• Latest
Bangkit atau Bangkrut: Refleksi Ngawur di Hari Kebangkitan Nasional

Bangkit atau Bangkrut: Refleksi Ngawur di Hari Kebangkitan Nasional

Mei 24, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Bangkit atau Bangkrut: Refleksi Ngawur di Hari Kebangkitan Nasional

Redaksiby Redaksi
Mei 24, 2025
Reading Time: 3 mins read
Bangkit atau Bangkrut: Refleksi Ngawur di Hari Kebangkitan Nasional
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh: Yoss Prabu

Hari Kebangkitan Nasional. Hari di mana bangsa ini katanya mulai bangun. Meski hingga hari ini, banyak dari kita yang masih lebih suka tidur siang daripada bangkit memperjuangkan nasib.

Bangkit itu melelahkan, Bung. Jauh lebih capek daripada rebahan sambil menonton drama Korea yang episodenya 16 tapi air matanya 160 liter.

Dulu, tahun 1908, para pendiri Boedi Oetomo mungkin tidak pernah menyangka bahwa seratus tahun kemudian, cucu-cicit bangsanya akan lebih semangat rebutan diskon di e-commerce daripada memperjuangkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Tapi ya, apa boleh buat. Bangsa ini memang puitis. Bahkan ketika sedang terpuruk pun, kita tetap bisa tertawa. Tertawa bukan karena bahagia, tapi karena kalau menangis terus, takut dibilang lebay oleh netizen +62 yang budiman.

“Kebangkitan Nasional” bukan hanya soal sejarah. Ini juga soal perasaan. Seperti saat kamu bangkit dari patah hati dan berkata, “Saya tidak akan menghubunginya lagi,” lalu lima menit kemudian, kamu mengetik, “Hai, udah makan?”

Bangkit itu bukan perkara berdiri, tapi soal keberanian untuk jatuh dan tetap ingin mencoba lagi. Seperti kisah cinta kita yang gagal terus, tapi masih yakin jodoh akan datang naik ojol, bukan odong-odong.

Kita ini bangsa romantis. Percaya bahwa setiap luka bisa sembuh, asal direbus dengan daun kemerdekaan dan ditaburi sedikit garam perjuangan.

Namun, mari kita jujur dalam kesedihan yang filosofis ini. Apa yang sebenarnya kita rayakan setiap 20 Mei?
Apakah itu semangat? Apakah itu harapan?
Ataukah hanya formalitas tahunan yang dijadikan latar foto upacara agar feed Instagram tampak nasionalis?

Bangsa yang bangkit bukanlah bangsa yang bebas dari masalah. Tapi bangsa yang tetap menyeduh kopi, meski tahu harga gula sedang naik, dan tetap nyicil meski gaji belum naik.

Bangsa yang bisa tertawa dalam keterbatasan, dan menangis dalam diam ketika melihat pemimpinnya sibuk debat receh di televisi, sementara rakyat sibuk debat harga cabai di pasar.

Melankolis, iya. Karena kita rindu negeri yang lebih jujur. Yang tidak hanya bangkit di baliho, tapi juga di hati nurani.
Yang tidak hanya bersatu saat demo, tapi juga saat tetangga butuh pertolongan.

Dan di antara sarkasme-sarkasme kehidupan ini, aku tetap mencintai negeri ini. Seperti mencintai seseorang yang tidak sempurna, tapi membuatku percaya bahwa cinta bisa mengubah segalanya, meski butuh waktu, dan tentu saja, revisi anggaran.

Baca Juga

b25b943e-f0d2-47df-bd75-ad0c643a8322

Gara-gara Tahanan Rumah Gus Yaqut, Akhirnya KPK Minta Maaf

Maret 27, 2026

BENGKEL OPINI RAKyat

Maret 27, 2026
ChatGPT Image 27 Mar 2026, 08.43.09

Pelayanan Akses Kesehatan di Nabire Provinsi Papua Tengah Masih Minim

Maret 27, 2026

Hari Kebangkitan Nasional bukan hanya soal apa yang terjadi 117 tahun lalu. Tapi tentang hari ini. Tentang kamu yang masih memilih jujur meski hidup kadang seperti ujian open book yang bukunya hilang.

Tentang kita yang bangun pagi bukan karena semangat, tapi karena cicilan. Dan itu tidak apa-apa. Bangkit pun tidak harus heroik. Kadang, cukup dengan tidak menyerah.

Jadi, selamat Hari Kebangkitan Nasional.
Bangkitlah dengan cara apa pun. Dengan puisi, dengan kopi, dengan aksi, atau sekadar dengan senyum yang meski palsu, tapi tetap kamu berikan demi harapan yang tidak mati.

Karena seperti kata Chairil, sekali berarti, sesudah itu mati.
Tapi kalau bisa sih… sekali berarti, habis itu hidup enak, ya kan?

ADVERTISEMENT

Karena kita bangsa yang kuat. Bangsa yang tahu rasanya pahit, tapi tetap suka yang manis. Dan yang paling penting. Kita bangsa yang bisa bangkit. Meski pelan, meski tersandung, tapi tetap… menuju pagi yang lebih terang.

Jakarta, 20 Mei 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 363x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 322x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah

Mengejar Scopus, Melupakan Sufisme: Krisis Spiritualitas di Kalangan Cendekiawan Muslim

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com