POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Menghukum atau Mendidik? Menimbang Ulang Relevansi Hukuman Menulis Ratusan Kali di Era AI

Gunawan TrihantoroOleh Gunawan Trihantoro
May 21, 2025
Menulis Kreatif: Merangkai Kata, Menyulut Makna
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Gunawan Trihantoro
Ketua Satupena Kabupaten Blora dan Sekretaris Kreator Era AI Jawa Tengah

Di tengah derasnya arus kemajuan teknologi, dunia pendidikan dihadapkan pada tantangan besar: bagaimana tetap mendidik dengan pendekatan yang manusiawi, relevan, dan bermakna. Salah satu praktik yang masih bertahan di sejumlah sekolah adalah hukuman menulis kalimat secara berulang hingga ratusan kali.

Misalnya, seorang siswa yang lalai menjalankan tugas sebagai petugas upacara dihukum menulis kalimat pengingat sebanyak ratusan kali.

Namun ternyata, tugas sebagai petugas upacara itu diberikan secara mendadak. Tanpa persiapan yang cukup, wajar bila mereka merasa tidak siap atau tidak mampu menjalankan peran tersebut.

Pertanyaannya, apakah hukuman seperti ini masih relevan di era kecerdasan buatan?

Menulis satu kalimat hingga ratusan kali bukan hanya melelahkan, tetapi juga membuang potensi pembelajaran yang seharusnya lebih bernilai. Di balik alasan kedisiplinan, tersembunyi persoalan efektivitas dan dampak psikologis pada siswa.

Hukuman ini pada dasarnya lebih bersifat represif ketimbang edukatif. Anak tidak dilatih untuk memahami tanggung jawabnya sebagai petugas upacara, melainkan hanya menjalani beban administratif yang melelahkan dan berulang.

Padahal, jika tujuan hukuman adalah untuk menyadarkan siswa atas kelalaiannya, maka bentuk hukuman haruslah mengarah pada penguatan karakter dan tanggung jawab. Salah satu bentuk terbaik adalah melibatkan siswa langsung dalam pelatihan menjadi petugas upacara yang baik.

Dengan demikian, siswa tidak hanya menyadari kesalahannya, tetapi juga mendapatkan bekal keterampilan, kepercayaan diri, dan pengalaman langsung yang konstruktif. Hukuman pun berubah menjadi wahana pembelajaran.

📚 Artikel Terkait

Puisi-Puisi S. Sigit Prasojo

Perempuan-Perempuan yang Belajar Menganyam Tudung Saji

CINTAKU BERLABUH DI BANYUASIN

Lima Sajak Pilihan Indonesia Darurat Korupsi

Di era Artificial Intelligence, anak-anak kita sudah akrab dengan teknologi yang dapat menyalin tulisan hanya dengan satu klik. Maka, meminta mereka menulis ratusan kalimat berulang terasa tidak hanya usang, tapi juga tidak lagi mendidik secara esensial.

Jika anak hanya dituntut untuk mengulang tanpa makna, bagaimana mereka akan tumbuh menjadi generasi pembelajar kritis dan kreatif? Pendidikan harus adaptif dengan perkembangan zaman dan kebutuhan karakter anak bangsa.

Kementerian Pendidikan, melalui program “Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat”, mendorong tumbuhnya karakter positif, seperti jujur, bertanggung jawab, peduli, santun, dan mandiri. Hukuman menulis berulang tampaknya tidak berkontribusi signifikan terhadap pembentukan karakter-karakter tersebut.

Sebaliknya, pendekatan edukatif yang melibatkan anak dalam refleksi, dialog, dan pelatihan peran justru lebih selaras dengan semangat tersebut. Anak tidak hanya dihukum, tapi sekaligus ditumbuhkan.

Sudah saatnya dunia pendidikan berpindah dari pola pikir menghukum ke pola pikir menumbuhkan. Bukan dengan keras, tapi dengan cerdas. Bukan dengan sanksi, tapi dengan stimulasi pembelajaran.

Alih-alih menulis ratusan kali, mengapa tidak memberikan proyek mini seperti membuat catatan refleksi, membuat vlog tentang pentingnya disiplin, atau membimbing adik kelas menjadi petugas upacara? Semua itu bisa menjadi hukuman yang lebih positif dan mendidik.

Pendidikan yang bermakna tidak akan lahir dari ketakutan, melainkan dari pengalaman belajar yang menyentuh hati. Hukuman pun harus menjadi bagian dari proses belajar, bukan sekadar bentuk pelampiasan atas kesalahan.

Jika kita ingin membentuk anak Indonesia hebat, maka setiap langkah dalam proses pendidikan harus diarahkan pada pembentukan karakter dan kompetensi yang sejati. Termasuk cara kita memberikan hukuman.

Mari kita koreksi cara-cara lama yang tak lagi relevan. Di era AI ini, saat teknologi berkembang pesat, pendidikan pun harus ikut berkembang -lebih kreatif, reflektif, dan transformatif.

Karena pada akhirnya, pendidikan bukan soal menghukum, tapi soal menumbuhkan. (*)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro adalah seorang penulis kelahiran Purwodadi tahun 1974. Ia merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang mulai aktif menulis sejak masa kuliahnya. Karya-karyanya telah terbit di berbagai media cetak dan online. Gunawan aktif dalam berbagai komunitas kepenulisan, termasuk Satupena, Kreator Era AI, dan Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah. Selain itu, ia juga berkontribusi sebagai penulis buku-buku naskah umum keagamaan dan moderasi beragama di Kementerian Agama RI selama periode 2022–2024. Hingga kini, Gunawan telah menghasilkan puluhan buku, baik sebagai penulis tunggal maupun penulis bersama, yang memperkuat reputasinya sebagai salah satu penulis produktif di bidangnya.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah

Pendidikan untuk Semua: Menyatukan Visi Akademik, Spiritualitas, dan Kearifan Lokal untuk Masa Depan Indonesia Emas 2045

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00