POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Berakhirnya Demokrasi Lima Kotak Suara

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
June 27, 2025
Berakhirnya Demokrasi Lima Kotak Suara
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Sistem Pemilu berubah lagi. Dulu terpisah, lalu disatukan. Sekarang, dipisahkan lagi. Negeri ini tidak pernah berhenti berinovasi demokrasi. Padahal, mau dipisah atau disatukan, substansinya tidak pernah berubah. Tetap saja money politic merajalela. “Buah sawit kayu ara, ada duit ada suara,” kata orang Landak Kalbar. Mari kita ungkap, kenapa MK harus menceraikan Pemilu dan Pilkada? Kali ini saya tak minum kopi lagi, karena sudah tiga gelas hari ini.

Mahkamah Konstitusi akhirnya muncul bak dewa politik dari langit hukum. Lalu, menurunkan wahyu suci berupa Putusan Nomor 135/PUU-XXII/2024. Sejarah mencatat hari itu sebagai momen penyelamatan massal dari lima kotak suara yang selama ini membuat rakyat trauma akut seperti mantan yang tak kunjung move on. MK, dengan palu kebesarannya, resmi memisahkan Pemilu nasional dan Pemilu daerah mulai tahun 2029. Ini bukan keputusan biasa. Ini adalah revolusi spiritual demokrasi yang mungkin akan dikenang anak cucu bangsa sambil menangis haru di pojok bilik suara.

Coba renungkan, wak! Dulunya, setiap lima tahun sekali, rakyat jelata disuruh mencoblos lima kertas suara dalam satu hari. Lima! Seolah mereka adalah algoritma superkomputer yang bisa menimbang antara visi-misi presiden, latar belakang caleg DPR, rekam jejak DPD, kualitas DPRD provinsi, hingga tingkat kerajinan caleg DPRD kabupaten yang kadang fotonya lebih cocok jadi bintang iklan skincare. Sungguh pesta demokrasi yang lebih menyerupai kompetisi lari maraton dengan rintangan intelektual, emosi, dan ketahanan fisik. Banyak yang pingsan, bingung, bahkan ada yang mencoblos sambil mengigau nama gebetan. Ini bukan demokrasi, ini penganiayaan konstitusional terselubung.

Seperti kisah epik dalam kitab politik modern, MK akhirnya menabuh genderang perubahan. Pemilu kini akan dibagi menjadi dua babak, dua musim, dua fase kehidupan demokrasi. Pemilu nasional, tempat para capres dan caleg DPR RI bertarung seperti gladiator, akan digelar lebih dahulu. Setelah itu, rakyat diberi waktu napas, minum kopi, istirahat dari baliho, sebelum disambut Pilkada dua tahun kemudian. Seperti jeda iklan di sinetron, cukup untuk makan gorengan sambil berpikir siapa calon bupati yang tidak pernah viral karena kasus korupsi.

📚 Artikel Terkait

Luka yang Menjadi Cahaya

Pendidikan Tak Butuh Manutan, Tapi Terobosan

RETORIKA PEMBANGUNAN PENDIDIKAN

Sepeda Transportasi Ramah Lingkungan

Tentu, seperti biasa dalam setiap kisah besar, tidak semua tokoh bahagia. Di Senayan, beberapa anggota DPR mencak-mencak, merasa MK telah “melompat pagar” dan masuk ke pekarangan legislator. Mereka merasa dilewati, tak diajak diskusi, seperti anak kos yang pulang-pulang mendapati kamarnya diganti jadi warung kelontong. Tapi bagi rakyat, keputusan MK ini adalah cahaya dari ujung lorong demokrasi. Sebuah keajaiban yang lebih indah dari diskon minyak goreng.

Kini, masa depan pemilu Indonesia menjadi seperti drama berseri. Ada season 1: Pemilu Nasional. Dan season 2: Pilkada. Kita tinggal tunggu siapa yang akan jadi tokoh utama, siapa yang jadi figuran, dan siapa yang akan mati gaya karena tidak bisa lagi nebeng popularitas capres. Efek “ekor jas” pun tamat. Politisi lokal harus berdiri di atas kaki sendiri, tidak bisa lagi berharap popularitas presiden akan menyeret mereka ke kursi DPRD seperti arus banjir membawa sandal jepit.

Demokrasi kita akhirnya naik level. Dari sistem serentak absurd jadi sistem terpisah yang (setidaknya dalam teori) lebih manusiawi. Mungkin masih banyak kekacauan nanti, tapi paling tidak, kali ini, kita bisa mencoblos dengan napas panjang, dengan niat lurus, dan tanpa harus disuapi lima surat suara seperti bayi politik yang baru belajar makan.

Putusan MK ini bisa jadi bukan revolusi, tapi paling tidak ini reformasi versi upgrade, seperti mengganti kartu SIM 3G ke 5G. Demokrasi Indonesia tidak lagi dipaksa multitasking. Rakyat punya waktu untuk mikir. Politisi punya ruang untuk drama. MK, sekali lagi, membuktikan bahwa mereka masih punya rasa, rasa empati pada jari-jari tangan yang capek mencoblos lima kotak.

Semoga demokrasi kita tetap absurd, tapi bukan ngawur. Karena dalam negara yang waras, rakyat tidak boleh dibiarkan pingsan hanya karena memilih pemimpin.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Jejak Wangsa Jamalullail: dari Tahta Kesultanan ke Blang Padang

Jejak Wangsa Jamalullail: dari Tahta Kesultanan ke Blang Padang

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00