HABA Mangat

Pemenang Lomba Menulis – Edisi Agustus 2025

September 10, 2025

Tema Lomba Menulis Bulan Oktober 2025

Oktober 7, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Pemenang Lomba Menulis – Edisi Agustus 2025

September 10, 2025

Tema Lomba Menulis Bulan Oktober 2025

Oktober 7, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Mengenal Francesca Albanese, Wanita Pemberani Dunia

Redaksi by Redaksi
Juli 5, 2025
in Artikel
Reading Time: 4 mins read
0
Mengenal Francesca Albanese, Wanita Pemberani Dunia
589
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Saya secara subjektif menggelarinya wanita ini paling pemberani dunia abad ini. Apa keberaniannya? Dia melawan Israel lewat tulisan dan diplomasi dunia. Mari kita berkenalan mojang asal Italia ini yang tak kenal takut melawan kebiadaban negara Zionist. Siapkan kopi tanpa gulanya agar otak tetap encer dan waras, tak mudah baperan.

Baca Juga

Malioboro Yang Rapi, Tapi Hampa

Maret 16, 2026
Sekolah Korban Bencana Ekologis

Sekolah Korban Bencana Ekologis

Maret 16, 2026
Perempuan Indonesia Zamrud Khatulistiwa

Perempuan Indonesia Zamrud Khatulistiwa

Maret 16, 2026

Di zaman ketika moralitas ditukar dengan saham, dan nyawa manusia nilainya kalah dari saham Amazon dan Booking.com, muncul satu nama yang bukan sekadar pelapor, tapi penyalak nurani dunia, Francesca P. Albanese. Ia tidak datang membawa senjata, tapi membawa sesuatu yang jauh lebih mematikan bagi kekuasaan yang zalim, kebenaran.

Lahir pada 30 Maret 1977 di Ariano Irpino, Italia, Francesca adalah contoh sempurna dari paradoks, seorang perempuan lembut, akademisi tenang, namun kalimat-kalimatnya bisa mengguncang fondasi diplomasi internasional yang beku. Lulusan cum laude dari Universitas Pisa di bidang hukum, kemudian meraih gelar Master of Laws bidang Hak Asasi Manusia dari SOAS University of London, dan kini sedang menyelesaikan Ph.D di Universitas Amsterdam dalam hukum pengungsi internasional, Francesca bukan cuma cerdas, dia berbahaya bagi mereka yang menyembunyikan kejahatan di balik perjanjian dagang.

Sebagai Pelapor Khusus PBB untuk wilayah Palestina yang diduduki sejak 1967 (sejak Mei 2022), Francesca berdiri di podium Dewan HAM PBB dan menggugat dunia, “Israel bertanggung jawab atas salah satu genosida paling kejam dalam sejarah modern.”

Boom! Suara itu lebih meledak dari 85.000 ton bahan peledak yang telah dijatuhkan ke Gaza, senjata-senjata canggih yang katanya untuk “pertahanan diri”, tapi hasilnya adalah kuburan massal. Gaza, menurut Francesca, telah dijadikan laboratorium militer, tempat Israel menguji coba drone pembunuh, radar pintar, dan bom yang lebih “efisien”. Dan siapa investor riset ini? Amazon, Microsoft, BNP Paribas, Booking, Hyundai, daftar dosa yang tidak bisa disimpan dalam Excel.

Francesca tidak asing dengan penderitaan Palestina. Ia pernah bekerja di Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk HAM (OHCHR), dan di Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA). Dia bukan komentator. Dia saksi sejarah yang memilih menulis dengan tinta keberanian.

Ia bahkan menyebut Gaza Humanitarian Foundation, yayasan bantuan yang dibentuk Israel, sebagai jebakan kematian. Di sana, 33 pencari bantuan dibantai. Bantuan yang seharusnya menyelamatkan justru mengundang rudal. “Air dan roti dibagikan, lalu roket diluncurkan,” begitu kira-kira prinsip kerjanya.

