• Latest

Yusdarita: Perempuan Garis Depan

November 14, 2016
Mahasiswa duduk sendiri di lingkungan kampus dengan ekspresi cemas sementara mahasiswa lain berlalu di belakangnya

Bukan Sekadar Malu: Kecemasan Sosial yang Menggerus Percaya Diri Mahasiswa

April 11, 2026
db5df19e-a49a-4379-86f9-5e88076f4172

Harap-harap Cemas Menunggu Hasil Perundingan Iran vs AS

April 11, 2026
2fc46e4c-99ca-4bd5-8807-7ae4e054e3db

Rekor MURI, Pameran Lukisan, Menghias Telur, dan Makna Kemanusiaan dalam Keberagaman

April 11, 2026

🚩🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

April 11, 2026
IMG_0733

Berjuang Hingga Akhir

April 11, 2026
9edda383-f515-49a9-9938-8d5b8ebcf730

Sastra sebagai Cermin Kehidupan: Refleksi Perjalanan dari Panggung Teater ke Dunia Penelitian

April 11, 2026
29e05edd-7320-4d1e-bee4-7bd4496720de

Bahaya “Self-Diagnosis” di Balik Layar TikTok: Mengapa Remaja Aceh Butuh Validasi Profesional?

April 10, 2026
Ilustrasi dua kelompok manusia yang terpisah dengan perbedaan warna, menggambarkan prasangka, bias sosial, dan pengelompokan in-group dan out-group.”

Memahami Prasangka: Mengapa Kita Mudah Menilai Orang Lain Secara Keliru

April 10, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Sabtu, April 11, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
  • Sastra
  • Buku
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
  • Sastra
  • Buku
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Yusdarita: Perempuan Garis Depan

