Dengarkan Artikel
Oleh Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si
Di tengah melimpahnya potensi energi terbarukan yang mencapai ribuan gigawatt, Indonesia menghadapi tantangan besar dalam merealisasikan ambisinya menjadi negara dengan energi bersih. Seperti yang sering disuarakan oleh Dr. Ir. Surya Dharma, Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), pengembangan energi terbarukan di tanah air seolah terjerat “benang kusut” yang kompleks. Bukan karena sengaja tidak dikembangkan, melainkan karena berbagai hambatan yang menghambat laju progresnya.
Indonesia diberkahi dengan sumber daya energi terbarukan yang luar biasa, mulai dari panas bumi, surya, hidro, angin, hingga bioenergi. Potensi ini jauh melampaui kebutuhan domestik. Namun, kenyataannya, bauran energi terbarukan dalam sistem kelistrikan nasional masih jauh dari target yang ditetapkan pemerintah. Kesenjangan ini mengundang pertanyaan besar: mengapa potensi sebesar ini belum mampu tergarap secara optimal?
Benang Kusut Penghambat
Menurut Dr. Surya Dharma dan para pakar lainnya, ada beberapa “benang kusut” utama yang melilit pengembangan energi terbarukan di Indonesia. Salah satu hambatan terbesar adalah regulasi yang dinilai belum sepenuhnya mendukung. Skema tarif yang kurang menarik bagi investor, seringnya perubahan kebijakan, dan birokrasi yang rumit seringkali membuat proyek energi terbarukan sulit untuk berjalan mulus. Investor membutuhkan kepastian dan daya tarik ekonomi untuk menanamkan modalnya.
Energi fosil justru disubsidi sehingga murah sehingga emisi karbon yang meningkat. Sementara energi terbarukan tidak pernah disubsidi. Transisi energi merupakan perjalanan panjang yang membutuhkan komitmen kuat. Indonesia masih sangat bergantung pada sumber energi fosil, terutama batu bara, yang secara historis lebih murah dan infrastrukturnya sudah mapan. Pergeseran ini tidak mudah dan memerlukan insentif serta disinsentif yang jelas.
Proyek energi terbarukan, meskipun menjanjikan dalam jangka panjang, seringkali memerlukan modal awal yang besar. Kurangnya akses terhadap pembiayaan yang kompetitif dan persepsi risiko yang tinggi di mata lembaga keuangan dapat menjadi penghalang serius.
Integrasi energi terbarukan, terutama dari sumber yang tersebar atau intermiten seperti surya dan angin, membutuhkan infrastruktur jaringan listrik yang kuat dan cerdas. Keterbatasan kapasitas jaringan di beberapa daerah dapat menghambat penyaluran listrik dari pembangkit energi terbarukan.
Meskipun terus berkembang, ketersediaan sumber daya manusia yang terampil dan ahli di bidang teknologi energi terbarukan masih menjadi tantangan. Inovasi dan pemeliharaan teknologi canggih membutuhkan keahlian khusus.
Jalan ke Depan: Membangun Momentum
Mengurai benang kusut ini membutuhkan upaya kolektif dan komitmen kuat dari semua pihak. Peran pemerintah dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif melalui regulasi yang stabil dan atraktif sangat krusial. Selain itu, kolaborasi antara pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat sipil diperlukan untuk mendorong inovasi, meningkatkan kapasitas, dan membangun kesadaran akan pentingnya transisi energi.
Meskipun jalannya terjal, potensi energi terbarukan di Indonesia adalah aset masa depan yang tak ternilai. Dengan keberanian untuk memotong benang kusut birokrasi dan hambatan lainnya, Indonesia dapat melesat maju menuju kedaulatan energi yang bersih dan berkelanjutan.
Dr. Ir. Surya Dharma adalah Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) dan juga menjabat sebagai Ketua Indonesia Center for Renewable Energy Studies (ICRES). Beliau dikenal sebagai pakar yang sangat mendorong percepatan pengembangan energi terbarukan di Indonesia. Berdasarkan berbagai sumber, pandangan Dr. Surya Dharma justru menekankan pentingnya pengembangan energi terbarukan di Indonesia dan menyoroti berbagai kendala yang menghambatnya, bukan menyatakan bahwa ada kesengajaan untuk tidak mengembangkannya.
📚 Artikel Terkait
Potensi Besar Indonesia
Beliau selalu menekankan bahwa Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar (lebih dari 3.600 GW) jauh melebihi kebutuhan domestik (sekitar 600-an GW hingga 2050). Potensi ini meliputi energi panas bumi, surya, air, angin, gelombang laut, dan bioenergi.
Dr. Surya Dharma mengkritisi bahwa target bauran energi terbarukan yang ditetapkan pemerintah (misalnya 23% pada 2025) belum tercapai. Beliau menyebutkan bahwa pada tahun 2019, energi terbarukan hanya berkontribusi sekitar 8%, jauh di bawah target. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada target, realisasi masih jauh dari harapan.
