Dengarkan Artikel
Oleh Rivaldi
Aceh, lon sayang. Kalimat itu bukan sekadar ungkapan, tapi jeritan batin yang penuh luka sekaligus harapan. Ada dua sisi dari rasa sayang ini—dua kutub yang terus tarik-menarik: antara sayang karena terlalu sering dikhianati oleh negara yang katanya “ibu pertiwi”, atau sayang karena rasa bangga atas tanah kelahiran yang berani, yang pernah mencatat sejarah sebagai bangsa besar.
Dari sisi luka, Aceh telah berkali-kali berjuang, berdarah, dan berdamai. Tapi sampai hari ini, perdamaian itu sering terasa seperti formalitas. MoU Helsinki yang seharusnya jadi jembatan menuju keadilan, justru banyak dilanggar secara diam-diam. Kekhususan yang dijanjikan tinggal jadi simbol di atas kertas.
Pemerintah daerah sibuk berebut proyek, bukan memperkuat marwah. Rakyat Aceh kerap diposisikan sebagai penerima belas kasihan, bukan sebagai pemilik hak. Maka tak salah jika banyak anak muda Aceh hari ini bertanya: “Apakah kemerdekaan itu cuma mimpi yang diikat janji kosong?”
📚 Artikel Terkait
Namun, di sisi lain, ada rasa bangga yang tak bisa dipadamkan. Aceh adalah tanah para syuhada, tanah para pejuang. Dari Cut Nyak Dhien hingga Hasan Tiro, dari kerajaan Islam pertama hingga perlawanan modern, Aceh tak pernah diam terhadap ketidakadilan. Budaya, adat, dan identitas Aceh adalah warisan mahal yang tak bisa digantikan oleh proyek atau uang. Bangsa Aceh adalah bangsa yang tahu harga dirinya. Dan dalam keheningan, kita masih menyimpan bara semangat untuk berdiri tegak di tengah dunia.
Jadi ketika kita bilang “Aceh lon sayang”, itu bukan cinta buta. Itu cinta yang sadar, yang tahu luka dan tahu kekuatan. Kita sayang karena kita sedih—karena dikhianati. Tapi kita juga sayang karena kita bangga—karena kita berasal dari tanah yang keras kepala melawan penjajahan.
Sayang yang sempurna itu, mungkin, adalah gabungan dari keduanya. Aceh, lon sayang… karena aku tahu engkau tak pernah menyerah, meski terus dipatahkan.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






