• Latest

Ekonomi Kapitalis Ala Prabowo

Juli 20, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Ekonomi Kapitalis Ala Prabowo

Don Zakiyamaniby Don Zakiyamani
Juli 20, 2025
Reading Time: 4 mins read
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Pernahkah Anda berpikir, siapa Anda di antara miliaran manusia di atas bumi ini? Barangkali Anda tokoh bagi lingkungan kecil Anda tinggal. Barangkali Anda seseorang dengan profesi terhormat. Anda memiliki harta berlimpah, dalam konstruksi sosial dikenal sebagai orang kaya. Dan jika Anda dikenal dengan perilaku baik, sopan, dermawan, Anda akan bernilai di hadapan manusia dan ilahi.

Kembali ke pertanyaan awal, siapa kita di antara miliaran manusia di atas bumi ini? Penumpang peradaban, figuran peradaban, atau hanya buih di lautan? Pertanyaan-pertanyaan itu sempat mampir dan mengusik hari-hari indah saya. Sampai pada suatu malam yang diiringi rintik hujan, saya ketemu kopi dan berdiskusi panjang.

Nietzsche yang terkenal dengan pemikirannya yang radikal, pernah mengalami periode di mana merasa rendah diri. Ia seperti gadis yang memerah wajahnya ketika bertemu pria idaman. Ya, ia merasa rendah diri di hadapan Immanuel Kant. Sampai ia sadar, ini bukan cinta, ini hanya kagum berlebihan. Albert Camus pun melalui tahapan itu ketika ia kagum pada Heidegger.

Belakangan, mereka mengkritisi orang yang mereka kagumi. Dan mereka kini terus hidup di ranah intelektual. Pikiran mereka terus diperbincangkan, di antara miliaran manusia mereka dikenal sebagai filsuf, tokoh pemikir yang pikirannya ditafsir terus-menerus. Sementara itu, banyak manusia di era mereka tidak kita kenal sama sekali.

Bukan berarti mereka tidak pernah ada, bukan berarti mereka tidak berkontribusi atas hadirnya peradaban hari ini. Semua manusia punya makna dan peran masing-masing di zamannya. Namun berapa banyak manusia yang terus memengaruhi peradaban? Ini kelompok kecil.

Orang biasa akan menerima saja, si cerdas akan mengoreksi, dan pemikir akan mengoreksi sekaligus memberi jalan baru. Kelompok kecil yang saya maksud tadi, selalu ada. Barangkali Anda salah satunya. Karenanya mari kita koreksi sesuatu yang selama ini kita anggap ‘haram’ dikoreksi: apa itu, Pancasila.

Sesakti dan sehebat apa pun Pancasila, tetap produk pikiran manusia. Lahir dari diksi dan diskusi sehingga boleh dipertanyakan bahkan wajar dikritisi. Ini sekaligus sebagai refleksi penafsiran ulang agar tidak ada penafsiran tunggal. Kalau kata Derrida, mana ada makna tunggal sebuah kata, apalagi konsep. Termasuk pemaknaan tunggal oleh hakim dan penguasa guna menghukum orang. Dalam kasus Tom Lembong contohnya.

Hakim berargumen bahwa Tom melakukan kesalahan karena menggunakan prinsip kapitalis, bukan prinsip Pancasila. Saya ingin ketawa namun takut dosa, bukan dosa dalam konteks transenden namun dosa sosial alias dipenjara fisik. Namun pikiran saya berkata: “tidak ada hak penguasa mendominasi tafsir makna.”

“Lalu kita akan mulai kritik paham atau Pancasila,” lanjut kopi pahit saya. Apakah yang aktual dan faktual (pemahaman hakim) atau yang kontemporer (Pancasila)? Keduanya punya risiko, mengingat masih banyak penguasa yang menafsir dengan perut dan di bawahnya. Pilihan kedua lebih menggairahkan, biar burung to burung. Tidak saya gunakan apple to apple karena saya bukan mental kawanan, tidak ingin terjebak hilirisasi bahasa asing. Bukan anti-asing namun tak ingin tulisan ini hanya dibaca kalangan tertentu saja.

Lalu mengapa burung to burung? Karena saya berharap ada kicauan pembelaan dari mereka yang sudah jatuh cinta pada pemahaman atau tafsir pemerintah. Bagi saya, itu ruang dialektika yang pintunya harus selalu dibuka. Tentu dengan penyejuk ruangan sehingga diskusi ramah hati dan pikiran. Baiklah, mari menafsir ulang Pancasila.

