POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Kaburnya Batas Opini dan Fakta: Erosi Berfikir di Era Digital

MahlilOleh Mahlil
June 2, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Mahlil

Pernahkah Anda merasa kewalahan dengan banjir informasi yang setiap hari menerpa layar ponsel Anda? Atau mungkin pernah terjebak dalam perdebatan sengit di media sosial, hanya untuk kemudian menyadari bahwa yang Anda perdebatkan ternyata bukan fakta, melainkan sekadar opini?

Selamat datang di era digital—zaman di mana informasi mengalir lebih deras daripada air terjun Niagara, namun kebenaran justru semakin sulit ditemukan.

Banjir Informasi: Berkah atau Bencana?

Bayangkan jika Anda harus minum dari selang pemadam kebakaran. Itulah yang terjadi pada otak kita setiap hari. Teknologi telah membuka keran informasi lebar-lebar, membanjiri kita dengan data, berita, opini, dan narasi darisegala penjuru dunia. Yang dulunya butuh berhari-hari untuksampai, kini hadir dalam hitungan detik.

Contoh kasus politik, seorang pengguna media sosial rata-rata bisa terpapar 50-100 “informasi” berbeda tentang politik dalam sehar. Mana yang fakta ahli, mana yang opiniinfluencer, mana yang sekadar Black Campaign? Semuanya tampil dengan layout yang sama, font yang sama, bahkan dengan watermark “breaking news” yang sama. Apakah lebih banyak informasi berarti lebih baik?

Ternyata tidak sesederhana itu. Kemudahan akses informasi justru menciptakan masalah baru. Kita kehilangan kemampuan membedakan mana fakta dan mana opini. Semuanya bercampur aduk dalam satu timeline yang sama, dengan tampilan yang sama meyakinkannya. 

Yang lebih ironis lagi, semakin banyak informasi yang kita terima, semakin bingung kita dalam menentukan mana yang benar. Atau biasnya arti “kebenaran”, semakin banyak disampaikan semakin benar? Atau dengan kata lain bahwa “kebenaran” itu adalah informasi yang”salah” diberitakan berulang kali? Ini seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami—semakin banyak jerami, semakin sulit menemukan jarumnya.

Algoritma: Sahabat atau Musuh Dalam Selimut?

Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa feed media sosial Anda selalu menampilkan konten yang “pas banget” dengan pemikiran Anda? Itu bukan keajaiban—itu algoritma yang bekerja.

📚 Artikel Terkait

Pelukan Terakhir Ibu dan Anak Sebelum Keduanya Meninggal

Teungku Chik Pantee Geulima; Ulama, Pejuang Tangguh, dan Panglima Perang yang Disegani.

Makmeugang di BPPA, Menjalin Silaturahmi Dan Persaudaraan.

“Puisi Pagi Ini” Karya D. Zawawi Imron: Refleksi Sosial dan Kemanusiaan

Mari kita lihat studi kasus serius terjadi pada platform YouTube. Sosiolog Zeynep Tufekci dari University of North Carolina melakukan eksperimen selama Pemilu 2016, di mana dia menemukan bahwa apa pun jenis konten politik yang dicari, video yang direkomendasikan selalu lebih ekstrem dan provokatif, baik secara politik maupun sosial. 

Namun perlu dicatat bahwa penelitian dari UC Davis tahun 2022 menunjukkan bahwa algoritma AI dapat menciptakan“loop effect” yang menjebak pengguna dalam konten serupa yang berpotensi lebih ekstrem, meskipun beberapa studi lain menunjukkan hasil yang bertentangan, dengan temuan bahwa algoritma YouTube mungkin tidak secara aktif mempromosikan konten radikal. 

Terlepas dari perdebatan ilmiah ini, yang jelas adalah bahwa sistem rekomendasi yang dirancang untuk meningkatkan watch time. Algoritma personalisasi memang pintar, tapi mereka punya efek samping yang mengkhawatirkan: menciptakan ruang gema (echo chamber effect). Kita jadi seperti tinggal dalam rumah kaca, hanya mendengar suara yang mengamini pendapat kita. Akibatnya? 

