POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Bangkit atau Bangkrut: Refleksi Ngawur di Hari Kebangkitan Nasional

RedaksiOleh Redaksi
May 24, 2025
Bangkit atau Bangkrut: Refleksi Ngawur di Hari Kebangkitan Nasional
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Yoss Prabu

Hari Kebangkitan Nasional. Hari di mana bangsa ini katanya mulai bangun. Meski hingga hari ini, banyak dari kita yang masih lebih suka tidur siang daripada bangkit memperjuangkan nasib.

Bangkit itu melelahkan, Bung. Jauh lebih capek daripada rebahan sambil menonton drama Korea yang episodenya 16 tapi air matanya 160 liter.

Dulu, tahun 1908, para pendiri Boedi Oetomo mungkin tidak pernah menyangka bahwa seratus tahun kemudian, cucu-cicit bangsanya akan lebih semangat rebutan diskon di e-commerce daripada memperjuangkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Tapi ya, apa boleh buat. Bangsa ini memang puitis. Bahkan ketika sedang terpuruk pun, kita tetap bisa tertawa. Tertawa bukan karena bahagia, tapi karena kalau menangis terus, takut dibilang lebay oleh netizen +62 yang budiman.

“Kebangkitan Nasional” bukan hanya soal sejarah. Ini juga soal perasaan. Seperti saat kamu bangkit dari patah hati dan berkata, “Saya tidak akan menghubunginya lagi,” lalu lima menit kemudian, kamu mengetik, “Hai, udah makan?”

Bangkit itu bukan perkara berdiri, tapi soal keberanian untuk jatuh dan tetap ingin mencoba lagi. Seperti kisah cinta kita yang gagal terus, tapi masih yakin jodoh akan datang naik ojol, bukan odong-odong.

Kita ini bangsa romantis. Percaya bahwa setiap luka bisa sembuh, asal direbus dengan daun kemerdekaan dan ditaburi sedikit garam perjuangan.

Namun, mari kita jujur dalam kesedihan yang filosofis ini. Apa yang sebenarnya kita rayakan setiap 20 Mei?
Apakah itu semangat? Apakah itu harapan?
Ataukah hanya formalitas tahunan yang dijadikan latar foto upacara agar feed Instagram tampak nasionalis?

📚 Artikel Terkait

Senarai Puisi Hashim Yaacob

Proses Kreatif Menulis: Dari Luka Menjadi Cahaya

Keterbatasan Yang Tak Membatasiku

TRANSFORMASI DAN PRASANGKA BAIK

Bangsa yang bangkit bukanlah bangsa yang bebas dari masalah. Tapi bangsa yang tetap menyeduh kopi, meski tahu harga gula sedang naik, dan tetap nyicil meski gaji belum naik.

Bangsa yang bisa tertawa dalam keterbatasan, dan menangis dalam diam ketika melihat pemimpinnya sibuk debat receh di televisi, sementara rakyat sibuk debat harga cabai di pasar.

Melankolis, iya. Karena kita rindu negeri yang lebih jujur. Yang tidak hanya bangkit di baliho, tapi juga di hati nurani.
Yang tidak hanya bersatu saat demo, tapi juga saat tetangga butuh pertolongan.

Dan di antara sarkasme-sarkasme kehidupan ini, aku tetap mencintai negeri ini. Seperti mencintai seseorang yang tidak sempurna, tapi membuatku percaya bahwa cinta bisa mengubah segalanya, meski butuh waktu, dan tentu saja, revisi anggaran.

Hari Kebangkitan Nasional bukan hanya soal apa yang terjadi 117 tahun lalu. Tapi tentang hari ini. Tentang kamu yang masih memilih jujur meski hidup kadang seperti ujian open book yang bukunya hilang.

Tentang kita yang bangun pagi bukan karena semangat, tapi karena cicilan. Dan itu tidak apa-apa. Bangkit pun tidak harus heroik. Kadang, cukup dengan tidak menyerah.

Jadi, selamat Hari Kebangkitan Nasional.
Bangkitlah dengan cara apa pun. Dengan puisi, dengan kopi, dengan aksi, atau sekadar dengan senyum yang meski palsu, tapi tetap kamu berikan demi harapan yang tidak mati.

Karena seperti kata Chairil, sekali berarti, sesudah itu mati.
Tapi kalau bisa sih… sekali berarti, habis itu hidup enak, ya kan?

Karena kita bangsa yang kuat. Bangsa yang tahu rasanya pahit, tapi tetap suka yang manis. Dan yang paling penting. Kita bangsa yang bisa bangkit. Meski pelan, meski tersandung, tapi tetap… menuju pagi yang lebih terang.

Jakarta, 20 Mei 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah

Mengejar Scopus, Melupakan Sufisme: Krisis Spiritualitas di Kalangan Cendekiawan Muslim

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00