Dengarkan Artikel
Oleh Rivaldi
Wakil rakyat seharusnya menjadi jembatan antara aspirasi masyarakat dan kebijakan pemerintah. Namun, hari ini kita menyaksikan sebuah ironi yang menyedihkan di Aceh: banyak dari mereka yang duduk di kursi dewan, justru kehilangan daya kritis dan keberpihakan terhadap rakyat yang mereka wakili. Alih-alih menjadi corong suara masyarakat, mereka kerap kali bungkam, atau bahkan sibuk dengan agenda pribadi dan politik elitis yang jauh dari realita kehidupan rakyat Aceh yang masih bergelut dengan kemiskinan, pengangguran, hingga kerusakan lingkungan. Yang lebih ironisnya dari sekian banyak rakyatnya yang speak up masalah menolak beberapa pembangunan batalyon di Aceh karena selain melanggar MOU Helsinki juga membangkit trauma lama di masyarakat mereka memilih bungkam tanpa kejelasan.
Ketiadaan sikap tegas terhadap berbagai persoalan publik, seperti mangkraknya pembangunan, lemahnya pengawasan terhadap kebijakan pemerintah daerah, dan minimnya transparansi anggaran, menegaskan bahwa sebagian besar wakil rakyat Aceh hanya hadir secara administratif, bukan secara substansial. Mereka tampak lebih nyaman dalam zona diam, daripada bersuara lantang memperjuangkan hak-hak rakyat.
📚 Artikel Terkait
Lebih ironis lagi, ketika suara-suara kritis dari mahasiswa, aktivis, dan masyarakat sipil sering kali tak digubris, atau bahkan dianggap sebagai gangguan. Padahal, dalam sistem demokrasi yang sehat, suara rakyat adalah bahan bakar utama bagi para legislator dalam merumuskan kebijakan. Jika suara itu diabaikan, lalu atas nama siapa mereka bekerja?
Hilangnya peran wakil rakyat Aceh bukan sekadar soal kinerja, tapi soal moral dan keberanian. Kita butuh wakil rakyat yang bukan hanya tahu cara berbicara di forum resmi, tetapi juga berani berdiri di garis depan bersama rakyat. Jika tidak, maka keberadaan mereka hanya akan menjadi simbol kosong dari demokrasi yang pincang.
Sudah saatnya rakyat Aceh bersuara lebih keras, menagih pertanggungjawaban mereka yang selama ini lebih memilih diam. Sebab dalam diam mereka, derita rakyat semakin panjang.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






