Minggu, April 19, 2026

Puisi-Puisi Ilhamdi Sulaiman

Juli 2025

Delapan Puluh Tahun Menanak Angin

Karya Ilhamdi Sulaiman.

   Kami menanak angin

   bukan karena ingin

   tapi karena nasi terlalu mahal

   untuk sekadar bermimpi kenyang.

   Kami menjemur pakaian dan harapan

   keduanya seringkali tak kering

   karena hujan janji datang terlalu sering.

   Delapan puluh tahun,

   pidato dikumandangkan

   tapi suara kami masih bergaung

   dari warung kopi

   dari kolong jembatan,

   dari masjid kecil

   yang azannya serak pelan.

   Negeri ini berjalan dengan sepatu,

   sementara kami bertelanjang kaki

   di jalanan yang retak

   oleh rencana pembangunan.

   Tapi kami tak berhenti.

   Karena meski hari ini

   kami menanak angin—

   kami percaya,

   besok pagi ada remah

   yang gugur dari langit

   atau ladang yang kembali hijau

   oleh tangan yang tak lelah berdoa.

   Kami menanak angin,

   tapi iman kami tidak menguap.

   Kami tetap hidup,

   meski negeri ini lebih suka

   menjanjikan harap

   ketimbang menggenggam nasib.

    28 Juni 2025

Merdeka yang Tertinggal di Pintu Rumah.

   Merdeka,

   pernah mampir ke desa kami,

   tapi tak sempat masuk.

   Ia berhenti di pintu,

   menyeka peluh,

   lalu pergi

   karena rumah kami terlalu sempit

   untuk menampung janji.

   Kami kibarkan bendera di hari merdeka,

   tiangnya dari pelapah rumbia.

   Kami nyanyikan lagu kebangsaan,

   walau suaranya kalah oleh bunyi perut.

   Setiap hari.

   Setiap tahun, kami menonton upacara

   di televisi tetangga.

   Menunggu:

   kapan nama kami disebut?

   kapan gaji kami naik?

   kapan jalan kampung kami disemen?

   Hanya spanduk bantuan

   yang bersuara paling nyaring.

   Kami cuma ingin:

   sekolah yang tak bocor,

   puskesmas yang tak kehabisan obat,

   harga beras yang tak naik

   sebelum subuh mengalahkan kokok ayam.

   Merdeka

   tertinggal di teras rumah kami,

   bersama sandal plastik

   dan setumpuk tagihan

   karena jendelanya tertutup

   oleh tangisan rakyat.

   Merdeka yang tertinggal di pintu rumah

   akan kami jemput:

   dengan sabar,

   dengan suara,

   yang pelan-pelan

   akan membangunkan negeri.

    Jakarta,25 Juni 2025

Tentang Penulis
Ilhamdi Sulaiman (Boyke Sulaiman) I Lahir 68 tahun lalu di Medan pada tanggal 12 September 1957. Menamatkan pendidikan sarjana Sastra dan Bahasa Indonesia di Universitas Bung Hatta Padang pada tahun 1986. Berkesenian sejak tahun 1976 bersama Bumi Teater Padang pimpinan Wisran Hadi. Pada tahun 1981 mendirikan Grup Teater PROKLAMATOR di Universitas Bung Hatta. Lalu pada tahun 1986, hijrah ke kota Bengkulu dan mendirikan Teater Alam Bengkulu sampai tahun 1999 dengan beberapa naskah diantaranya naskah Umang Umang karya Arifin C. Noer, Ibu Suri karya Wisran Hadi dan tahun 2000 hijrah ke Jakarta mementaskan Naskah Cerpen AA Navis Robohnya Surau Kami Bersama Teater Jenjang Jakarta serta grup grup teater yang ada di Jakarta dan Malaysia sebagai aktor freelance. Selama perjalanan berteater telah memainkan 67 naskah drama karya penulis dalam dan luar negeri, monolog, dan deklamator. Serta mengikuti event lomba baca puisi sampai saat ini dan kegiatan sastra lainnya hingga saat ini.

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Puisi terbaru untuk dibaca

Populer

Puisi yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist