• Latest

LA Seperti Sengaja Dihancurkan Trump

Juni 13, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

LA Seperti Sengaja Dihancurkan Trump

Rosadi Jamaniby Rosadi Jamani
Juni 13, 2025
Reading Time: 3 mins read
585
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Rosadi Jamani

Enam bulan lalu kota ini dilanda kebakaran dahsyat. Sekarang, dilanda kerusuhan. Di tengah situasi tak menentu, sang presiden semakin membuat kacau dengan mengirim ribuan tentara. Itulah situasi kota Los Angeles (LA) saat ini. Yok disimak sambil seruput kopi, wak.

LA tidak hanya terbakar oleh cuaca musim panas atau oleh mimpi-mimpi Hollywood yang patah. Kali ini, kota para malaikat menyulap dirinya menjadi panggung pertunjukan demokrasi yang megah, dramatis, dan mengandung unsur piroteknik tingkat tinggi. Kerusuhan pecah, dan penyebabnya bukan karena Black Friday, tapi karena ICE (Imigrasi dan Bea Cukai AS) tiba-tiba berubah menjadi pasukan elite pemburu manusia. Mereka menggelar operasi besar-besaran seakan sedang syuting sekuel Sicario, menangkap lebih dari 100 orang, termasuk beberapa yang katanya “diduga” bagian dari kelompok kriminal. “Diduga”, kata sakti yang bisa membebaskan semua tindakan dari pertanggungjawaban moral.

Lalu masuklah Donald Trump, yang tampaknya masih belum move on dari ketenaran politiknya. Tanpa sebutir pun izin dari Gubernur California Gavin Newsom, Trump mengerahkan 2.000 personel Garda Nasional, seperti seorang raja yang mengirim pasukan untuk meredam pemberontakan, lengkap dengan kendaraan lapis baja, wajah datar, dan semangat “demi negara” yang biasanya hanya muncul saat menjelang pemilu. Gubernur Newsom, yang berasal dari Partai Demokrat dan memiliki potensi nyapres 2028, tentu saja meradang. Tapi dalam demokrasi Amerika versi 2025, marah saja tidak cukup. Kau harus viral.

Demonstrasi pun meledak, awalnya damai, seperti lagu cinta lama yang mendayu. Namun situasi memburuk ketika aparat membalas spanduk dan orasi dengan gas air mata dan granat kejut. Lho, katanya negara demokrasi? Tapi ketika rakyat bicara, negara malah menyuruh mereka batuk. Tak cukup di situ, peluru karet juga ikut unjuk kerja, mengenai jurnalis asing yang konon hanya ingin meliput, bukan ikut rusuh. Tapi dalam logika negara, kamera kadang lebih berbahaya dari molotov.

Ini bukan sekadar amarah warga, ini duel para dewa politik, Trump di sisi kanan panggung, Newsom di kiri, dan rakyat di tengah-tengah, jadi properti. Ya, Los Angeles bukan kota sembarangan, ini basis kuat Demokrat, tempat para liberal bangga dengan hak asasi dan brunch organik. Maka, ketika Trump menginjakkan kaki politiknya ke sana, itu bukan penegakan hukum, itu seperti mengencingi halaman rumah orang dan mengklaim itu adalah bentuk kasih sayang.

Sementara para pejabat Republik membela tindakan Trump, menyebut pengerahan pasukan sebagai langkah menjaga “ketertiban”, Ketua DPR Mike Johnson bahkan dengan bangga mengatakan itu adalah prinsip “perdamaian melalui kekuatan”. Sebuah kalimat yang terdengar seperti slogan villain dalam film Marvel kelas menengah. Di sisi lain, Newsom dan kawan-kawan Demokrat mencium motif tersembunyi, bahwa ini bukan soal imigran, tapi panggung sandiwara menjelang pemilu. Sebab jika kerusuhan berlanjut, dan Newsom gagal meredam, simpati publik bisa berpindah. Bahkan kabarnya, Trump mengancam akan memangkas dana federal untuk California, karena apa lagi yang lebih demokratis selain memeras daerah yang tak tunduk?

Inilah demokrasi versi 2025, rakyat berdemo, pemerintah kirim pasukan, jurnalis ditembak, lalu negara bicara soal transparansi, gubernur dibentak, lalu presiden tampil heroik. Semua terbungkus indah dalam narasi kebebasan yang semakin mirip sinetron bertema distopia.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Demokrasi tetap hidup, katanya. Tapi dari bau gas air mata yang mengambang di udara Los Angeles, kita tahu, demokrasi itu kini bukan lagi soal suara rakyat, melainkan siapa yang punya lebih banyak granat dan retorika.

Mari kita hargai demokrasi seperti kita menghargai WiFi gratis, gratis, tapi selalu diawasi. Ingat, dalam demokrasi modern, kamu bebas bicara… asal tidak terlalu keras.
Karena kalau terlalu keras, bisa-bisa kamu dibilang “mengancam keamanan nasional” dan dihadiahi peluru karet sebagai kenang-kenangan.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 366x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 329x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 276x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah

Ekonomi dari Rakyat, Tapi untuk Bank? Kritik terhadap Skema Bantuan Berkedok Kredit

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com