Dengarkan Artikel
Oleh: Dayan Abdurrahman,
Di tengah kemajuan teknologi dan komunikasi global, dunia justru dihadapkan pada kemunduran moral yang luar biasa. Perang, penjajahan, dan kekerasan kini tidak lagi hadir dengan wajah terang-terangan seperti abad-abad sebelumnya. Mereka hadir dalam bentuk “misi kemanusiaan,” “operasi militer terbatas,” atau “perlindungan atas hak kedaulatan.” Namun di balik itu semua, sesungguhnya yang bekerja adalah mesin kekuasaan dan kerakusan yang mengabaikan suara nurani.
Konflik yang tengah berlangsung antara Iran dan Israel, serta penderitaan panjang rakyat Palestina, bukan semata-mata konflik sektarian atau soal ideologi. Ini adalah pertarungan kepentingan geopolitik dan perebutan pengaruh regional yang sarat dengan ambisi penguasa dan hipokrisi negara-negara besar.
Antara Agresi dan Resistensi
Sejak puluhan tahun, Israel telah menjadi simbol dari satu proyek kolonial modern yang dibentengi dan disokong penuh oleh kekuatan Barat, khususnya Amerika Serikat dan sekutunya. Di tanah Palestina, yang seharusnya menjadi rumah bersama, kekuatan militer digunakan untuk mengusir, menduduki, dan menindas. Pemukiman ilegal diperluas, rakyat diblokade, dan suara-suara kritis dibungkam.
Ketika rakyat Palestina melakukan perlawanan, mereka dicap sebagai teroris. Namun dunia seakan tuli ketika bom dijatuhkan ke rumah sakit, ketika anak-anak menjadi korban, atau ketika embargo menghancurkan generasi baru.
Iran, di sisi lain, yang secara historis tidak pernah melancarkan ekspansi militer lintas benua seperti kekuatan Barat, justru digambarkan sebagai ancaman global. Padahal, selama bertahun-tahun Iran hidup di bawah tekanan sanksi ekonomi, provokasi militer, dan operasi intelijen yang terang-terangan dilakukan oleh kekuatan luar. Ketika Iran merespons secara militer, barulah media Barat ramai menuding bahwa mereka melanggar hukum internasional.
Kemunafikan Dunia Barat
Inilah wajah dunia yang sesungguhnya hari ini: kemunafikan kolektif yang disponsori oleh kekuatan besar. Negara-negara yang mengaku menjunjung tinggi hak asasi manusia justru adalah produsen senjata terbesar. Mereka mendanai perang, menjual alat pemusnah massal, namun di panggung internasional tampil sebagai pembawa damai.
Mereka tak segan mengintervensi negara lain dengan alasan “melindungi warga sipil” – seperti yang terjadi di Irak, Suriah, atau Libya – namun di waktu bersamaan menutup mata terhadap kejahatan yang dilakukan oleh sekutu mereka.
📚 Artikel Terkait
Lebih ironis lagi, mereka sering membungkus kepentingan politik dan ekonomi dengan jargon idealistik seperti “demokrasi,” “perlindungan terhadap minoritas,” atau “stabilitas kawasan.” Padahal yang mereka jaga hanyalah akses terhadap minyak, sumber daya alam, dan pengaruh politik strategis.
Jika Barat benar-benar menjunjung perdamaian, mengapa mereka tidak menggunakan kekuatan diplomatik dan ekonomi untuk menghentikan pendudukan Israel di Palestina? Mengapa suara rakyat Palestina tak pernah mendapat tempat dalam forum-forum dunia? Mengapa Iran tak diberikan ruang untuk membela kedaulatannya secara setara?
Jawabannya jelas: karena dunia tidak sedang dipimpin oleh prinsip, tetapi oleh kepentingan.
Perang Bukan Kehendak Rakyat
Konflik-konflik ini bukanlah kehendak rakyat. Tak ada rakyat yang ingin negaranya dibombardir. Tak ada ibu yang ingin anaknya menjadi tentara di usia belia. Tak ada pemuda yang bercita-cita menjadi martir karena rumahnya hancur. Semua ini adalah hasil ambisi dan ego pemimpin-pemimpin negara yang menjadikan rakyat sebagai pion.
Rakyat Palestina ingin hidup tenang. Rakyat Iran ingin makan dengan tenang tanpa sanksi. Rakyat Israel pun, jika ditanya secara jujur, pasti lebih ingin berdamai daripada terus hidup dalam ketakutan. Namun suara mereka tenggelam di antara jeritan propaganda, intimidasi elite, dan tekanan kekuatan global.
Kondisi ini seharusnya menggugah kesadaran dunia internasional: bahwa jika rakyat terus diam, dunia akan terus dikuasai oleh mereka yang tidak layak memimpin. Mereka yang tidak berbicara hari ini, akan menangisi esok yang lebih kelam.
Visi Ke Depan: Dunia Tanpa Perang
Hari ini dunia menghadapi risiko besar: perang global skala penuh. Jika konflik di Timur Tengah terus meningkat, dan kekuatan besar ikut terseret secara langsung, maka Perang Dunia III bukan lagi fiksi. Ini akan menjadi kenyataan yang menghancurkan segalanya.
Namun masih ada harapan. Dunia sudah memasuki era keterhubungan informasi. Setiap rakyat memiliki suara, dan suara itu bisa digemakan melalui media sosial, gerakan sipil, kampanye global, dan tekanan ekonomi terhadap perusahaan dan pemerintah yang mendukung perang.
Kita bisa belajar dari gerakan-gerakan rakyat di seluruh dunia: demonstrasi pro-Palestina di Eropa, penolakan warga Amerika terhadap intervensi luar negeri, boikot terhadap produk yang membiayai penjajahan, serta solidaritas antarbangsa yang muncul dari berbagai komunitas sipil.
Penutup: Bangkitnya Kesadaran Kolektif
Kini, bukan saatnya rakyat dunia diam. Saatnya rakyat di Barat maupun Timur bersatu dalam visi yang sama: kemanusiaan, keadilan, dan kedamaian. Dunia harus diselamatkan dari para penguasa yang menjadikan kekuasaan sebagai alat kehancuran.
Islam tidak pernah memulai agresi, tetapi selalu menjadi garda dalam membela kehormatan dan hak. Jika dunia benar-benar ingin adil, dengarkanlah suara dari para korban, bukan dari para penjajah. Dan jika para pemimpin tidak mampu lagi membawa perdamaian, maka biarlah rakyat dunia yang melakukannya—dengan kesadaran, keberanian, dan persatuan lintas batas.
Dayan Abdurrahman adalah peneliti independen dan pemerhati geopolitik global. Ia aktif menulis isu-isu terkait konflik, keadilan internasional, dan dinamika kekuatan global dari perspektif keadilan rakyat.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