Redaksi by Redaksi
November 14, 2016
in Aceh, Edukasi, Pendidikan, Perempuan, Sosok
Reading Time: 4 mins read
0
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
ilustrasi. 
Oleh: Adi W
Tak ada yang menonjol dalam penampilannya. Perempuan dengan baju ungu, berbaur bersama rekannya mengikuti acara penganugerahan Perempuan Aceh Award (PAA) 2012, di Gedung Sultan Selim, Banda Aceh, 22 November 2012.
Yusdarita namanya, diundang panitia karena prestasinya dalam membela hak-hak kaum perempuan di daerahnya, kabupaten Bener Meriah. Dia juga salah seorang nominator PAA tahun 2010 silam.
Lahir 4 Juni 1974 silam, di Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh, Yusdarita punya pengalaman pahit masa konflik. Kerap mengalami intimidasi dan kekerasan tak langsung. Ayahnya diculik orang tak dikenal, dan sampai kini tak pernah kembali. Suami dan adiknya dianiaya, hartanya dirampok, rumahnya dirusak dan digerebek para pihak dalam konflik Aceh.
“Ayah saya diculik pada Februari 2000,” ujarnya mengenang. Ayahnya adalah kepala Desa Rembele, Kecamatan Bukit, Bener Meriah (dulu masuk dalam Kabupaten Aceh Tengah).
Saat ini konflik Aceh sedang memuncak. Suami yang dinikahinya pada 1994 pun ikut merasakan penganiayaan, juga adiknya. Beruntung mereka masih hidup hingga kini. “Kadang suami saya diambil, adik saya juga. Pulang-pulang badan mereka memar.”
Konflik Aceh yang bercampur konflik etnis di dataran tengah Aceh, memperparah trauma Yusdarita kala itu. Dia etnis Aceh campur Gayo, suaminya etnis Jawa. Saat gelombang pengungsian terjadi akibat kontak senjata dan kecurigaan antar etnis, Yus dan suaminya ikut mengungsi. Ke Bireuen, lalu Pidie dan terakhir ke Banda Aceh.
Otomatis kebunnya tak terurus. Kerjanya sebagai kader Posyandu pun tak penting lagi. Trauma membuatnya terpaksa mengungsi. Dan di pengungsianlah, Yusdarita bangkit. Konflik Aceh belum reda.
Dia kerap bolak-balik Banda Aceh- Bener Meriah yang berjarak 350 kilometer, sendiri. Suaminya belum berani. Bersama beberapa ibu di desanya, Yus menginisiasi berdirinya koperasi, membuat kue untuk menghidupi hidup para perempuan bernasib sama.
Dia kemudian diajak bergabung sebagai Relawan Perempuan untuk Kekerasan (RPuK) yang berbasis di Aceh. Tujuannya adalah memulihkan trauma para perempuan yang merasakan tindak kekerasan akibat konflik.
***
Konflik Aceh berakhir kala penandatanganan kesepakatan damai (MoU) Helsinki, 15 Agustus 2005. “Saya senang dan kembali berkumpul terus bersama keluarga di kampung, juga mengabdi bagi kaum perempuan,” ujarnya.
Semangatnya semakin membara dalam memperjuangkan kaumnya. “Saya melihat, saat konflik perempuan berada di depan, mencari nafkah, mengurus anak, kerjanya ganda. Pascadamai, sepertinya perempuan terpinggirkan.”
Kerjanya sebagai relawan perempuan tak ditinggalkan, sambil mengurus kebun kopinya kembali. Rezekinya bertambah, kebun yang dulunya hanya satu hektar bertambah menjadi dua. Suaminya dapat bekerja kembali dengan leluasa.
Rumah yang dulu dirusak, dibangun kembali menjadi lebih bagus. “Sangat layaklah untuk ditempati.”
Kesibukan sebagai pengurus koperasi juga berlanjut setelah berbadan hukum. Jadilah Yusdarita super sibuk, mengikuti berbagai pelatihan di Banda Aceh untuk pengetahuan membela kaumnya. Dukungan datang dari suaminya.
Tapi sindiran tetap ada, dari para tetangga. Kerap dia disapa ibu gender atau dibilang murtad terhadap keluarga. “Tapi itu dulu, sekarang saya sudah berhasil membuktikan mampu membela hak kaum perempuan.”
Salah satunya adalah menginisiasi terciptanya sebuah mekasnisme perlindungan perempuan dan anak berbasis komunitas di Kampung Rembele. Setelah berhasil, mekanisme itu dicoba di beberapa desa lainnya. Sistem itu, perempuan menjadi mediator dalam kasus kaumnya, yang menjadi korban kekerasan, juga pembela hak anak.
Jika ada perempuan yang berkasus dalam rumah tangga misalnya, maka harus ditangani terlebih dahulu oleh perangkat desa yang juga termasuk kelompok perempuan di dalamnya. Tak serta merta ditangani polisi. Untuk kasus anak juga. “Pokoknya berbagai kasus, kesehatan, sosial, politik dan lainnya, ada mekanisme perlindungan untuk perempuan,” terang Yus yang menjadi salah satu mediator.
Karenanya dia diangkat kemudian menjadi perwakilan perempuan di Mukim Simpang Tiga, yang mewakili 15 desa di Kecamatan Bukit. Yusdarita juga bekerja kembali sebagai kader Posyandu (2006-2007), sebagai Ketua Koperasi (2006) sebagai Fasilitator Desa PNPM (2010).
Kerjanya semakin nyata dalam membela perempuan. Selain sebagai nominator Perempuan Aceh Award 2010, Ibu tiga anak itu juga menjadi nominator Perdamaian tingkat regional untuk N-Peace Network di Thailand pada Oktober 2011.
Yusdarita kini hidup berkecukupan dan telah melupakan trauma. Dia masih sangat aktif terlibat dalam kegiatan sosial di desanya. Berkatnya, kampungnya diakui sebagai tempat percontohan dalam urusan perlindungan perempuan dan sedang ditiru oleh banyak desa di Kabupaten Bener Meriah. ***

Baca Juga

Mahasiswa terlihat lelah di depan laptop akibat tekanan akademik dan burnout

Mengapa Mahasiswa Mudah Burnout? Ini Penyebab dan Solusinya

April 9, 2026
Perempuan Aceh mengenakan hijab sedang menulis di buku dalam suasana komunitas, mencerminkan semangat literasi dan pemberdayaan perempuan desa

Kerinduan Perempuan Aceh untuk Menulis: Dari Dibungkam Menjadi Bersuara

April 9, 2026
IMG_0698

Cut Nyak Dhien, Akan Sangat Kecewa

April 9, 2026
SummarizeShare234Tweet147
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Related Posts

Mahasiswa duduk sendiri di lingkungan kampus dengan ekspresi cemas sementara mahasiswa lain berlalu di belakangnya
Psikologi

Bukan Sekadar Malu: Kecemasan Sosial yang Menggerus Percaya Diri Mahasiswa

April 11, 2026
db5df19e-a49a-4379-86f9-5e88076f4172
Iran

Harap-harap Cemas Menunggu Hasil Perundingan Iran vs AS

April 11, 2026
2fc46e4c-99ca-4bd5-8807-7ae4e054e3db
Esai

Rekor MURI, Pameran Lukisan, Menghias Telur, dan Makna Kemanusiaan dalam Keberagaman

April 11, 2026
# Ironi

🚩🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

April 11, 2026
Next Post

Perjuangan Perempuan Melawan Ketidakadilan

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com