Hilangnya Peran Wakil Rakyat Aceh dalam Menyuarakan Suara Rakyat Aceh Sendiri

Hilangnya Peran Wakil Rakyat Aceh dalam Menyuarakan Suara Rakyat Aceh Sendiri - 2025 06 10 19 20 08 | # Ironi | Potret Online
Ilustrasi: Hilangnya Peran Wakil Rakyat Aceh dalam Menyuarakan Suara Rakyat Aceh Sendiri
WA FB X

Oleh Rivaldi

Wakil rakyat seharusnya menjadi jembatan antara aspirasi masyarakat dan kebijakan pemerintah. Namun, hari ini kita menyaksikan sebuah ironi yang menyedihkan di Aceh: banyak dari mereka yang duduk di kursi dewan, justru kehilangan daya kritis dan keberpihakan terhadap rakyat yang mereka wakili. Alih-alih menjadi corong suara masyarakat, mereka kerap kali bungkam, atau bahkan sibuk dengan agenda pribadi dan politik elitis yang jauh dari realita kehidupan rakyat Aceh yang masih bergelut dengan kemiskinan, pengangguran, hingga kerusakan lingkungan. Yang lebih ironisnya dari sekian banyak rakyatnya yang speak up masalah menolak beberapa pembangunan batalyon di Aceh karena selain melanggar MOU Helsinki juga membangkit trauma lama di masyarakat mereka memilih bungkam tanpa kejelasan.

Ketiadaan sikap tegas terhadap berbagai persoalan publik, seperti mangkraknya pembangunan, lemahnya pengawasan terhadap kebijakan pemerintah daerah, dan minimnya transparansi anggaran, menegaskan bahwa sebagian besar wakil rakyat Aceh hanya hadir secara administratif, bukan secara substansial. Mereka tampak lebih nyaman dalam zona diam, daripada bersuara lantang memperjuangkan hak-hak rakyat.

Lebih ironis lagi, ketika suara-suara kritis dari mahasiswa, aktivis, dan masyarakat sipil sering kali tak digubris, atau bahkan dianggap sebagai gangguan. Padahal, dalam sistem demokrasi yang sehat, suara rakyat adalah bahan bakar utama bagi para legislator dalam merumuskan kebijakan. Jika suara itu diabaikan, lalu atas nama siapa mereka bekerja?

Baca Juga

Hilangnya peran wakil rakyat Aceh bukan sekadar soal kinerja, tapi soal moral dan keberanian. Kita butuh wakil rakyat yang bukan hanya tahu cara berbicara di forum resmi, tetapi juga berani berdiri di garis depan bersama rakyat. Jika tidak, maka keberadaan mereka hanya akan menjadi simbol kosong dari demokrasi yang pincang.

Sudah saatnya rakyat Aceh bersuara lebih keras, menagih pertanggungjawaban mereka yang selama ini lebih memilih diam. Sebab dalam diam mereka, derita rakyat semakin panjang.

ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Penulis
Rivaldi
Rivaldi Ketua umum HMI komisariat FKIP USK, Banda Aceh

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.