Dengarkan Artikel
Delapan Puluh Tahun Menanak Angin
Karya Ilhamdi Sulaiman.
Kami menanak angin
bukan karena ingin
tapi karena nasi terlalu mahal
untuk sekadar bermimpi kenyang.
Kami menjemur pakaian dan harapan
keduanya seringkali tak kering
karena hujan janji datang terlalu sering.
Delapan puluh tahun,
pidato dikumandangkan
tapi suara kami masih bergaung
dari warung kopi
dari kolong jembatan,
dari masjid kecil
yang azannya serak pelan.
Negeri ini berjalan dengan sepatu,
sementara kami bertelanjang kaki
di jalanan yang retak
oleh rencana pembangunan.
Tapi kami tak berhenti.
Karena meski hari ini
kami menanak angin—
kami percaya,
besok pagi ada remah
yang gugur dari langit
atau ladang yang kembali hijau
oleh tangan yang tak lelah berdoa.
Kami menanak angin,
tapi iman kami tidak menguap.
Kami tetap hidup,
📚 Artikel Terkait
meski negeri ini lebih suka
menjanjikan harap
ketimbang menggenggam nasib.
28 Juni 2025
Merdeka yang Tertinggal di Pintu Rumah.
Merdeka,
pernah mampir ke desa kami,
tapi tak sempat masuk.
Ia berhenti di pintu,
menyeka peluh,
lalu pergi
karena rumah kami terlalu sempit
untuk menampung janji.
Kami kibarkan bendera di hari merdeka,
tiangnya dari pelapah rumbia.
Kami nyanyikan lagu kebangsaan,
walau suaranya kalah oleh bunyi perut.
Setiap hari.
Setiap tahun, kami menonton upacara
di televisi tetangga.
Menunggu:
kapan nama kami disebut?
kapan gaji kami naik?
kapan jalan kampung kami disemen?
Hanya spanduk bantuan
yang bersuara paling nyaring.
Kami cuma ingin:
sekolah yang tak bocor,
puskesmas yang tak kehabisan obat,
harga beras yang tak naik
sebelum subuh mengalahkan kokok ayam.
Merdeka
tertinggal di teras rumah kami,
bersama sandal plastik
dan setumpuk tagihan
karena jendelanya tertutup
oleh tangisan rakyat.
Merdeka yang tertinggal di pintu rumah
akan kami jemput:
dengan sabar,
dengan suara,
yang pelan-pelan
akan membangunkan negeri.
Jakarta,25 Juni 2025
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






