POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Panggung Itu Tak Pernah Menyebut Nama Kegagalan

RedaksiOleh Redaksi
June 4, 2025
Panggung Itu Tak Pernah Menyebut Nama Kegagalan
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh : Ririe Aiko

“Mengapa Panggung Selalu Milik Mereka yang Berhasil?
“Apakah mereka yang bertahan untuk tetap bangkit setelah ratusan kali gagal, tidak pantas mendapatkan panggung yang sama?”
“Apakah karena cerita keberhasilan selalu lebih menarik daripada cerita tentang kegagalan?”

—000—

Di balik panggung yang gemerlap,
di mana lampu-lampu menari bersama suara mikrofon,
seorang pria berdiri dengan jas mewah dan sepatu nyentrik,
bercerita tentang kerja keras
seolah semesta hanya mendengar mereka yang berhasil.
Katanya: “Perjuangan adalah milik mereka yang bangun pagi.”
Katanya: “Kemiskinan adalah kutukan bagi mereka yang malas.”
Dan hadirin pun mengangguk,
tepuk tangan membanjiri ruangan,
seakan kebenaran baru saja diucapkan oleh nabi.¹

Namun, di luar pintu ruangan,
angin membawa suara serak seseorang yang mengamen.
Bajunya lusuh, suaranya patah-patah menahan lapar.
Ia tak sedang bicara, ia hidup dalam kerja keras.
Ia tak diminta naik panggung,
meski ia bangun lebih pagi dari matahari
dan tidur lebih larut dari lampu kota yang padam.

Di sakunya ada ijazah sarjana,
tapi di tangannya hanya ada kaleng kosong
yang menampung receh dan tatapan iba.
Ayahnya stroke sejak dua tahun lalu—
dan ia, anak lelaki satu-satunya,
menjadi tongkat yang tak diakui oleh cerita motivasi.

Mengapa panggung selalu milik mereka yang berhasil?
Apakah tawa yang dipahat dari luka tak layak disorot?
Apakah perjuangan tentang jatuh dan tetap bangkit tidak cukup memesona?
Padahal, bukankah yang paling kuat
adalah mereka yang tetap melangkah
meski dunia hanya memberi jalan setapak?

📚 Artikel Terkait

Bias Gender dalam Fenomena Korupsi

Ketika Air Menenggelamkan Asa

Abu Muhammad Zamzami; Ulama Kharismatik Aceh Besar yang Istiqamah

Teungku Fakinah; Ulama Perempuan dan Panglima Perang Aceh.

Setiap kali mereka membuka layar:
televisi, seminar, media sosial—
wajah-wajah dengan senyum sempurna menatap dari layar,
mengucap mantra tentang keberhasilan:
“Bangun pagi, kerja keras, lalu sukses.”
Mereka bersinar.
Sementara yang lainnya—
yang berkeringat tanpa kamera,
yang bekerja keras tanpa panggung,
tetap dalam bayang-bayang narasi besar
yang tak pernah menyebut nama-nama
yang berjuang setengah mati
namun tetap berada dalam kegagalan.

Di dunia ini, tak semua lahir dari titik yang sama.
Ada yang dibesarkan di rumah dengan rak buku dan meja belajar,
ada yang tumbuh di gang sempit dengan mimpi seadanya.
Ada yang punya akses,
dan ada yang bahkan tak tahu cara mengetuk pintu.²

Namun narasi tak pernah adil.
Yang kaya dipuji karena kerja keras,
yang miskin dicibir karena dianggap malas.
Padahal kerja keras bukan satu-satunya ukuran—
kadang keberuntungan menyamar sebagai ketekunan,
dan kadang kekalahan lahir dari dunia yang tak adil sejak awal.³

Maka jangan heran jika banyak cerita gagal
tak pernah diundang bicara di atas panggung.
Karena peluh yang tak jadi emas
tak cukup menarik untuk dijual sebagai inspirasi.
Karena airmata yang tak berubah jadi tawa
tak cukup layak dituliskan dalam buku motivasi.

Panggung sosial selalu berpihak
pada yang berbinar, yang dianggap berhasil.
Tapi di luar jangkauan mikrofon,
di balik panggung yang megah dan glamor,
ada mereka—
yang hidup dalam bayang-bayang perjuangan,
yang tetap bertahan,
meski dunia hanya memberinya tepian panggung
tanpa sorot,
tanpa nama,
Dan terkadang penuh tatapan hina.

—000—

CATATAN:
¹ Banyak seminar motivasi cenderung menyederhanakan realitas sosial dengan narasi “jika kamu gagal, itu salahmu sendiri”, tanpa mempertimbangkan faktor sistemik seperti kemiskinan struktural atau ketimpangan akses pendidikan.https://www.psychologytoday.com/us/blog/culture-conscious/201909/the-problem-self-help
² Privilege sosial adalah keuntungan tak kasat mata yang dimiliki seseorang berdasarkan ras, kelas, gender, atau latar belakang ekonomi. Privilege memengaruhi akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan peluang. https://www.tolerance.org/magazine/summer-2018/what-is-white-privilege-really
³ Data dari World Economic Forum dan berbagai studi menunjukkan bahwa mobilitas sosial sangat rendah di banyak negara, dan keberhasilan sangat dipengaruhi oleh asal keluarga. https://www.weforum.org/agenda/2020/01/social-mobility-index-2020-opportunity-gap/

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Mengenal OSO, Crazy Rich Kalimantan Barat

Mengenal OSO, Crazy Rich Kalimantan Barat

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00