Beliau mengidentifikasi berbagai kendala yang menghambat pengembangan energi terbarukan, antara lain: Tarif energi terbarukan yang dianggap terlalu rendah sehingga kurang menarik bagi investor, serta regulasi yang belum optimal dan kurang konsisten; Biaya investasi awal yang tinggi untuk proyek energi terbarukan dan kurangnya kepastian pengembalian investasi; Indonesia masih sangat bergantung pada energi fosil (khususnya batu bara), yang membuat transisi energi menjadi lebih lambat; Keterbatasan infrastruktur dan kurangnya pemerataan jaringan listrik untuk mengintegrasikan energi terbarukan; Keterbatasan keahlian teknis dan sumber daya manusia terampil di bidang energi terbarukan.
Beliau secara konsisten menyuarakan pentingnya percepatan transisi energi dari fosil ke terbarukan demi ketahanan energi nasional dan pencapaian target emisi nol bersih (Net Zero Emission) pada tahun 2050.
Putra Asli Aceh
Tentu, berikut biografi singkat Dr. Ir. Surya Dharma, seorang putra asli Aceh yang dikenal sebagai pakar dan advokat energi terbarukan di Indonesia. Dr. Ir. Surya Dharma adalah seorang tokoh penting dalam dunia energi di Indonesia, khususnya di bidang energi terbarukan. Beliau dikenal sebagai individu yang sangat vokal dalam mendorong percepatan pengembangan dan pemanfaatan energi terbarukan di tanah air.
Surya Dharma adalah putra asli Aceh, yang lahir dan besar di provinsi paling barat Indonesia tersebut. Latar belakang pendidikannya menunjukkan fokus yang kuat pada bidang teknik dan energi. Beliau meraih gelar Insinyur (Ir.) dari salah satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia, dan kemudian melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi untuk mendapatkan gelar Master of Science (M.Sc.) dan Doktor (Dr.).
Kiprah Profesional dan Kontribusi:
Karier profesional Dr. Surya Dharma sangat didedikasikan untuk pengembangan sektor energi. Beliau memiliki rekam jejak panjang dalam berbagai posisi strategis, baik di lingkungan pemerintahan, industri, maupun organisasi non-pemerintah.
Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI): Ini adalah salah satu posisi yang paling dikenal dari Dr. Surya Dharma. Sebagai Ketua Umum METI, beliau aktif mengadvokasi kebijakan yang mendukung pengembangan energi terbarukan, menjalin kemitraan, dan menyuarakan tantangan serta potensi energi hijau di Indonesia. METI adalah organisasi yang menjadi wadah bagi para profesional dan praktisi di bidang energi terbarukan.
Ketua Indonesia Center for Renewable Energy Studies (ICRES): Peran ini menunjukkan komitmen beliau dalam aspek riset dan studi terkait energi terbarukan. ICRES berfokus pada analisis, penelitian, dan pengembangan pengetahuan untuk mendukung kebijakan dan implementasi energi terbarukan.
Pakar dan Konsultan Energi: Dengan keahliannya, Dr. Surya Dharma seringkali menjadi rujukan dan konsultan bagi berbagai pihak, baik pemerintah maupun swasta, dalam merumuskan strategi dan proyek-proyek energi.
Akademisi dan Penulis: Beliau juga aktif dalam dunia akademik, sering menjadi pembicara dalam berbagai seminar dan konferensi nasional maupun internasional. Pemikiran dan pandangannya sering dituangkan dalam berbagai artikel, jurnal, dan publikasi terkait energi.
Dr. Surya Dharma dikenal memiliki visi yang kuat tentang pentingnya transisi energi di Indonesia. Beliau secara konsisten menyoroti potensi besar energi terbarukan di Indonesia yang belum tergarap optimal dan mengkritisi berbagai kendala, mulai dari regulasi yang belum berpihak, investasi, hingga ketergantungan pada energi fosil. Beliau percaya bahwa pengembangan energi terbarukan adalah kunci untuk mencapai ketahanan energi nasional, mendorong pertumbuhan ekonomi hijau, dan memenuhi komitmen Indonesia dalam mitigasi perubahan iklim.
Sebagai putra asli Aceh, dedikasi Dr. Surya Dharma terhadap pembangunan nasional, khususnya di sektor energi, menjadi inspirasi bagi banyak pihak. Beliau adalah salah satu “juru bicara” utama bagi percepatan energi terbarukan di Indonesia.
Dr. Ir. Surya Dharma adalah pihak yang menyatakan bahwa energi terbarukan sengaja tidak mau dikembangkan di Indonesia. Sebaliknya, beliau adalah salah satu tokoh kunci yang vokal dalam mendorong dan mengadvokasi pengembangan energi terbarukan di Indonesia. Argumen beliau lebih terfokus pada hambatan dan tantangan nyata dalam implementasi kebijakan dan investasi energi terbarukan yang membuat perkembangannya berjalan lambat, bukan karena “kesengajaan” untuk tidak mengembangkannya. Beliau menekankan perlunya dukungan kebijakan yang lebih kuat, tarif yang menarik, dan komitmen serius dari semua pihak untuk mempercepat transisi energi.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






