POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Menghitung Korban Perang Iran vs Israel, Siapa Peduli?

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
June 15, 2025
Menghitung Korban Perang Iran vs Israel, Siapa Peduli?
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Ketika saya menulis serangan Iran ke Israel, banyak bertanya, berapa korbannya? Seolah-olah jumlah korban itu adalah sebuah kemenangan. Siapa yang banyak korban, dia kalah. Bila sedikit, ia menang. Padahal yang korban itu manusia, wak! Bukan kucing liar di pasar, bukan anjing di jalanan. Banyak bicara kecanggihan senjata perang, pada ujungnya hanya untuk melenyapkan manusia. Mari kita ungkap sebuah ironi perang modern sambil seruput kopi tanpa gula.

Hari itu, 14 Juni 2025, langit Israel tak lagi biru. Bukan karena polusi, bukan karena musim hujan, tapi karena sekitar 200 rudal dan drone datang dari Iran seperti pengantar pizza yang sangat pendendam. Mereka tidak mengetuk pintu. Mereka mengetuk langit, lalu meledak.

Setidaknya 3 warga sipil Israel tewas. Nama mereka tak tertulis di spanduk-spanduk konferensi PBB, hanya tercetak di batu nisan yang baru dipahat. Puluhan lainnya luka-luka, termasuk 7 tentara yang kini lebih sering melihat langit-langit rumah sakit dari layar ponsel. Kota-kota seperti Tel Aviv, Ramat Gan, dan Rishon LeZion mendadak seperti kota-kota dalam film pasca-kiamat: kaca pecah, mobil terbakar, dan warga berlari bukan karena diskon, tapi karena sirene serangan udara meraung-raung seperti genderang kiamat.

Bandara Ben Gurion? Ditutup. Bukan karena mogok kerja atau kabut, tapi karena rudal bisa jadi penumpang gelap berikutnya. Sementara itu, langit Israel berubah jadi parade anti-kemerdekaan, rudal dan drone saling bersaing unjuk gaya, siapa yang lebih jitu menghancurkan harapan.

Tapi ini bukan awal. Ini adalah babak kedua dari simfoni kehancuran. Sehari sebelumnya, tanggal 13 Juni, Israel memulai pesta mautnya sendiri melalui Operasi Singa Bangkit, sebuah nama operasi militer yang terdengar seperti anime tapi isinya kematian massal. Mereka menghantam fasilitas nuklir Iran, markas militer, dan para jenderal top. Ada 78 orang Iran tewas, termasuk dua tokoh penting, Hossein Salami, komandan IRGC, dan Mohammad Bagheri, Kepala Staf Angkatan Bersenjata.

📚 Artikel Terkait

Dua Hari Lagi, Ayo Dukung Charming di API Award

🚩🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Bisakah Aceh ‘Merdeka’ Secara Struktural di Bawah NKRI?

Nenek Gila

Balasannya cepat, panas, dan brutal. Iran tidak mengirim surat protes, mereka mengirim rudal. Mereka tidak menuntut permintaan maaf, mereka menuntut langit Israel jadi abu. Bagi Iran, ini bukan sekadar serangan. Ini puisi kemarahan, ditulis dengan bahan bakar roket dan tinta darah.

Sementara itu, Amerika Serikat, seperti biasa, hadir sebagai komentator aktif. Mereka bantu Israel mencegat rudal, lalu menggertak Iran, “Kalau terus begini, akan ada konsekuensi lebih keras.” Konsekuensi? Dunia sudah cukup keras tanpa perlu ditambah satu perang nuklir lagi. Tapi tampaknya, diplomasi kini seperti Windows 98, sudah ketinggalan zaman dan sering crash.

Jangan lupakan, perundingan nuklir yang dijadwalkan antara Iran dan AS di Oman pada 15 Juni resmi berubah jadi lelucon internasional. Iran menyebutnya “tidak berarti”dan kita pun harus mengakui, apa gunanya meja bundar kalau yang datang membawa granat?

Tapi, di balik semua itu, ada yang selalu hilang dari layar TV dan konferensi pers, manusia. Mereka yang terbakar di dalam mobil, yang kehilangan rumah dalam semalam, yang menggendong anaknya ke tempat perlindungan hanya untuk disambut reruntuhan. Mereka bukan headline. Mereka bukan statistik. Mereka adalah sisa-sisa kemanusiaan yang tidak pernah jadi trending topic.

Perang ini bukan tentang menang atau kalah. Ini tentang kehilangan yang tak bisa dihitung, tentang dunia yang begitu canggih menciptakan rudal, tapi gagal menciptakan belas kasihan.

Selamat datang di peradaban. Tiketnya gratis, tapi nyawanya mahal.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah

Sapi Kurus, Harga Diri, dan Kedaulatan Ekonomi di Tengah Krisis

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00