• Latest
Membedah Sejarah, Merawat Ingatan

Ayah, Luka Pertamaku

Juli 8, 2025
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Ayah, Luka Pertamaku

Redaksiby Redaksi
Juli 8, 2025
Reading Time: 3 mins read
Membedah Sejarah, Merawat Ingatan
612
SHARES
3.4k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Nurkamari

Guru MTs Tastafi, Pidie Jaya, Alumnus Jabal Ghafur, Pidie

Aku tumbuh bukan dari cinta yang utuh, tapi dari luka yang dibiarkan terbuka.
Dan luka pertamaku… adalah kamu, Ayah.

Kau adalah alasan kenapa aku selalu merasa ada yang hilang, bahkan ketika semua orang bilang aku punya segalanya.
Kau adalah sosok yang seharusnya pertama kali mengajariku arti cinta dan perlindungan,
tapi kau justru menjadi orang pertama yang membuatku merasa ditinggalkan.

Ayah,
kau tahu betapa menyakitkannya menjadi anak perempuan yang tidak pernah tahu rasanya duduk di pangkuan ayahnya sendiri?
Yang tidak pernah tahu bagaimana rasanya dicium keningnya dan dipanggil “sayang” oleh lelaki pertama yang seharusnya mencintainya tanpa syarat?

Kau tidak pernah tahu,
karena sejak awal…
kau memilih tidak hadir.

Bukan karena mati.
Bukan karena takdir.
Tapi karena kepergian yang kau pilih sendiri.

Dan aku, anak kecil yang bahkan belum tahu cara membenci, dipaksa menerima kenyataan bahwa sosok bernama ayah hanyalah bayangan dalam pikiranku.
Bayangan yang tidak pernah benar-benar ada.

Aku menunggu…
Dulu aku sering berdiri di depan jendela, menatap jalanan yang kosong.
Berharap kau muncul.
Berharap kau datang meski hanya untuk sekadar melihatku dari jauh.

Baca Juga

a0874485-5883-4836-9faa-17bcddc8a681

Kepiting Dalam Baskom

Maret 29, 2026
​TEOLOGI LIMBAH

​TEOLOGI LIMBAH

Maret 19, 2026
Pada Secangkir Cinta

Pada Secangkir Cinta

Maret 9, 2026

Tapi yang datang hanya senyap.
Dan aku mulai menyadari…
kau tak pernah menganggapku cukup berharga untuk diperjuangkan.

Ayah,
kau tahu apa yang paling menyakitkan?
Bukan karena kau pergi.
Tapi karena kau pergi tanpa pernah menoleh.
Tanpa pernah menanyakan apakah aku baik-baik saja.
Tanpa pernah memastikan bahwa aku tumbuh dengan hati yang utuh.

Padahal aku tidak baik.
Aku patah sejak kecil.
Dan retaknya tidak pernah sembuh.

Setiap kali melihat teman sebayaku bermain dengan ayah mereka,
hatiku seperti disayat.
Aku ingin tertawa, tapi selalu ada air mata yang siap jatuh kapan saja.
Aku ingin kuat, tapi aku terlalu rapuh untuk terus berpura-pura.

Aku tidak tahu seperti apa pelukan seorang ayah.
Tapi aku tahu bagaimana rasanya iri.
Bagaimana rasanya menahan tangis sendirian.
Bagaimana rasanya mencoba tidur di malam hari dengan dada penuh pertanyaan:
“Kenapa bukan aku yang kau peluk? Kenapa bukan aku yang kau jaga?”

Kau adalah luka pertamaku, Ayah.
Luka yang tak bisa ditambal siapa pun.
Luka yang terus kubawa ke mana pun aku pergi.
Luka yang diam-diam membentuk siapa aku hari ini
seorang perempuan yang takut mencintai terlalu dalam,
karena takut ditinggalkan… seperti kau meninggalkanku.

Aku tidak membencimu.
Aku hanya kecewa.
Kecewa karena kau bahkan tidak memberi kesempatan untukku mengenalmu.
Kecewa karena aku tumbuh tanpa pernah punya kenangan tentangmu hanya rasa sakit yang tidak pernah selesai.

Ayah…
jika kau membaca ini suatu hari nanti,
ketahuilah bahwa anak perempuanmu pernah sangat merindukanmu.
Merindukan sesuatu yang bahkan tidak pernah ia miliki.
Dan sampai hari ini,
meski harapanku telah berkali-kali mati,
di dalam dada ini…
masih ada satu ruang kecil yang belum tertutup tempat luka itu tinggal dengan tenang.

Karena bagaimana pun aku mencoba melupakan,
kau tetap akan jadi nama pertama yang mengajarkanku,
bahwa cinta pertama tidak selalu indah.
Karena kadang…
cinta pertama bisa jadi luka terdalam.
Dan itu adalah kamu, Ayah.
Luka pertamaku.

ADVERTISEMENT

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 347x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 309x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 261x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 252x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 198x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Perempuan Perkasa

Perempuan Perkasa

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com