Dengarkan Artikel
Oleh Rosadi Jamani
Ketika saya menulis serangan Iran ke Israel, banyak bertanya, berapa korbannya? Seolah-olah jumlah korban itu adalah sebuah kemenangan. Siapa yang banyak korban, dia kalah. Bila sedikit, ia menang. Padahal yang korban itu manusia, wak! Bukan kucing liar di pasar, bukan anjing di jalanan. Banyak bicara kecanggihan senjata perang, pada ujungnya hanya untuk melenyapkan manusia. Mari kita ungkap sebuah ironi perang modern sambil seruput kopi tanpa gula.
Hari itu, 14 Juni 2025, langit Israel tak lagi biru. Bukan karena polusi, bukan karena musim hujan, tapi karena sekitar 200 rudal dan drone datang dari Iran seperti pengantar pizza yang sangat pendendam. Mereka tidak mengetuk pintu. Mereka mengetuk langit, lalu meledak.
Setidaknya 3 warga sipil Israel tewas. Nama mereka tak tertulis di spanduk-spanduk konferensi PBB, hanya tercetak di batu nisan yang baru dipahat. Puluhan lainnya luka-luka, termasuk 7 tentara yang kini lebih sering melihat langit-langit rumah sakit dari layar ponsel. Kota-kota seperti Tel Aviv, Ramat Gan, dan Rishon LeZion mendadak seperti kota-kota dalam film pasca-kiamat: kaca pecah, mobil terbakar, dan warga berlari bukan karena diskon, tapi karena sirene serangan udara meraung-raung seperti genderang kiamat.
Bandara Ben Gurion? Ditutup. Bukan karena mogok kerja atau kabut, tapi karena rudal bisa jadi penumpang gelap berikutnya. Sementara itu, langit Israel berubah jadi parade anti-kemerdekaan, rudal dan drone saling bersaing unjuk gaya, siapa yang lebih jitu menghancurkan harapan.
Tapi ini bukan awal. Ini adalah babak kedua dari simfoni kehancuran. Sehari sebelumnya, tanggal 13 Juni, Israel memulai pesta mautnya sendiri melalui Operasi Singa Bangkit, sebuah nama operasi militer yang terdengar seperti anime tapi isinya kematian massal. Mereka menghantam fasilitas nuklir Iran, markas militer, dan para jenderal top. Ada 78 orang Iran tewas, termasuk dua tokoh penting, Hossein Salami, komandan IRGC, dan Mohammad Bagheri, Kepala Staf Angkatan Bersenjata.
📚 Artikel Terkait
Balasannya cepat, panas, dan brutal. Iran tidak mengirim surat protes, mereka mengirim rudal. Mereka tidak menuntut permintaan maaf, mereka menuntut langit Israel jadi abu. Bagi Iran, ini bukan sekadar serangan. Ini puisi kemarahan, ditulis dengan bahan bakar roket dan tinta darah.
Sementara itu, Amerika Serikat, seperti biasa, hadir sebagai komentator aktif. Mereka bantu Israel mencegat rudal, lalu menggertak Iran, “Kalau terus begini, akan ada konsekuensi lebih keras.” Konsekuensi? Dunia sudah cukup keras tanpa perlu ditambah satu perang nuklir lagi. Tapi tampaknya, diplomasi kini seperti Windows 98, sudah ketinggalan zaman dan sering crash.
Jangan lupakan, perundingan nuklir yang dijadwalkan antara Iran dan AS di Oman pada 15 Juni resmi berubah jadi lelucon internasional. Iran menyebutnya “tidak berarti”dan kita pun harus mengakui, apa gunanya meja bundar kalau yang datang membawa granat?
Tapi, di balik semua itu, ada yang selalu hilang dari layar TV dan konferensi pers, manusia. Mereka yang terbakar di dalam mobil, yang kehilangan rumah dalam semalam, yang menggendong anaknya ke tempat perlindungan hanya untuk disambut reruntuhan. Mereka bukan headline. Mereka bukan statistik. Mereka adalah sisa-sisa kemanusiaan yang tidak pernah jadi trending topic.
Perang ini bukan tentang menang atau kalah. Ini tentang kehilangan yang tak bisa dihitung, tentang dunia yang begitu canggih menciptakan rudal, tapi gagal menciptakan belas kasihan.
Selamat datang di peradaban. Tiketnya gratis, tapi nyawanya mahal.
camanewak
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






