• Latest
Dunia dalam Eskalasi: Ketika Rakyat Menjadi Korban Ambisi Para Penguasa - 99840128 d4ca 41aa a17a 4104b004adac | # Kebijakan Trump | Potret Online

Dunia dalam Eskalasi: Ketika Rakyat Menjadi Korban Ambisi Para Penguasa

Juni 26, 2025
file_00000000e608720b92fed92bd3c55b54

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026
file_000000007ff0720bbf683bd905ac60ed

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
3a73ee9a-87d0-4bf2-aa52-0c77db8a9144

Pengaruh Self-Efficacy Terhadap Prestasi Akademik: Tinjauan Psikologi dan Bukti Empiris

April 19, 2026
IMG_0839

Demokrasi Di Ujung Tanduk?

April 19, 2026
d6285489-5291-4630-bb73-f4e571585b61

‎Ghost in the Cell: Bukan Sekadar Horor Fiksi, Melainkan Realitas Pahit Ketidakadilan Sistem

April 19, 2026
fd4ef5b5-307b-48e6-adff-f924e420a87b

Mengkritik Dan Mengajak Merenung Melalui Puisi Esai

April 19, 2026
ad86b955-a8e6-412e-b371-a15c846736db

Sedih Sekali, Ibu Guru Diacungi Jari Tengah oleh Siswanya Sendiri

April 19, 2026
Minggu, April 19, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Dunia dalam Eskalasi: Ketika Rakyat Menjadi Korban Ambisi Para Penguasa

Dayan Abdurrahman by Dayan Abdurrahman
Juni 26, 2025
in # Kebijakan Trump, Amerika, Analisis, Israel, Konflik
Reading Time: 4 mins read
0
Dunia dalam Eskalasi: Ketika Rakyat Menjadi Korban Ambisi Para Penguasa - 99840128 d4ca 41aa a17a 4104b004adac | # Kebijakan Trump | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh: Dayan Abdurrahman,

Di tengah kemajuan teknologi dan komunikasi global, dunia justru dihadapkan pada kemunduran moral yang luar biasa. Perang, penjajahan, dan kekerasan kini tidak lagi hadir dengan wajah terang-terangan seperti abad-abad sebelumnya. Mereka hadir dalam bentuk “misi kemanusiaan,” “operasi militer terbatas,” atau “perlindungan atas hak kedaulatan.” Namun di balik itu semua, sesungguhnya yang bekerja adalah mesin kekuasaan dan kerakusan yang mengabaikan suara nurani.

Konflik yang tengah berlangsung antara Iran dan Israel, serta penderitaan panjang rakyat Palestina, bukan semata-mata konflik sektarian atau soal ideologi. Ini adalah pertarungan kepentingan geopolitik dan perebutan pengaruh regional yang sarat dengan ambisi penguasa dan hipokrisi negara-negara besar.

Antara Agresi dan Resistensi

Sejak puluhan tahun, Israel telah menjadi simbol dari satu proyek kolonial modern yang dibentengi dan disokong penuh oleh kekuatan Barat, khususnya Amerika Serikat dan sekutunya. Di tanah Palestina, yang seharusnya menjadi rumah bersama, kekuatan militer digunakan untuk mengusir, menduduki, dan menindas. Pemukiman ilegal diperluas, rakyat diblokade, dan suara-suara kritis dibungkam.

Ketika rakyat Palestina melakukan perlawanan, mereka dicap sebagai teroris. Namun dunia seakan tuli ketika bom dijatuhkan ke rumah sakit, ketika anak-anak menjadi korban, atau ketika embargo menghancurkan generasi baru.

Iran, di sisi lain, yang secara historis tidak pernah melancarkan ekspansi militer lintas benua seperti kekuatan Barat, justru digambarkan sebagai ancaman global. Padahal, selama bertahun-tahun Iran hidup di bawah tekanan sanksi ekonomi, provokasi militer, dan operasi intelijen yang terang-terangan dilakukan oleh kekuatan luar. Ketika Iran merespons secara militer, barulah media Barat ramai menuding bahwa mereka melanggar hukum internasional.

Kemunafikan Dunia Barat

Inilah wajah dunia yang sesungguhnya hari ini: kemunafikan kolektif yang disponsori oleh kekuatan besar. Negara-negara yang mengaku menjunjung tinggi hak asasi manusia justru adalah produsen senjata terbesar. Mereka mendanai perang, menjual alat pemusnah massal, namun di panggung internasional tampil sebagai pembawa damai.

