POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Arah Pendidikan Tinggi: Antara Kemewahan Luar Negeri dan Kedaulatan Akademik Dalam Negeri

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
July 17, 2025
Sekolah Puluhan Juta Demi Gaji Tiga Juta
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Dr. Dayan Abdurrahman

Berbicara tentang pendidikan tinggi, khususnya di jenjang magister dan doktoral, kita masih menyaksikan adanya glorifikasi terhadap perguruan tinggi luar negeri. Banyak yang meyakini bahwa kuliah di kampus global ternama adalah satu-satunya jalan menuju kualitas unggul dan pengakuan akademik. Namun sebagai seseorang yang pernah menjalani proses seleksi beasiswa luar negeri, menulis proposal riset dalam ketatnya persaingan internasional, hingga akhirnya mengalami sendiri dinamika pendidikan tinggi di Indonesia dan luar negeri, saya merasa perlu mengajak publik merenung lebih dalam: apakah benar pendidikan luar negeri selalu lebih unggul? Dan apakah model itu masih relevan dalam konteks Indonesia hari ini?

Biaya yang Mahal, Manfaat yang Belum Merata

Mari bicara angka. Untuk menyekolahkan satu orang mahasiswa doktoral ke Amerika Serikat atau Inggris, biaya yang dikeluarkan oleh negara bisa mencapai 3 hingga 4 miliar rupiah selama masa studi. Angka ini mencakup biaya kuliah, akomodasi, tunjangan hidup, dan keperluan administratif lainnya. Bandingkan dengan program doktor dalam negeri yang rata-rata bisa diselesaikan dengan biaya di bawah 400 juta rupiah per orang. Artinya, dengan dana yang sama, kita dapat mencetak sedikitnya 8 hingga 10 doktor baru di dalam negeri. Ini bukan sekadar matematika fiskal, tetapi soal strategi kebijakan dan pemerataan akses pendidikan tinggi.

Ketika negara-negara maju sendiri mulai mengurangi dana beasiswa karena dampak krisis global, Indonesia justru masih terjebak pada skema prestise akademik luar negeri. Padahal tantangan kita saat ini bukan hanya soal kualitas individu, tetapi kapasitas kolektif untuk membangun ekosistem riset dan pendidikan yang kuat di dalam negeri.

Pengalaman Pribadi: Tidak Semua yang di Luar Itu Lebih Baik

Saya pernah terlibat dalam proses seleksi beasiswa luar negeri dan menyaksikan sendiri betapa banyak pelamar Indonesia gagal bukan karena tidak cerdas, tapi karena tidak memiliki jaringan akademik yang memadai. Di sisi lain, banyak yang berhasil berangkat, justru kembali dengan hasil riset yang kurang relevan atau minim kontribusi terhadap problem lokal di Indonesia.

Lebih menyedihkan lagi, saya juga menjumpai lulusan luar negeri yang ketika kembali, mengalami cultural shock akademik. Mereka terbiasa dengan fasilitas, sistem terbuka, dan jejaring internasional yang kuat, namun ketika kembali ke kampus asal di tanah air, tidak mampu mentransformasikan apa yang telah mereka peroleh karena terbentur realitas sistemik: birokrasi lambat, budaya akademik yang kaku, dan kurangnya dukungan institusi.

📚 Artikel Terkait

Komunikasi Guru Penyelamat Dahaga Murid

Merencanakan Penulisan Buku Berjudul “Peradaban Sambas”

Masa Depan Aceh

I am Dreaming to Make A Book

Sementara itu, saya melihat banyak dosen dan peneliti lulusan dalam negeri yang tidak kalah kualitasnya, bahkan melebihi dalam hal dedikasi, motivasi, dan ketekunan. Mereka aktif meneliti, membimbing mahasiswa, menulis di jurnal internasional, dan memajukan institusinya tanpa harus bergantung pada simbol luar negeri. Dalam dunia akademik hari ini, metodologi, integritas, dan relevansi riset jauh lebih penting daripada lokasi institusi.

