Dengarkan Artikel
Dari Dendam ke Adonan Mie Tepung yang Mengalahkan Peluru
Oleh: Hanif Arsyad
Dosen di Universitas Malikussaleh
Pidie, 1991. Seorang bocah lelaki berusia dua belas tahun turun dari bus Bireun Express (BE) yang bau solar dan keringat. Matanya tajam, tapi bukan karena semangat belajar. Ia baru saja kehilangan ayah—tewas dalam operasi militer yang membakar gampongnya di Pidie. Di dadanya, dendam tumbuh cepat, seperti ilalang yang tak pernah ditanam.
“Kalau sudah besar, saya mau beli senjata. AK-47. Biar saya cari orang-orang yang membunuh ayah saya,” katanya suatu kali kepada seorang guru tua yang menjemputnya di terminal Banda Aceh. Sang Guru itu hanya mengangguk, lalu tersenyum kecil. Namanya Dr. Qismullah Yusuf. Seorang pendidik sekaligus pengamat masyarakat. Ia tahu, marah tak bisa dilarang—tapi bisa diarahkan.
“Kalau begitu, mari kita kumpulkan uang untuk beli senjata,” katanya, pelan. Tak sinis, tak juga main-main.
Bapak Qismullah tidak membawanya ke tempat pelatihan militer, bukan pula ke ruang konseling. Ia mengantar bocah itu ke sebuah warung kecil di Penayong. Di sana, tepung-tepung diaduk setiap pagi untuk membuat mie Aceh yang padat dan kenyal.dengan aroma kunyit dan kari menggantung di udara.
Tiga bulan kemudian, jari-jari bocah itu mulai terbiasa dengan tekstur adonan. Satu demi satu luka yang tak bisa diobati kata-kata, mulai dipulihkan oleh gerak tangan gesitnya. Marah yang semula membatu, berubah jadi ketekunan. Dendam beralih jadi disiplin. Dan semangat yang menggelegar.
Ketika hasil kerja mulai terkumpul dan tabungan tersedia dengan jumlah yang tidak begitu banyak, Bapak Qismullah bertanya, di suatu petang “Uangnya sudah cukup. Mau pesan AK-47?”
Bocah itu, yang kini beranjak menjadi remaja tangguh yang paham makna jerih payah, menatap warung mie kecilnya di emperan pasar Meulaboh yang kini sudah memiliki lima orang teman yang semuanya adalah anak korban konflik juga yang bekerja bersamanya.
Ia menjawab, “Tidak, saya mau lanjutkan usaha ini. Karena ini lebih dari sekadar bisnis. Ini cara saya menyembuhkan dendam bukan menghancurkan.”
Ekonomi Sebagai Rekonsiliasi Sunyi
Kisah ini mungkin terdengar seperti dongeng yang nyaris mustahil. Tapi ia nyata, dan terjadi berulang di banyak sudut Aceh setelah tahun-tahun gelap itu.
📚 Artikel Terkait
Bapak Qismullah memahami satu hal yang sering luput dari rumus pemulihan pascakonflik: manusia lapar tak bisa diajak berdamai. Perut kosong sulit menerima wacana keadilan. Maka sebelum membangun narasi besar tentang hak asasi, ia memilih menyediakan tempat bekerja. Sebelum menyulut idealisme, ia menghidupkan dapur-dapur kecil.
Aceh, pada akhirnya, belajar dari dapur. Bukan dari meja perundingan semata. Dan model bapak Qismullah kemudian menginspirasi banyak gerakan akar rumput—yang tak mencari panggung, tapi bekerja di senyap: membuat adonan mie, membatik, memanen lele, menyulam dari serpih serpihan trauma konflik.
Kini, di Banda Aceh, warung-warung mie tak hanya menjual makanan. Mereka menyimpan sejarah. Di balik dinding bambu dan aroma bumbu, ada kisah perubahan—dari dendam menjadi keterampilan, dari trauma menjadi kemandirian.
Pemerintah kota pun mulai sadar. Dalam lima tahun terakhir, ekonomi kreatif menjadi agenda penting dalam pembangunan Aceh. Bukan hanya demi mendongkrak pertumbuhan, tetapi untuk menjaga perdamaian yang telah susah payah diraih.
Mantan wali Kota Banda Aceh , Bapak Aminullah Usman, menyebut bahwa menjadikan kota ini sebagai destinasi wisata budaya adalah strategi pemulihan identitas kolektif. Komite Ekraf dibentuk, 17 subsektor digerakkan—dari kuliner, fesyen, hingga kriya.
Bukan tanpa tantangan. Banyak pelaku usaha kecil yang buta teknologi, banyak pula yang terkendala permodalan. Tapi langkah terus berjalan. Pelatihan pemasaran digital menjangkau anak muda gampong. Koperasi simpan pinjam kembali hidup. Di lapak pasar dan galeri seni, produk-produk lokal kini tampil percaya diri.
Sekolah yang Tumbuh dari Kios Mie
Apa dampaknya? Tidak semua bisa dihitung dengan angka. Tapi ketika warung kecil mampu menyekolahkan anak, ketika dapur kembali berasap, ketika anak-anak yatim bisa belajar ecoprint atau sablon digital—itu sudah cukup jadi bukti.
Studi yang dilakukan GeRAK Aceh pada 2023 menyimpulkan bahwa penguatan ekonomi rumah tangga langsung berdampak pada partisipasi pendidikan dan penurunan angka putus sekolah. Anak-anak korban konflik kini punya pilihan selain jalanan: mereka punya meja belajar, punya lembar kerja. Upaya ini perlu diperhatikan dengan serius oleh pemerintah.
Tidak ada pidato besar dalam kisah mie tepung itu. Tidak ada plakat, tidak ada kamera. Hanya adonan dan kerja yang terus mengalir. Tapi justru dari sanalah kita belajar, bahwa perdamaian paling kokoh dibangun dari bawah—dari pasar, dari warung, dari tangan-tangan yang sibuk bekerja.
Bapak Dr. Qismullah pernah berkata dalam satu pelatihan ecoprint,
“Perubahan mindset dimulai dari perut yang kenyang.”
Kini, anak lelaki yang dulu ingin membeli AK-47, telah menjadi pengusaha yang mempekerjakan puluhan orang. Ia tak hanya menyelamatkan dirinya dari dendam, tapi juga menyelamatkan yang lain dari nasib serupa.
Ia tak pernah membalas dengan peluru. Ia membalas dengan kemakmuran. Dan dalam kemakmuran itulah, ia menemukan damai yang tak bisa dibeli dengan senjata.
“Bek preh kiamat, bek leupah that ateuh.”
(Jangan menunggu kiamat, jangan terlalu tinggi bercita-cita. Mulailah dari yang ada.)
Kalimat itu masih terukir di ingatan para pencari perubahan. Warisan bapak Qismullah, bukan hanya sebagai guru, tapi sebagai penjahit masa depan, yang menyusun kembali serpih-serpih Aceh melalui ide, bukan mimpi, tapi kerja nyata.
(Serpihan Cerita nyata ini diceritakan pada saat Mata kuliah CCU ( Cross Culture Understanding)diruang RKU pada tahun 2000).
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






