• Latest

TRADISI ACEH ‘MAKMEUGANG’ TETAP TERJAGA DI PADANGPANJANG

Mei 1, 2022
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

TRADISI ACEH ‘MAKMEUGANG’ TETAP TERJAGA DI PADANGPANJANG

Redaksiby Redaksi
Mei 1, 2022
Reading Time: 3 mins read
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh: Dr. Sulaiman Juned, S.Sn., M.Sn

TRADISI Makmeugang atau Meugang bagi masyarakat Aceh telah menjadi budaya.

Meugang tetap dilaksanakan bagi masyarakat Aceh walaupun tidak menetap di negerinya.

Makmeugang atau Meugang diawali pada masa kerajaan Aceh dengan memotong hewan dalam jumlah yang banyak lalu dibagikan secara gratis kepada masyarakat.

Hal ini dilakukan sebagai rasa syukur dan ungkapan terima kasih atas kemakmuran negeri Aceh dalam menyambut hari-hari besar (suci) umat Islam.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Menurut Wikipedia, tradisi Meugang sudah dilaksanakan sejak ratusan tahun yang lalu. Tradisi ini dimulai sejak masa kerajaan Aceh Sultan Iskandar Muda (1607—1636 Masehi). Masa itu Sultan Iskandar Muda memotong hewan yang banyak lalu membagikannya kepada masyarakat. Makmeugang atau Meugang merupakan tradisi yang diawali dengan pemotongan sapi, kerbau, kambing, dan ayam, serta itik (bebek). Kebiasaan ini dilakukan ketika menyambut bulan Ramadan (dua hari sebelum Ramadan), atau menyambut hari raya Idulfitri, juga hari raya Iduladha.

Kegiatan Makmeugang memiki nilai religius dengan bersedekah atau saling berbagi sesama masyarakat yang memiliki kemampuan lebih kepada masyarakat kurang mampu. Ini sekaligus memupuk nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong. Setiap lebaran Idulfitri, iduladha atawa menyambut Ramadan jika istri saya ada di rumah pastilah melaksanakan tradisi Makmeugang, sekaligus di lebaran pertama kami menunggu adik-adik mahasiswa yang tidak mudik untuk saling berbagi, juga saling bersilaturahim dengan masyarakat Aceh yang berdomisili di Padangpanjang khususnya dan Sumatera Barat umumnya.

“Makmeugang atau Meugang adalah tradisi memasak daging dan menikmatinya bersama keluarga dan yatim piatu oleh masyarakat Aceh.” (Wikipedia)

Atas dasar itulah, keluarga saya di Padang Panjang, Sumatra Barat, ini hari Sabtu, 30 April 2022,  menjadikan hari Meugang pertama dan besok Minggu (01/05) Meugang kedua. Kami tidak memotong hewan, tetapi kami membeli daging di pasar. Lalu, istri saya memasak sie mirah (daging merah), sie puteh (daging putih atau masak daging kurma namanya kalau di Minang), memasak rendang daging,  Opor ayam kampung, juga memasak soto kesukaan saya.

Ada lagi yang telah menjadi warisan secara turun temurun dalam keluarga kami setiap hari raya (lebaran) baik itu Idulfitri maupun iduladha, kami selalu memasak ketupat/ lontong khas Aceh. Kenapa menjadi khas, karena selain ketupat/lontong, karena memiliki racikan masakan sayurnya boleh jadi sayur lodeh dari buah jipang, atau sayur gudeg dari buah nangka. Ditambah Opor Ayam kampung, Rendang Daging, Coco yang diracik dengan cabai hijau, kentang dan hati daging kerbau, Sambal goreng tempe, serta serbuk kacang kuning yang telah ditumbuk. Semuanya diaduk jadi satu, luar biasa nikmatnya. Ini hari semua perlengkapan untuk itu sudah lengkap. Istri saya sekarang sedang meraciknya.

Kami sekeluarga walau berada di rantau bersama adik-adik mahasiswa asal Aceh juga masyarakat Aceh yang telah menetap di Ranah Minang, tetap saja menikmati hari  Makmeugang pertama ini dengan sederhana untuk tetap menjaga tradisi religius, kebersaman, dan gotong royong tersebut yang telah diwariskan leluhur.

InsyaAllah nanti sembari berbuka puasa Ramadan telah dapat menikmati kuliner khas Aceh. “Selamat menyambut Hari Raya Idulfitri 1443 Hijriah. Mohon maaf lahir  batin kepada seluruh kerabat dan saudara umat muslim di mana pun berada.” (*)

*) Penulis adalah Sastrawan, Esais, Kolomnis, Dramawan, Sutradara Teater, Pendiri/Penasihat Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang, Pendiri Sanggar Cempala Karya Banda Aceh, Pendiri UKM. Teater NOL USK, Ketua Panitia Pendirian Kampus Seni ISBI Aceh, Ketua Jurusan Seni Teater ISI Padangpanjang, Dosen Pascasarjana (S2) ISI Padangpanjang.

Editor : Hamdani Mulya

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 335x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 296x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 278x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 253x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 190x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Senerai Puisi Religi Mohd Adid Ab Rahman

SEBUAH PIALA KEMENANGAN DI UJUNG PERJUANGAN

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com