Kuliah Luar Negeri Itu Bernilai, Tapi Tidak Mutlak

Tentu kita tidak menafikan bahwa studi luar negeri memiliki nilai strategis. Belajar Islam di Arab Saudi memberi kedalaman dalam tradisi teks. Belajar teknologi di Jepang atau Tiongkok memberi paparan pada sistem yang disiplin dan inovatif. Tapi studi luar negeri bukan harga mati. Negara berkembang seperti Indonesia, yang mata uangnya lemah dan sumber daya pendidikan belum merata, harus mengambil pendekatan yang lebih adaptif.

Kita bisa mengadopsi model pembelajaran luar negeri: problem-based learning, independent research supervision, peer-reviewed feedback, kolaborasi internasional daring, bahkan pertukaran akademik jangka pendek. Inilah bentuk “pembelajaran lintas batas” yang tidak membebani anggaran negara, namun tetap membuka cakrawala mahasiswa dan dosen kita terhadap dunia akademik global.

Dengan dukungan teknologi, publikasi terbuka, dan komunikasi daring, mahasiswa Indonesia dapat membangun riset yang relevan dan terkoneksi secara global—tanpa harus berada secara fisik di luar negeri. Sebuah penelitian yang baik hari ini tidak diukur dari tempatnya ditulis, tetapi dari kedalaman pertanyaannya, ketepatan metodologinya, dan manfaatnya bagi masyarakat.

Perlu Paradigma Baru: Pendidikan untuk Bangsa, Bukan untuk Elitisme

Kita perlu membongkar mentalitas lama yang menjadikan kuliah luar negeri sebagai simbol sosial atau status elitis. Pendidikan tinggi seharusnya menjadi alat transformasi sosial, bukan sekadar kendaraan menuju karier individu. Selama ini, banyak mahasiswa luar negeri yang ketika kembali, justru terjebak dalam ekspektasi pekerjaan prestisius dan gaji besar, sementara kontribusi mereka terhadap masyarakat justru minim. Dalam konteks itu, pendidikan luar negeri kehilangan makna moral dan sosialnya.

Sebaliknya, doktor yang dibentuk dari sistem pendidikan dalam negeri yang relevan, kolaboratif, dan sadar konteks lokal, memiliki peluang lebih besar untuk membangun perubahan nyata di masyarakat. Mereka tidak hanya tahu masalah Indonesia, tapi hidup di dalamnya, mengalaminya, dan terdorong untuk memperbaikinya.

Kesimpulan: Saatnya Realistis, Bukan Minder

Sudah waktunya Indonesia memiliki arah pendidikan tinggi yang berdaulat. Kita tidak boleh terus-menerus memandang rumput tetangga lebih hijau. Kita boleh belajar ke luar negeri, tetapi tidak boleh mematikan potensi dalam negeri. Kuncinya adalah adaptasi dan komitmen. Alih-alih mengirim satu orang ke luar negeri dengan anggaran miliaran, mari kita gunakan dana itu untuk membangun kapasitas kolektif: memperkuat program pascasarjana dalam negeri, meningkatkan pelatihan dosen, memperluas akses publikasi, dan mendorong kolaborasi riset berbasis kebutuhan nasional.

Belajar bukan soal lokasi, tetapi tentang arah. Dan arah itu harus membawa kita menuju pendidikan yang lebih adil, inklusif, relevan, dan berdampak bagi bangsa. Karena pada akhirnya, yang menentukan masa depan Indonesia bukanlah di mana kita belajar, tetapi bagaimana dan untuk siapa ilmu itu kita perjuangkan.


Dayan Abdurrahman
Peneliti Pendidikan Tinggi; aktif meneliti isu-isu pendidikan pascasarjana, kebijakan beasiswa, dan pemerataan akses pendidikan di negara berkembang.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

BENGKEL OPINI RAKyat

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00