POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Mengenang Reformasi 21 Mei di Era AI: Kilas Balik, Refleksi, dan Tantangan Baru

RedaksiOleh Redaksi
May 22, 2025
Mengenang Reformasi 21 Mei di Era AI: Kilas Balik, Refleksi, dan Tantangan Baru
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Gunawan Trihantoro
Ketua Satupena Kabupaten Blora dan Sekretaris Kreator Era AI Jawa Tengah

Dua puluh enam tahun telah berlalu sejak Reformasi 21 Mei 1998 mengguncang Indonesia. Kala itu, jerit rakyat menggema dari pelosok negeri, menuntut perubahan dari rezim Orde Baru yang otoriter menuju era demokrasi yang lebih terbuka dan berkeadilan.

Momentum itu menjadi tonggak sejarah bangsa, ketika Presiden Soeharto akhirnya mengundurkan diri setelah 32 tahun berkuasa. Generasi muda, mahasiswa, dan berbagai elemen masyarakat menjadi motor penggerak, melahirkan harapan baru akan tata kelola negara yang lebih transparan dan partisipatif.

Reformasi membawa angin segar berupa kebebasan pers, pemilu yang lebih demokratis, pembatasan masa jabatan presiden, serta pembentukan lembaga-lembaga independen seperti KPK. Rakyat mulai merasa menjadi bagian dari proses politik, bukan sekadar penonton.

Namun, perubahan besar ini juga menyisakan pekerjaan rumah yang tak kunjung selesai. Korupsi tetap merajalela, oligarki tumbuh subur dalam sistem demokrasi elektoral, dan kesenjangan sosial masih mencolok. Di tengah euforia kebebasan, kita kerap abai pada kedisiplinan hukum dan etika publik.

Kini, di era kecerdasan buatan (AI), tantangan reformasi memasuki babak baru. AI menyajikan potensi luar biasa untuk memperbaiki tata kelola pemerintahan, pelayanan publik, hingga penegakan hukum, jika dimanfaatkan dengan bijak dan etis.

Bayangkan jika teknologi AI diterapkan untuk transparansi anggaran, deteksi dini korupsi, atau analisis kebijakan publik secara real-time. Data besar (big data) dapat digunakan untuk mengevaluasi program sosial, pendidikan, hingga mempercepat pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan.

📚 Artikel Terkait

Keseruan bersepeda dan sejuta manfaatnya

Sajak Kinabalu

Rasa Cinta yang Dalam Terhadap Taekwondo

UN itu, Buruk Rupa, Cermin Dibelah

Namun di sisi lain, AI juga membawa potensi bahaya jika jatuh ke tangan segelintir elit yang bersekongkol dengan algoritma. Manipulasi informasi, penyebaran hoaks otomatis, dan pengawasan massal dapat menjadi alat kontrol baru yang tak kalah menakutkan dari represi di masa Orde Baru.

Karena itu, mengenang Reformasi tidak cukup hanya dengan perayaan simbolik atau nostalgia. Kita harus terus menghidupkan semangatnya dalam konteks zaman yang berubah. Era digital dan AI menuntut literasi baru, etika baru, dan bentuk perjuangan baru yang lebih cerdas dan terorganisir.

Kita perlu membangun civil society yang melek teknologi, berani bersuara, namun juga mampu memverifikasi informasi dan melawan disinformasi. AI harus menjadi alat pembebasan, bukan alat pembungkaman. Demokrasi digital menuntut tanggung jawab digital.

Mahasiswa dan generasi muda tetap memegang peran penting seperti pada 1998, tapi kali ini perjuangannya mungkin lewat coding, design thinking, citizen journalism, atau digital activism. Reformasi tidak mati, ia hanya berevolusi dalam bentuk dan medan baru.

Pemerintah pun ditantang untuk memimpin dengan visi yang adaptif terhadap teknologi, tapi tetap berpihak pada nilai-nilai Pancasila. Penguatan lembaga demokrasi di era AI harus dilandasi etika dan keberpihakan pada rakyat kecil, bukan pada akumulasi data dan kapital.

Reformasi adalah proses, bukan peristiwa yang selesai dalam satu hari. Maka, mengenangnya di era AI justru menuntut kita untuk menafsir ulang makna kebebasan, keadilan, dan partisipasi dalam lanskap digital yang kompleks dan penuh jebakan.

Mari kita jadikan Reformasi 21 Mei sebagai titik tolak bukan hanya untuk mengenang, tapi juga menata masa depan Indonesia di tengah disrupsi teknologi. AI bisa menjadi teman seperjalanan, selama kita tetap setia pada cita-cita keadilan sosial dan kedaulatan rakyat.

Karena sejatinya, Reformasi adalah keberanian untuk berkata “cukup” pada penindasan dan “mari” pada perubahan. Di era AI, suara keberanian itu bisa bersuara lewat data, algoritma, dan etika digital -asal kita tetap memegang kendali atas masa depan kita sendiri. (*)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 112x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 101x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 92x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 84x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 83x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
165
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Puisi-Puisi Oka Swastika Mahendra

Puisi-Puisi Oka Swastika Mahendra

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00