Pancasila katanya ideologi bangsa Indonesia, ideologi negara, sehingga lahir demokrasi Pancasila dan turunan mitologi lainnya. Tesis ini diajarkan di sekolah dan kampus, dianggap baku dan wajib dihormati. Saat hakim menggunakan frasa demokrasi Pancasila, saya bertanya, pengadilan kita apakah produk turunan Pancasila? Nyatanya tidak. Secara historis merupakan warisan Belanda. Bahkan Mahkamah Konstitusi mencontek Jerman.

Lalu pengadilan bicara ekonomi Pancasila, dan Tom dianggap menggunakan ekonomi kapitalis. Saya bertanya, ketika Prabowo menyerahkan kedaulatan impor pada Amerika Serikat dengan tarif nol persen, apakah itu ekonomi Pancasila atau ekonomi kapitalis? Apakah ada teriakan Prabowo pro-kapitalis? Tidak ada. Mengapa tidak ada? Karena pemaknaan Pancasila hanya boleh dilakukan penguasa.

Itulah mengapa perlu kita kembali menafsir ulang ekonomi Pancasila. Agar penafsiran tunggal tidak berpotensi menjadi tiran tafsir dan pemaknaan. Saya menggunakan istilah tiran tafsir karena akar persoalannya di sana. Seolah haram tafsir lain, seolah pikiran manusia berpangkat itu paling benar. Seolah hanya para profesor yang punya pikiran benar.

Baca Juga

76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
8ebfa6ab-7ef6-4c91-be8a-443b7a9d1588

Ramadan, Rindu dan Gema Takbir di Negeri Seribu Menara

Maret 26, 2026
Lebaran di Kampung yang Sunyi

Lebaran di Kampung yang Sunyi

Maret 23, 2026

Ekonomi Pancasila yang dipahami hakim dalam kasus Tom Lembong adalah bukti empiris adanya tiran tafsir. Padahal, ruang diskusi kita baru dimulai. Padahal, kita telah lama tanpa malu-malu mengadopsi prinsip-prinsip kapitalisme. Dan Prabowo baru saja mengatakan sepakat dengan kapitalisme. Dengan modal nol persen, Amerika Serikat berpeluang untung sebesar-besarnya, kalian diam?

Nol persen versus 19 persen akibat gaya politik Prabowo yang mengalami delusi sejarah. Delusi itu menganggap dirinya selevel Soekarno di geopolitik internasional. Delusi yang memasukkan negara ke dalam kenistaan, dan kalian diam?

Praktik ekonomi kapitalis oleh Prabowo yang terang sekali itu mengapa tidak dipersoalkan? Selalu ada argumen pembenaran dari para kultus individu, dari pendukung tidak rasional. Dan saya ogah debat dengan donatur kebodohan. Saya ogah debat dengan para cacat logika dan mental. Saya ingin menjernihkan pikiran ketimbang berenang di lumpur pikiran.

Salah satunya dengan menafsir ulang segala hal, termasuk Pancasila dan turunannya. Kebetulan para hakim kasus Tom Lembong membuka wacana itu. Mereka menafsirkan tindakan Lembong sebagai pro-ekonomi kapitalis. Saya dilema, jika setuju dengan hakim berarti Prabowo juga pro-kapitalis. Jika tidak, berarti hakim salah vonis. 

ADVERTISEMENT

Tom Lembong dan Prabowo tidak menerima uang suap atas tindakan mereka. Namun mereka dianggap telah memperkaya swasta, pemilik modal. Bedanya, Prabowo memperkaya swasta negara lain, termasuk memperkaya negara kaya. Beda pula takdir mereka, Tom divonis 4 tahun 5 bulan dan Prabowo 4 tahun 5 bulan sisa waktu berkuasa. Lalu pertanyaan penutup; “apakah ini praktik demokrasi pancasila dalam melihat ekonomi pancasila?” bagaimana menurut Anda?.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 360x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 318x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 200x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Naskah Wangsakerta: Pusaran Kontroversi Sejarah dan Jejak Gotra Sawala

Naskah Wangsakerta: Pusaran Kontroversi Sejarah dan Jejak Gotra Sawala

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com