POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Pengadilan Tom Lembong, Antara Tegaknya Hukum, Nurani dan Kebijaksanaan Bangsa

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
July 20, 2025
Beginilah Cara Menghukum Tom Lembong
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Dayan Abdurrahman

Ketika nama Tom Lembong—seorang teknokrat yang selama ini dikenal bersih, cerdas, dan peduli pada pembenahan sistem ekonomi negeri—disebut di ruang sidang pengadilan, publik Indonesia terbelah. Sebagian bertanya-tanya: apakah ini ujian wajar dalam perjalanan hukum yang menuntut akuntabilitas semua pejabat, ataukah sebuah ironi dari sistem yang terkadang lebih gemar mencari sosok untuk dipersalahkan ketimbang menggali kebenaran hakiki?

Kasus dugaan pelanggaran yang terkait dengan kebijakan Lembong semasa menjabat menteri bukan sekadar kisah hukum. Ia adalah potret tarik-menarik antara aturan, nurani, politik, dan kebijaksanaan bangsa. Di sinilah kita semua, sebagai rakyat, berhak bertanya: apakah keadilan benar-benar sedang ditegakkan, atau hanya dipentaskan?


Hukum dan Nurani: Apakah Keduanya Bertemu?

Dalam kitab-kitab hukum, kita diajarkan bahwa keadilan adalah memberikan kepada setiap orang apa yang menjadi haknya. Tetapi dalam kitab hati nurani manusia, keadilan adalah ketika yang benar dilindungi meski ia lemah, dan yang salah dihukum meski ia kuat. Dua konsep ini seharusnya berjalan beriringan, tetapi dalam praktik, keduanya sering berpisah di persimpangan.

Kasus Tom Lembong menjadi ujian, apakah hukum kita sekadar menuruti teks, ataukah berani menggapai ruh keadilan. Apakah hakim dan jaksa berani menatap kebenaran dengan jujur, meski di luar sana ada badai opini dan tekanan politik? Ataukah kita akan kembali menyaksikan drama klasik hukum Indonesia, di mana prosedur dijunjung tinggi tetapi nurani tercecer di pinggir jalan?


Reputasi, Kebijakan, dan Jejak Waktu

Lembong bukan malaikat; ia manusia. Sebagai menteri, ia mengambil kebijakan yang mungkin tidak sempurna, bahkan menimbulkan kontroversi. Tetapi apakah semua kebijakan yang diperdebatkan itu adalah kejahatan? Di sinilah letak perbedaan penting antara kesalahan administratif dan penyalahgunaan kekuasaan.

Banyak kebijakan publik lahir dari kompromi, tekanan situasi, atau kebutuhan mendesak. Tak jarang kebijakan yang dimaksudkan untuk kebaikan justru menimbulkan luka pada segelintir pihak. Namun, menjadikan itu dasar pidana tanpa bukti adanya niat jahat atau keuntungan pribadi bisa menjadi preseden berbahaya. Pejabat akan takut mengambil keputusan berani; mereka akan lebih suka diam, menunggu, atau bermain aman. Bangsa ini akan kehilangan keberanian untuk maju.


Religi dan Kejujuran dalam Mengadili

Sebagai bangsa yang ber-Tuhan, kita tidak bisa menutup mata bahwa penegakan hukum tidak hanya soal pasal-pasal. Ada dimensi moral dan religius yang seharusnya menuntun hakim, jaksa, dan semua pihak. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman: “Janganlah kebencian suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa” (QS Al-Ma’idah: 8).

Ayat ini menegur siapa saja yang memegang palu atau pena hukum: jangan biarkan tekanan politik, kebencian, atau kepentingan membutakan mata terhadap kebenaran. Keputusan hakim bukan hanya laporan di arsip negara, tetapi akan ditimbang pula di hadapan Tuhan.