Mereka tak segan mengintervensi negara lain dengan alasan “melindungi warga sipil” – seperti yang terjadi di Irak, Suriah, atau Libya – namun di waktu bersamaan menutup mata terhadap kejahatan yang dilakukan oleh sekutu mereka.

Lebih ironis lagi, mereka sering membungkus kepentingan politik dan ekonomi dengan jargon idealistik seperti “demokrasi,” “perlindungan terhadap minoritas,” atau “stabilitas kawasan.” Padahal yang mereka jaga hanyalah akses terhadap minyak, sumber daya alam, dan pengaruh politik strategis.

Jika Barat benar-benar menjunjung perdamaian, mengapa mereka tidak menggunakan kekuatan diplomatik dan ekonomi untuk menghentikan pendudukan Israel di Palestina? Mengapa suara rakyat Palestina tak pernah mendapat tempat dalam forum-forum dunia? Mengapa Iran tak diberikan ruang untuk membela kedaulatannya secara setara?

Jawabannya jelas: karena dunia tidak sedang dipimpin oleh prinsip, tetapi oleh kepentingan.

Perang Bukan Kehendak Rakyat

Konflik-konflik ini bukanlah kehendak rakyat. Tak ada rakyat yang ingin negaranya dibombardir. Tak ada ibu yang ingin anaknya menjadi tentara di usia belia. Tak ada pemuda yang bercita-cita menjadi martir karena rumahnya hancur. Semua ini adalah hasil ambisi dan ego pemimpin-pemimpin negara yang menjadikan rakyat sebagai pion.

Rakyat Palestina ingin hidup tenang. Rakyat Iran ingin makan dengan tenang tanpa sanksi. Rakyat Israel pun, jika ditanya secara jujur, pasti lebih ingin berdamai daripada terus hidup dalam ketakutan. Namun suara mereka tenggelam di antara jeritan propaganda, intimidasi elite, dan tekanan kekuatan global.

Kondisi ini seharusnya menggugah kesadaran dunia internasional: bahwa jika rakyat terus diam, dunia akan terus dikuasai oleh mereka yang tidak layak memimpin. Mereka yang tidak berbicara hari ini, akan menangisi esok yang lebih kelam.

Visi Ke Depan: Dunia Tanpa Perang

Hari ini dunia menghadapi risiko besar: perang global skala penuh. Jika konflik di Timur Tengah terus meningkat, dan kekuatan besar ikut terseret secara langsung, maka Perang Dunia III bukan lagi fiksi. Ini akan menjadi kenyataan yang menghancurkan segalanya.

Namun masih ada harapan. Dunia sudah memasuki era keterhubungan informasi. Setiap rakyat memiliki suara, dan suara itu bisa digemakan melalui media sosial, gerakan sipil, kampanye global, dan tekanan ekonomi terhadap perusahaan dan pemerintah yang mendukung perang.

Kita bisa belajar dari gerakan-gerakan rakyat di seluruh dunia: demonstrasi pro-Palestina di Eropa, penolakan warga Amerika terhadap intervensi luar negeri, boikot terhadap produk yang membiayai penjajahan, serta solidaritas antarbangsa yang muncul dari berbagai komunitas sipil.

Penutup: Bangkitnya Kesadaran Kolektif

Kini, bukan saatnya rakyat dunia diam. Saatnya rakyat di Barat maupun Timur bersatu dalam visi yang sama: kemanusiaan, keadilan, dan kedamaian. Dunia harus diselamatkan dari para penguasa yang menjadikan kekuasaan sebagai alat kehancuran.

Islam tidak pernah memulai agresi, tetapi selalu menjadi garda dalam membela kehormatan dan hak. Jika dunia benar-benar ingin adil, dengarkanlah suara dari para korban, bukan dari para penjajah. Dan jika para pemimpin tidak mampu lagi membawa perdamaian, maka biarlah rakyat dunia yang melakukannya—dengan kesadaran, keberanian, dan persatuan lintas batas.


Dayan Abdurrahman adalah peneliti independen dan pemerhati geopolitik global. Ia aktif menulis isu-isu terkait konflik, keadilan internasional, dan dinamika kekuatan global dari perspektif keadilan rakyat.

Share234SendTweet146Share
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Next Post
Dunia dalam Eskalasi: Ketika Rakyat Menjadi Korban Ambisi Para Penguasa - c9e3674c 5e0f 4af2 a32d e63bd3cb7651 | # Kebijakan Trump | Potret Online

Perempuan-Perempuan yang Belajar Menganyam Tudung Saji

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com