Data tak berhenti, lebih dari 200.000 warga Palestina telah tewas atau terluka. Dalam dua hari terakhir saja, 26 pembantaian dilakukan. Sekolah, rumah sakit, pasar, tenda pengungsi, tidak satu pun luput. Direktur RS Indonesia pun ikut menjadi target, seolah membawa stetoskop dianggap tindakan subversif.

Di tengah itu semua, Francesca menulis laporan yang menyebut 48 perusahaan internasional sebagai bagian dari ekonomi pendudukan. Bukan cuma produsen senjata, tapi juga bank, raksasa energi, universitas, dan bahkan situs pariwisata. “Koloni-koloni menyebar, dibiayai bank, didukung energi fosil, dinormalisasi oleh supermarket,” katanya. Dunia yang dulu menyebut dirinya bebas, kini justru menjadi kurir bagi kolonialisme pemukim.

Francesca tidak berhenti di laporan. Ia secara resmi menghubungi semua perusahaan itu, memberikan data hukum, menunjukkan pelanggaran demi pelanggaran terhadap hak menentukan nasib sendiri, hak asasi manusia, hingga potensi keterlibatan dalam kejahatan terhadap kemanusiaan, bahkan genosida. Dari 48 perusahaan, hanya 18 yang merespons, dan hanya beberapa yang menunjukkan itikad baik. Sisanya? Menyalahkan gravitasi, mungkin.

“Mereka tidak mengerti hukum internasional. Mereka pikir hukum itu cuma alat untuk menghindar dari tanggung jawab,” tegas Francesca.

Itu bukan pendapat semata. Ia telah menulis buku seperti Palestinian Refugees in International Law (Oxford University Press, 2020) dan J’Accuse (2024), serta mendirikan Global Network on the Question of Palestine (GNQP). Akademik? Ya. Aktivis? Jelas. Tapi di atas semua itu, ia manusia yang tidak takut melawan mesin penghancur yang disembah dunia: kapitalisme berdarah.

ADVERTISEMENT

Dalam situasi absurd ini, Francesca berdiri tegak sebagai satu dari sedikit makhluk hidup yang masih menyebut genosida sebagai genosida. Di saat dunia memilih diam, karena saham naik, karena rapat dagang penting, atau karena mereka takut kehilangan kerja sama militer, dia memanggil nama-nama korporasi besar dan menyodorkan cermin. Di cermin itu, tampak wajah mereka, bukan pahlawan perdamaian, tapi penjahat berseragam bisnis.

Francesca P. Albanese telah melakukan lebih banyak dari apa yang dilakukan negara-negara besar yang katanya pembela hak asasi manusia. Suaranya adalah doa yang marah, gugatan yang membakar, dan sinar yang menembus pekat propaganda.

Lalu, kita? Kita punya dua pilihan, ikut diam dan menjadi bagian dari sejarah kelam ini… atau ikut berdiri bersama Francesca, dan membuktikan bahwa manusia belum sepenuhnya binasa.

Karena jika dunia membiarkan ini terus terjadi, maka sejarah akan mencatat bahwa Gaza bukan sekadar lokasi geografi, melainkan monumen kegagalan kemanusiaan global.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 284x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 260x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 210x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 177x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 148x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare236
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

Esai

Separuh Nafas Untuk Paruh Waktu

Maret 17, 2026
Di Antara Idealisme dan Honorarium: Potret Memalukan dalam Praktik Kolegalitas Akademik
# Ironi

Di Antara Idealisme dan Honorarium: Potret Memalukan dalam Praktik Kolegalitas Akademik

Maret 17, 2026
#Ekonomi

Malioboro Yang Rapi, Tapi Hampa

Maret 16, 2026
Sekolah Korban Bencana Ekologis
#Korban Bencana

Sekolah Korban Bencana Ekologis

Maret 16, 2026
Next Post

Going To New York - Review

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com