of Zahra, Mencari Medali yang Hilang, Petualangan Hana dan Hani. Ophila si Care Taker. Dan buku Non Fiksi, Empati Dalam Dunia Kerja (Bagaimana Menjadi Bos dan karyawan yang Elegan) Ingin berkomunikasi lebih lanjut bisa menghubungi nomor WhatsApp 085260512648. Email: sthajarkembar@gmail.com

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Dua Roda yang Merdeka di Tengah Kemacetan

Dua Roda yang Merdeka di Tengah Kemacetan

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00