Dengarkan Artikel
Oleh Rosadi Jamani
Enam bulan lalu kota ini dilanda kebakaran dahsyat. Sekarang, dilanda kerusuhan. Di tengah situasi tak menentu, sang presiden semakin membuat kacau dengan mengirim ribuan tentara. Itulah situasi kota Los Angeles (LA) saat ini. Yok disimak sambil seruput kopi, wak.
LA tidak hanya terbakar oleh cuaca musim panas atau oleh mimpi-mimpi Hollywood yang patah. Kali ini, kota para malaikat menyulap dirinya menjadi panggung pertunjukan demokrasi yang megah, dramatis, dan mengandung unsur piroteknik tingkat tinggi. Kerusuhan pecah, dan penyebabnya bukan karena Black Friday, tapi karena ICE (Imigrasi dan Bea Cukai AS) tiba-tiba berubah menjadi pasukan elite pemburu manusia. Mereka menggelar operasi besar-besaran seakan sedang syuting sekuel Sicario, menangkap lebih dari 100 orang, termasuk beberapa yang katanya “diduga” bagian dari kelompok kriminal. “Diduga”, kata sakti yang bisa membebaskan semua tindakan dari pertanggungjawaban moral.
Lalu masuklah Donald Trump, yang tampaknya masih belum move on dari ketenaran politiknya. Tanpa sebutir pun izin dari Gubernur California Gavin Newsom, Trump mengerahkan 2.000 personel Garda Nasional, seperti seorang raja yang mengirim pasukan untuk meredam pemberontakan, lengkap dengan kendaraan lapis baja, wajah datar, dan semangat “demi negara” yang biasanya hanya muncul saat menjelang pemilu. Gubernur Newsom, yang berasal dari Partai Demokrat dan memiliki potensi nyapres 2028, tentu saja meradang. Tapi dalam demokrasi Amerika versi 2025, marah saja tidak cukup. Kau harus viral.
Demonstrasi pun meledak, awalnya damai, seperti lagu cinta lama yang mendayu. Namun situasi memburuk ketika aparat membalas spanduk dan orasi dengan gas air mata dan granat kejut. Lho, katanya negara demokrasi? Tapi ketika rakyat bicara, negara malah menyuruh mereka batuk. Tak cukup di situ, peluru karet juga ikut unjuk kerja, mengenai jurnalis asing yang konon hanya ingin meliput, bukan ikut rusuh. Tapi dalam logika negara, kamera kadang lebih berbahaya dari molotov.
📚 Artikel Terkait
Ini bukan sekadar amarah warga, ini duel para dewa politik, Trump di sisi kanan panggung, Newsom di kiri, dan rakyat di tengah-tengah, jadi properti. Ya, Los Angeles bukan kota sembarangan, ini basis kuat Demokrat, tempat para liberal bangga dengan hak asasi dan brunch organik. Maka, ketika Trump menginjakkan kaki politiknya ke sana, itu bukan penegakan hukum, itu seperti mengencingi halaman rumah orang dan mengklaim itu adalah bentuk kasih sayang.
Sementara para pejabat Republik membela tindakan Trump, menyebut pengerahan pasukan sebagai langkah menjaga “ketertiban”, Ketua DPR Mike Johnson bahkan dengan bangga mengatakan itu adalah prinsip “perdamaian melalui kekuatan”. Sebuah kalimat yang terdengar seperti slogan villain dalam film Marvel kelas menengah. Di sisi lain, Newsom dan kawan-kawan Demokrat mencium motif tersembunyi, bahwa ini bukan soal imigran, tapi panggung sandiwara menjelang pemilu. Sebab jika kerusuhan berlanjut, dan Newsom gagal meredam, simpati publik bisa berpindah. Bahkan kabarnya, Trump mengancam akan memangkas dana federal untuk California, karena apa lagi yang lebih demokratis selain memeras daerah yang tak tunduk?
Inilah demokrasi versi 2025, rakyat berdemo, pemerintah kirim pasukan, jurnalis ditembak, lalu negara bicara soal transparansi, gubernur dibentak, lalu presiden tampil heroik. Semua terbungkus indah dalam narasi kebebasan yang semakin mirip sinetron bertema distopia.
Demokrasi tetap hidup, katanya. Tapi dari bau gas air mata yang mengambang di udara Los Angeles, kita tahu, demokrasi itu kini bukan lagi soal suara rakyat, melainkan siapa yang punya lebih banyak granat dan retorika.
Mari kita hargai demokrasi seperti kita menghargai WiFi gratis, gratis, tapi selalu diawasi. Ingat, dalam demokrasi modern, kamu bebas bicara… asal tidak terlalu keras.
Karena kalau terlalu keras, bisa-bisa kamu dibilang “mengancam keamanan nasional” dan dihadiahi peluru karet sebagai kenang-kenangan.
camanewak
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