Kita makin yakin dengan keyakinan kita, meski belum tentu benar. Akibatnya, kita terjebak dalam bubble filter yang semakin mengecil. Kita hanya terpapar pada informasi yang mengkonfirmasi bias kita, sementara perspektif berbeda dianggap sebagai ancaman. Diversitas pemikiran mati, digantikan oleh echo chamber yang nyaman tapi berbahaya. Ditambah lagi seperti kata Dr Julie Albright, Professor di University of Southern California, platform digital bersifat adiktif seperti slot perjudian, Anda dirangsang untuk terusmengeluarkan dopamin di otak (Kompas, 2022). Pikirkan lagi: kapan terakhir kali Anda membaca artikel yang benar-benar menantang cara berpikir Anda?

Krisis Berpikir Kritis: Mengapa Kita Jadi Malas Berpikir?

Berpikir kritis itu seperti otot—kalau tidak dilatih, akan mengecil. Dan sayangnya, lingkungan digital saat ini tidak terlalu “ramah” untuk melatih otot berpikir kritis kita. Mengapa? Karena informasi datang terlalu cepat untuk diproses dengan mendalam, sementara bias konfirmasi membuat kita hanya mencari informasi yang mendukung pendapat kita. Ditambah lagi, kelelahan kognitif akibat overload informasi terus mengurangi kemampuan analisis kita. Akibatnya, kita jadi lebih suka jalan pintas: langsung percaya, langsung share, langsung judge.

Dunning -Krugger Effect 

Pernahkah Anda merasa jengkel melihat seseorang dengan percaya diri menyebarkan informasi yang jelas-jelas salah? Selamat datang di dunia Dunning-Kruger effect – fenomena dimana orang yang paling sedikit tahu justru paling yakin dengan pendapatnya!

Di era digital ini, setiap orang bisa jadi “profesor dadakan“hanya dengan sekali klik. Mbah Google dan Tante YouTube telah menciptakan generasi yang merasa ahli dalam segala hal – dari vaksin hingga ekonomi, dari politik hingga parenting. Yang lebih berbahaya? Algoritma media sosial yang justru mendukung kepercayaan diri berlebihan ini dengan menyajikan konten yang sesuai dengan bias kita.

Hasilnya? Batas antara fakta dan opini menjadi kabur. Informasi hoax menyebar lebih cepat dari kebenaran. Diskusi berubah jadi perdebatan sengit tanpa dasar. Kita hidup dalam bubble filter yang mengonfirmasi apa yang sudah kita percayai.

Ironisnya, orang yang benar-benar berpengetahuan justru lebih berhati-hati dalam bersuara di media sosial karena mereka paham betapa kompleksnya suatu masalah. Sementara yang setengah-setengah tahu malah berteriak lantang. 

Solusinya sederhana tapi sulit: akui keterbatasan kita. Verifikasi sebelum berbagi. Dengarkan pendapat yang berbeda. Karena di dunia yang dipenuhi informasi ini, kebijaksanaan sejati dimulai dari mengakui bahwa  kita tidak tahu segalanya.

Mari sama-sama membangun ekosistem digital yang sehat—satu pemikiran kritis, satu fact-check, dan satu diskusi konstruktif dalam sekali waktu. Diakhir tulisan ini penulis mengajak pembaca berpikir kritis, apakah tulisan ini fakta? Atau opini yang dibuat dengan bahasa yang meyakinkan?

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Mahlil

Mahlil

Mahlil, S. Pd., M.A. Dosen Politeknik Negeri Lhokseumawe, peminat ilmu kebahasaan, sosiolinguistik termasuk Discourse Analysis dan komunikasi.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

BENGKEL OPINI RAKyat

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00