Dengarkan Artikel
Oleh Hanif Arsyad
Dosen Universitas Malikusaaleh, Lhok Seumawe
Pada tahun 1970-an, sekolah bukan hanya tempat belajar, tapi ruang peradaban. Sekolah-sekolah dibangun lewat gotong royong masyarakat, bukan proyek APBN. Para guru, meski bukan pegawai negeri, menjalankan peran mereka dengan dedikasi luar biasa. Mereka tidak digaji layak, tapi dihormati setinggi-tingginya. Ilmu diwariskan bukan lewat slide PowerPoint, melainkan lewat teladan: ucapan, gerak tubuh, bahkan pilihan hidup.
Kini, setengah abad kemudian, gedung gedung sekolah megah menjangkau pelosok negeri disertai fasilitas- fasilitas pendukung proses mengajar yang canggih, meskipun tidak semuanya merata ke pelosok daerah, seperti Proyektor, Wi-Fi, dan anggaran pendidikan 20% dari APBN bukan lagi mimpi. Tapi ada yang diam-diam runtuh, hilang yaitu roh pendidikan itu sendiri—adab dan keteladanan.
Guru: Dari Pencerah Jiwa Menjadi Pengejar Transformasi Administratif
Potret seorang guru dalam sistem pendidikan nasional telah bergeser dari sosok teladan menjadi birokrat akademik. Sejak diberlakukannya UU Sisdiknas 2003 yang mengubah fungsi guru menjadi “seorang fasilitator”, guru-guru telah termotivasi oleh perubahan target kurikulum bersama dengan metrik keberhasilan yang dapat diukur.
Pelaporan RPP, data akreditasi, dan sistem evaluasi bertingkat telah menghilangkan waktu bagi guru untuk merenung dengan benar bersama siswa mereka. Ditambah dengan sistem rekrutmen terbuka yang menghilangkan syarat bahwa guru harus berasal dari LPTK. Terlalu banyak pengajar yang kurang pengetahuan tentang pedagogi atau psikologi perkembangan anak. Lalu siapa di antara kita yang masih bisa menjadi teladan moral bagi kaum muda?
Siswa Digital dan Dekradasi Moral
📚 Artikel Terkait
Phenomena siswa siswa di kelas hari ini, guru tidak lagi jadi satu-satunya sumber ilmu. Ponsel pintar sudah mulai mengantikan peran mereka, dan sekarang YouTube malah lebih dipercaya daripada penjelasan langsung dari guru. Akibatnya, banyak siswa kehilangan pegangan utama soal nilai dan moral. Mereka tumbuh di tengah lautan informasi tanpa panduan etika, dan sulit membedakan mana data yang penting dan mana contoh benar yang harus diambil.
Situasi ini makin parah setelah pengalaman belajar dari jauh selama pandemi. Interaksi sosial jadi berkurang, empati mulai memudar. Dan adab—yang dulunya tumbuh dari tatapan mata hangat atau salaman pagi—sekarang kayak hilang tanpa jejak.
Sistem yang Fragmentaris
Sistem pendidikan kita juga makin terpecah-pecah. Pendidikan karakter, misalnya, cuma jadi bagian kecil di mata pelajaran tertentu (seperti PPKn), padahal nilai-nilai ini seharusnya hidup dalam semua proses belajar mengajar. Siswa harus diajari pentingnya hormat pada guru, tapi di saat yang sama, sistem lewat standar penilaian nasional yang seragam melemahkan peran guru dan nilai sosial budaya lokal seperti terlupakan. Di sisi lain, teknologi diadopsi tanpa disertai literasi etik yang cukup.
Penggunaan gadget di kelas sering malah menganggu fokus dan bukannya memperluas wawasan. Tapi ini bukan cuma soal teknologi—lebih ke persoalan gagalnya mengintegrasikan nilai-nilai moral dalam penggunaannya.
Belajar dari Masa Lalu
Kalau lihat ke belakang, tahun 1970-an, Malaysia pernah mengajak guru-guru dari Indonesia untuk membuat dan merancang sistem pendidikan mereka. Sekarang, mereka jadi salah satu negara ASEAN dengan performa pendidikan yang lebih baik. Sementara Finlandia—yang sering dijadikan contoh pendidikan terbaik, hanya terima sekitar 10% pelamar guru, dan mereka seleksi berdasarkan karakter dan kapasitas mengajar. Kalau kondisi di tempat kita bagaimana?
Guru kita masih dipandang sebatas profesi teknis, padahal mereka seharusnya menjadi pilar budaya dan moral bangsa. Kita harus bangkit dan bangun semangat baru untuk pendidikan. Bukan cuma revisi kurikulum, tapi revolusi dalam nilai dan visi pendidikan itu sendiri.
Pertama, LPTK harus dirombak total. Seleksi masuk harus seketat fakultas kedokteran, dan materi perkuliahan harus mengintegrasikan pendidikan karakter yang nyata, bukan cuma teori. Kedua, beban administratif guru harus dikurangi banget. Biar mereka punya waktu dan ruang buat membangun hubungan emosional dan menanamkan nilai-nilai ke siswa. Ketiga, literasi digital harus diseiringkan dengan literasi etik. Kalau cuma akses informasi tanpa nilai, kita bakal punya generasi yang cemas dan terasing. Keempat, perlu dilakukan audit menyeluruh buat kompetensi guru, baik dari segi akademik maupun moral. Guru yang tidakmemenuhi standar harus dikasih pelatihan ulang, bukan cuma dibiarkan mengajar tanpa bekal.
Sebagai penutup, mari kita buka mata dan hati bersama. Pendidikan kita saat ini sedang di persimpangan jalan. Ibarat pisau bermata dua, ada jalur yang menawarkan kemajuan teknologi dan infrastruktur yang keren, tapi roh dan semangatnya tertinggal. Kita kehilangan sesuatu yang berharga : guru sebagai panutan, ilmu sebagai cahaya, dan adab sebagai pondasi utama. Mari bangkit bersama, supaya pendidikan tidak cuma maju secara teknologi, tapi juga penuh makna dan karakter yang menghidupkan Kembali Jiwa Pendidikan itu sendiri, ’pendidikan bukan hanya tentang apa yang diajarkan, tetapi siapa yang mengajarkan, dan bagaimana ia hidup dalam nilai-nilai itu’.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