📚 Artikel Terkait

Terhenti di Sebuah Persimpangan

Pendataan Keluarga Tahun 2021 Diperpanjang Hingga 21 Juni

Kunci Meraih Masa Depan Cerah

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH


Tuntutan Jasa dan Logika Keadilan

Di tengah persidangan, mencuat pula tuntutan kompensasi atau “tuntutan jasa” dari pihak-pihak yang merasa dirugikan oleh kebijakan Lembong. Pertanyaannya: apakah wajar seorang pejabat publik dimintai pertanggungjawaban pribadi atas kebijakan kolektif yang lahir dari sidang kabinet?

Secara hukum, kompensasi layak diberikan hanya jika ada kerugian nyata yang terbukti dan ada bukti bahwa pejabat bertindak dengan itikad buruk. Jika tidak, kita sedang membuka pintu bagi praktik “kriminalisasi kebijakan.” Ini akan menciptakan ketakutan sistemik, di mana setiap keputusan strategis bisa menjadi jerat hukum di masa depan.

Bangsa ini tidak boleh mengajar pejabatnya untuk bermental birokrat penakut. Kita butuh pemimpin yang berani mengambil langkah, bukan hanya pemimpin yang pandai menghindari risiko.


Putusan Hakim: Cermin Rasa Keadilan atau Cermin Kepentingan?

Putusan dalam kasus ini akan menjadi cermin bagi bangsa: apakah kita benar-benar hidup di negara hukum, atau masih di negara di mana hukum tunduk pada kepentingan?

Jika hakim menjatuhkan putusan berdasarkan bukti dan nurani, publik mungkin bisa menerima meski hasilnya tidak sesuai ekspektasi. Tetapi jika putusan terlihat sebagai bagian dari permainan politik atau ekonomi, luka kepercayaan rakyat terhadap pengadilan akan semakin dalam.

Sejarah mencatat, keadilan formal sering tidak sama dengan keadilan substantif. Banyak putusan yang sah secara hukum tetapi mencederai hati masyarakat. Dan setiap kali itu terjadi, satu demi satu bata kepercayaan publik pada hukum runtuh.


Kebudayaan Hukum Kita: Mencari Jalan Tengah

Sebagai pemerhati hukum sekaligus kebudayaan, saya melihat kasus ini sebagai refleksi dari krisis budaya hukum kita. Hukum sering dipandang bukan sebagai jalan kebenaran, tetapi sebagai arena perebutan kuasa. Masyarakat pun cenderung sinis: pengadilan dianggap tempat kuat menundukkan lemah, bukan tempat mencari keadilan sejati.

Di sisi lain, ada tantangan moral: bagaimana menyeimbangkan kebutuhan akan akuntabilitas pejabat dengan perlindungan terhadap keberanian mengambil kebijakan? Dalam budaya hukum yang sehat, kedua hal ini tidak saling meniadakan.


Penutup: Harapan di Tengah Ketidakpastian

Apakah pengadilan Tom Lembong ini sudah memenuhi harapan hukum bahwa keadilan ditegakkan? Jujur saja, kita belum tahu sampai palu hakim diketuk dan alasan putusannya dibacakan. Tetapi sebagai bangsa, kita berhak berharap—dan menuntut—bahwa proses ini bersih, adil, dan jujur, bukan sekadar prosedur yang hampa makna.

Keadilan yang sejati bukan hanya soal siapa yang kalah atau menang di pengadilan, tetapi apakah kebenaran, nurani, dan rasa keadilan sosial ikut berdiri tegak di ruang sidang. Jika hakim, jaksa, dan semua pihak mampu menjalankan amanah ini, maka kasus Tom Lembong bisa menjadi pelajaran berharga: bahwa hukum di negeri ini, meski penuh tantangan, masih bisa menjadi sarana menuju bangsa yang bermartabat.

Namun jika sebaliknya, publik akan semakin yakin bahwa hukum belum berpihak pada kebenaran, dan kita semua akan kehilangan satu lagi kesempatan untuk memperbaiki wajah keadilan Indonesia.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Bubur Asyura

Bubur Asyura

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00