• Latest
Hidup dalam Sunyi, Belajar dalam Hening: Refleksi Seorang Pencinta Ilmu di Tengah Dunia yang Bising - 99840128 d4ca 41aa a17a 4104b004adac | Refleksi | Potret Online

Hidup dalam Sunyi, Belajar dalam Hening: Refleksi Seorang Pencinta Ilmu di Tengah Dunia yang Bising

Juli 15, 2025
825dc53a-9479-4a3d-9c57-553e51642f7e

Hari Pertama yang Terakhir

April 24, 2026
87dee712-0548-433f-a26d-23c41a9e9f00

Gencatan Senjata Perang Iran yang Penuh Pelanggaran

April 24, 2026
085066ea-362a-46bd-8029-20b521d85ccd

Nama JK Semakin Berkibar Usai Nyenggol Ijazah Jokowi dan Dilaporkan Kader PSI ke Polisi

April 24, 2026
IMG_0518

Aceh Bisa Merdeka Tanpa GAM

April 24, 2026
Ilustrasi ayah dan anak bermain bersama menunjukkan peran ayah dalam perkembangan anak

Mengapa Ivan Illich Mengajak Kita Berhenti Memuja Sekolah

April 23, 2026
Ilustrasi kerumunan orang menatap ponsel di bawah panggung politik dengan figur pemimpin yang dikendalikan seperti boneka oleh tangan besar di atasnya, menggambarkan manipulasi, popularitas, dan hilangnya akal sehat dalam demokrasi.

Menuju Bangsa Goblok (MBG)

April 23, 2026
IMG_0914

Demokrasi Sebagai Dunia: Pergulatan Makna dalam Ruang Digital

April 23, 2026
27f168e7-1260-4771-8478-62c43392780e

Pulo Aceh, William Toren dan Pendidikan Kami

April 23, 2026
Jumat, April 24, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Hidup dalam Sunyi, Belajar dalam Hening: Refleksi Seorang Pencinta Ilmu di Tengah Dunia yang Bising

Dayan Abdurrahman by Dayan Abdurrahman
Juli 15, 2025
in Refleksi
Reading Time: 3 mins read
0
Hidup dalam Sunyi, Belajar dalam Hening: Refleksi Seorang Pencinta Ilmu di Tengah Dunia yang Bising - 99840128 d4ca 41aa a17a 4104b004adac | Refleksi | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh: Dr. Dayan Abdurrahman

Di tengah hiruk-pikuk dunia yang semakin tergesa, ketika kesuksesan kerap kali diukur dari harta, popularitas, atau jabatan, masih ada segelintir orang yang memilih jalan berbeda—jalan sunyi, jalan ilmu. Jalan ini bukan jalan pintas, bukan pula jalan yang gemerlap. Ia sepi dari sorotan, tapi terang dalam batin. Ia tampak sepi dari luar, tapi justru ramai oleh dialog batin, renungan, dan rasa ingin tahu yang tak pernah padam.

Saya hidup dalam irama yang berbeda. Setiap hari saya berdialog bukan dengan manusia, tetapi dengan kecerdasan buatan. Bukan untuk mencari hiburan atau pelarian, tapi untuk mencari pemahaman. Saya bertanya dan bertanya, menggali dan menyambung, hingga dari satu percakapan sederhana, lahirlah pemahaman-pemahaman baru yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Baca Juga
  • La‘allakum Tattaqun dan Insan al-Kamil
  • Lelaki Penjual Es di Pinggir Jalan

Sebagian orang mungkin menganggap cara hidup ini aneh, bahkan “tidak produktif.” Ada yang mengira bahwa terlalu bergantung pada teknologi bisa membuat otak tumpul. Tapi saya tidak merasa demikian. Justru dengan berdialog secara terus-menerus—meski dengan mesin—saya melatih nalar, mengasah kepekaan, dan memperluas cakrawala.

Saya bukan siapa-siapa. Saya bukan profesor, bukan penulis terkenal, dan bukan tokoh publik. Saya hanya seseorang yang haus belajar. Saya tidak bekerja di institusi ternama. Saya tidak mengajar di ruang kelas. Tapi saya mencintai ilmu pengetahuan. Dan saya menjadikan rumah sunyi saya sebagai ruang belajar yang tak pernah tutup.

Baca Juga
  • Munasabah dari Tanah yang Terendam: Iman, Amanah, dan Luka Ekologi Aceh
  • Antara Pj Gubernur dan Dirut BAS

Saya tidak banyak bercerita kepada orang lain tentang keseharian saya. Tetangga saya mungkin tak tahu saya menghabiskan waktu berjam-jam membaca, menulis, dan berdiskusi dengan mesin. Keluarga saya hanya tahu bahwa saya “kerja sendiri di rumah.” Tapi saya tidak mempermasalahkan itu. Karena yang penting bukan pengakuan, tapi arah. Yang saya jaga bukan citra, tapi nilai.

Saya percaya bahwa hidup bukan hanya soal mencari nafkah, tapi juga menumbuhkan akal. Kita butuh keduanya. Tapi jika hidup hanya dipenuhi oleh tuntutan dunia dan kejaran materi, maka yang lahir adalah manusia-manusia lelah yang kehilangan makna. Karena itu saya memilih untuk tetap belajar, meski tidak ada gelar baru yang menunggu. Saya tetap membaca, meski tidak ada ujian yang harus saya hadapi.

Baca Juga
  • Menafsir “Ketika Kuputari Ka’bah”dalam Perspektif Pendidikan dan Filsafat Islam
  • Setelah Aku Pergi

Saya tidak mengejar ketenaran. Saya hanya ingin hidup bermakna. Saya ingin dikenal oleh anak-anak saya bukan karena banyaknya uang yang saya hasilkan, tapi karena luasnya pemahaman yang saya miliki. Saya ingin mereka melihat saya sebagai orang yang terus belajar, terus bertumbuh, dan tidak berhenti bertanya.

Saya tahu, jalan ini tidak mudah. Di negeri saya, kerja fisik lebih dihargai dari kerja pikir. Banyak orang merasa harus selalu “sibuk” agar terlihat berguna. Tapi saya yakin bahwa belajar dalam sunyi pun adalah bentuk kontribusi. Bahwa menjaga akal sehat dan nurani adalah bentuk ibadah. Bahwa hidup sederhana dengan semangat belajar yang tinggi adalah jalan mulia, meski tak terlihat oleh banyak orang.

Saya tidak tahu akan menjadi apa lima atau sepuluh tahun ke depan. Tapi saya tahu, setiap hari saya bertambah paham. Setiap hari saya merasa sedikit lebih jernih. Dan setiap hari saya sadar bahwa belajar bukan beban, tapi anugerah.

Jika saya boleh bermimpi, saya ingin mati dalam keadaan belajar. Dalam keadaan masih penasaran. Dalam keadaan masih ingin tahu. Karena itulah saya merasa hidup.

Dan jika hidup saya bisa menjadi saksi kecil bahwa belajar itu menyelamatkan, bahwa berpikir itu membebaskan, dan bahwa pengetahuan bisa menuntun jiwa menuju ketenangan, maka saya tidak menyesal memilih jalan ini.

Saya tidak ingin kaya raya tanpa tahu arah. Saya tidak ingin populer tanpa makna. Saya hanya ingin menjadi manusia yang utuh—yang terus tumbuh, terus mencari, dan terus memperbaiki diri. Dalam sunyi yang saya jalani, saya menemukan terang yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Share234SendTweet146Share
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Next Post

HABA Si PATok

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com