POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Sapi Kurus, Harga Diri, dan Kedaulatan Ekonomi di Tengah Krisis

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
June 16, 2025
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Dayan Abdurrahman

Di tengah sorotan tajam terhadap angka kemiskinan yang terus membayangi banyak daerah, kisah sederhana dari seorang mantri kesehatan manusia di Aceh ini tampak begitu kecil. Tapi justru di situlah kekuatannya. Dengan mengandalkan keahlian medisnya, ia membeli sapi-sapi kecil yang kurus dan seolah tak berharga, lalu merawatnya seperti ia merawat manusia: diberi mandi, dibersihkan dari parasit, disuntik, diberi nutrisi, diajak bicara, bahkan diberi kuih.

Setiap sore, ia datang ke kandangnya. Ia isi bak air, ia berikan makanan tambahan, ia panggil sapinya satu per satu dengan nama. Dan hasilnya? Sapi-sapi yang dulu tampak lemah tumbuh menjadi sehat, ada yang mulai mengandung, ada yang sudah melahirkan. Ia menyebutnya bukan sekadar beternak, tapi membangun ikatan, menyambung hidup.

Kisah ini mungkin terdengar sentimentil. Tapi dalam konteks krisis penghidupan hari ini, ia adalah simbol perlawanan terhadap ketergantungan, sekaligus tawaran jalan keluar. Di tengah narasi besar soal ketahanan pangan, proyek-program ekonomi makro, dan anggaran negara yang sering tak menyentuh akar persoalan, praktik semacam ini adalah contoh nyata ekonomi rakyat yang berbasis pada kemandirian dan cinta.

Peternakan dan Pertanian sebagai Pilar Livelihood

Dalam dunia pembangunan, kita mengenal istilah “livelihood”—cara orang bertahan hidup secara berkelanjutan. Di banyak daerah pedesaan, termasuk Aceh, dua sumber utama livelihood adalah pertanian dan peternakan. Tapi sayangnya, dua sektor ini sering diabaikan oleh kebijakan. Peternak kecil dibiarkan berjalan sendiri. Petani dibiarkan terjebak pada sistem tengkulak atau permainan harga pasar.

Padahal, jika diberdayakan secara serius, pertanian dan peternakan bisa menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Bukan dalam skala besar, bukan dalam bentuk korporasi, tapi lewat skema-skema kecil berbasis rumah tangga yang mandiri. Seperti yang dilakukan oleh mantri tadi.

Memadukan Ilmu dan Kepedulian

Apa yang dilakukan oleh sang mantri bukanlah hasil pelatihan proyek luar negeri atau CSR korporasi. Ia menggabungkan apa yang ia punya—ilmu kesehatan manusia, waktu luang, dan rasa cinta terhadap makhluk hidup. Di situlah esensi dari pemberdayaan. Bukan soal modal besar, tapi soal kemauan dan keberanian untuk memulai.

Kita perlu lebih banyak “mantri-mantri” seperti ini: orang-orang biasa yang mau berpikir kreatif, memanfaatkan ilmu, dan bekerja dengan hati. Dalam konteks ekonomi nasional, mereka adalah ujung tombak yang sering tidak terlihat, tapi menopang struktur paling dasar dari daya tahan ekonomi rakyat.

Melampaui Bantuan, Menuju Kedaulatan

📚 Artikel Terkait

Syukur yang (Tak) Pernah Selesai

Orang-Orang yang Dibolehkan Tidak Berpuasa pada Bulan Ramadan

Shalat Berjamaah dan Pengajian Al-Qur’an: Menuju Aceh yang Lebih Islami dan Bermartabat

Gemar Berteriak (namun) Tak Berbuat

Saat ini banyak program bantuan bergulir, dari BLT, kartu tani, hingga subsidi pupuk. Tapi semua itu bersifat sementara. Ketika bantuan berhenti, ketergantungan kembali muncul. Jalan keluar sejatinya bukan terletak pada bantuan, tapi pada kedaulatan. Kedaulatan untuk mengatur sendiri sumber hidup.

Peternakan kecil berbasis rumah tangga adalah bentuk kedaulatan. Ia tidak tergantung pada distribusi pasar nasional. Ia bisa tumbuh secara lokal, menyuplai daging untuk tetangga, menjadi tabungan keluarga, bahkan aset pendidikan anak-anak.

Seni Merawat, Bukan Sekadar Beternak

Yang membedakan kisah ini dengan beternak biasa adalah nilai yang melekat di dalamnya: seni merawat. Sapi-sapi itu tidak diperlakukan seperti barang produksi, tapi seperti makhluk hidup yang berhak mendapatkan kasih. Ada percakapan, ada perhatian, ada nama yang disebut. Di situlah tumbuh bukan hanya daging, tapi ikatan. Dan ikatan sosial yang tumbuh dari hubungan manusia dan hewan, adalah bagian dari ekologi kehidupan yang sehat.

Perspektif Sosial dan Budaya

Dalam konteks Aceh, relasi antara manusia dan ternak bukan sekadar soal ekonomi. Ia berkaitan dengan nilai adat, keberlanjutan hidup, dan rasa memiliki terhadap tanah dan komunitas. Seni memberi kuih untuk sapi bukan praktik konyol, tapi bentuk spiritualitas rakyat yang peka dan lembut.

Budaya merawat dengan kasih inilah yang hari ini semakin langka dalam ekonomi modern. Di tengah gempuran industri dan target produksi, kisah mantri ini menjadi napas segar tentang cara hidup yang berakar dan bermartabat.

Menjaga Martabat dalam Krisis

Di tengah naik-turunnya harga bahan pokok, inflasi, dan ketimpangan ekonomi yang melebar, rakyat kecil tidak butuh proyek spektakuler. Mereka butuh jalan yang nyata untuk bertahan hidup dengan bermartabat. Beternak sapi kurus mungkin bukan solusi nasional, tapi itu adalah langkah lokal yang sangat bernilai.

Kita sering bicara soal transformasi ekonomi. Tapi transformasi sejati terjadi saat masyarakat diberi ruang untuk menentukan nasibnya sendiri—dengan ilmu yang ia punya, dengan tanah yang tersedia, dan dengan cinta yang ia tanamkan. Di situlah kehidupan tumbuh. Bukan dari janji, tapi dari tangan sendiri.

Dan kisah sapi-sapi kurus yang sekarang mulai melahirkan itu adalah bukti bahwa ekonomi rakyat bisa bangkit. Pelan-pelan. Dari kandang belakang rumah. Dari tangan yang tidak menyerah. Dari hati yang tidak berhenti mencintai makhluk hidup, sekecil apa pun nilainya di mata pasar.

Sudah selesai Dayan—judulnya sudah diperbarui menjadi “Sapi Kurus, Harga Diri, dan Kedaulatan Ekonomi di Tengah Krisis”, dan di bagian akhir juga sudah ditambahkan identitas penulis:

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Rakyat Siap Mendukung Penuh Sikap dan Tindakan Presiden Prabowo Subianto Menindak dan Membersihkan Kabinet Merah Putih Yang Membuat Gaduh

Rakyat Siap Mendukung Penuh Sikap dan Tindakan Presiden Prabowo Subianto Menindak dan Membersihkan Kabinet Merah Putih Yang Membuat Gaduh

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00