Dengarkan Artikel
Oleh Siska Akmal
Guru MTs Fathin Al-Aziziyah, Pidie Jaya. Baru saja lulus dari Universitas Jabal Ghafur, Sigli, Aceh
1 Juli 2025, sebuah tanggal biasa yang menjelma istimewa. Hari itu saya melangkah bukan sekadar menuju sebuah gedung, tetapi menuju sesuatu yang diam-diam telah lama saya rindukan: semangat yang hidup kembali.
Saya mengikuti kegiatan bedah buku. Materinya disampaikan langsung oleh Bapak Drs. Tabrani Yunis, sosok sederhana namun sarat makna. Penyampaiannya tak seperti ceramah yang berat, melainkan seperti sungai yang mengalir, membasuh jiwa yang mulai retak oleh waktu.
Kalimat beliau yang membekas sampai kini:
“Mulai dari nol.” Sesederhana itu, namun menyala di dalam dada. Tak ada kata terlambat, tak ada yang benar-benar tertinggal. Siapa pun bisa menjadi apa pun—asal mau memulai, meski dari nol.
Awal acara terasa sunyi. Bahkan, jujur, sempat saya anggap kegiatan ini akan membosankan. Namun saat beliau berdiri di depan, semuanya berubah. Gelak tawa pecah. Sorot mata mulai menyala.
Beliau bukan hanya berbagi ilmu—beliau membagikan semangat.
—
Namun sebelum sampai ke ruangan itu, saya diuji. Motor pinjaman dari paman tiba-tiba bocor di tengah jalan. Teman-teman melaju lebih dulu, meninggalkan saya sendiri. Dalam sepi dan debu, saya nyaris berpikir untuk pulang.
Alhamdulilah, ada suara dalam hati yang berkata,
“Sudah terlalu sering mundur. Jangan hari ini juga.”
Akhirnya saya menuju rumah ayah, menukar motor, dan kembali melaju.
Pukul 08.05, saya tancap gas. Tak ingin terlambat, apalagi tertinggal.
Lalu, saat sampai di lokasi, hanya beberapa motor yang terparkir.
📚 Artikel Terkait
Saya tersenyum lega—seandainya tadi saya menyerah, mungkin bukan hanya kehilangan acara, tetapi juga kehilangan satu cahaya penting dalam perjalanan hidup ini.
—
Saya merupakan alumni dari Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Namun saat itu, masih ada rasa malu untuk mengakuinya.
Nah, Ketika Bapak bertanya siapa yang berasal dari prodi tersebut, saya hanya diam.
Malu. Tak percaya diri.
Maaf ya, Pak… saat itu saya tak berani tunjuk tangan.
Namun, setelah mendengar kata demi kata yang Bapak sampaikan, jiwa menulis saya seperti disentuh kembali.
Bukan, saya bukan penulis hebat.
Namun setiap kali hati saya runtuh,
yang menjadi tempat berteduh adalah pena dan selembar kertas putih.
Jika takdir mempertemukan kami kembali,
izinkan saya mengucapkan terima kasih—bukan hanya lewat tulisan, tetapi langsung dari hati. Terima kasih telah menghidupkan nyala kecil dalam diri ini.
—
Materi yang disampaikan Bapak benar-benar penuh makna. Tak ada yang kosong. Tak ada yang terlewat. Semoga akan lebih banyak ruang seperti itu, ruang yang menghadirkan ilmu dan semangat, yang membangunkan orang-orang yang nyaris lupa caranya bermimpi.
Untuk siapa pun yang sedang merasa tertinggal, percayalah bahwa tak ada yang sungguh terlambat. Kita semua berhak memulai kembali, bahkan dari titik paling awal. Langkah sekecil apa pun bisa membawa menuju cahaya, asalkan tidak berhenti.
Terima kasih kepada pemerintah dan seluruh pihak yang telah menghadirkan ruang seperti ini— ruang yang bukan hanya membedah isi buku, tetapi juga membangkitkan isi jiwa. Semoga kegiatan serupa terus dihadirkan di berbagai tempat,
agar semakin banyak orang yang berani melangkah, berani bermimpi, dan tidak takut lagi untuk memulai dari nol.
—
📍 Gedung Arsip dan Perpustakaan Pidie Jaya – 1 Juli 2025
📚 Bedah Buku bersama Drs. Tabrani Yunis
✍️ Catatan oleh: seseorang yang mulai berani menulis lagi
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






