• Latest
Puisi-Puisi S. Sigit Prasojo - 1858fd4a 3c06 4065 b356 b87b3bb59eb2 | Antologi Puisi | Potret Online

Puisi-Puisi S. Sigit Prasojo

Desember 23, 2025

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
3a73ee9a-87d0-4bf2-aa52-0c77db8a9144

Pengaruh Self-Efficacy Terhadap Prestasi Akademik: Tinjauan Psikologi dan Bukti Empiris

April 19, 2026
IMG_0839

Demokrasi Di Ujung Tanduk?

April 19, 2026
d6285489-5291-4630-bb73-f4e571585b61

‎Ghost in the Cell: Bukan Sekadar Horor Fiksi, Melainkan Realitas Pahit Ketidakadilan Sistem

April 19, 2026
fd4ef5b5-307b-48e6-adff-f924e420a87b

Mengkritik Dan Mengajak Merenung Melalui Puisi Esai

April 19, 2026
ad86b955-a8e6-412e-b371-a15c846736db

Sedih Sekali, Ibu Guru Diacungi Jari Tengah oleh Siswanya Sendiri

April 19, 2026
IMG_0835

Menurunnya Religiusitas Pada Remaja Muslim

April 18, 2026
Minggu, April 19, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Puisi-Puisi S. Sigit Prasojo

Redaksi by Redaksi
Desember 23, 2025
in Antologi Puisi, POTRET Budaya, Sastra
Reading Time: 4 mins read
0
Puisi-Puisi S. Sigit Prasojo - 1858fd4a 3c06 4065 b356 b87b3bb59eb2 | Antologi Puisi | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

6. Langit yang Tersisa

Langit senjakala menggantung rendah,menyapu ubun rambutku yang basah.Jalan ini mengulur jauh—lebih panjang dari segala mantrayang pernah kulisankandi bibir ibu yang beraroma garam waktu.Di kiri-kanan,pohon-pohon berjaga bagai juru wasiat bumi:mereka tahu aku bukan musafir,melainkan jiwa yang tersesatoleh hasrat tiba sebelum makna.Setiap langkah adalah ikrar bisu—testamen dari nama-namayang pernah kukasihi,dan dari bayang yang belum sempatkukuburkan di dada.Seekor anjing melintas perlahan,mata beningnya menyimpan nubuat:ia tak menyoal siapa aku,sebab semesta tak butuh namauntuk mengenali sepi.Aku berhenti di tepi jalan,menatap langit yang merenta di mataku.Di sana,awan berzikir dalam rupa seseorangyang dahulu kupanggil aku.Aku menunduk dan berbisik:Mungkin pulang bukan arah,melainkan takzim kepada langkah,yang berani berjalan tanpa peta.Dan sore pun gugur—setetes demi setetes,seperti suara yang usai bermaknadan pulang ke rahim bumi.Ponorogo, 2025

7. Cermin Ibu

Di balik kaca itu,ibu menatap duniaseperti menatap cermin yang mengeruh oleh usia.Matanya tak lagi mencari—hanya menunggu sesuatuyang barangkali menjelma cahaya,atau sekadar gema dari doa yang terlupa.Tiap pagi ia menyapu lantaidengan langkah yang telah menua,seakan debu adalah firasatbahwa dunia masih mengingat namanya.Aku memanggil dari halaman,namun suaraku terperangkap di udara,gugur di antara jeda yang tak terjembatani waktu.Barangkali antara kamiada luka yang tak kunjung sembuh,menyamar menjadi keheningan.Ibu tersenyum tipis,seperti sabit bulan yang tersangkut di tirai.Lalu ia kembali ke dapur,mengaduk air yang hening—air yang kehilangan garamnya,seperti hari-hari yang kehilangan bunyinya.Dan aku mengerti kini:cinta tak selalu bersuara,ia hanya mengendapdi tatapan yang perlahan pudar bersama sore,menjadi kesabaran yang abadi.Ponorogo, 2025

8. Ayah di Kursi Senja

Kursi itu masih di tempatnya:
retak di lengan, dingin di sandaran,
tapi hangat di takhta kenangan.

Ayah dulu duduk di sana—

menyalakan rokok,

menghela napas seperti mengukur hidup

dari panjang asap yang melingkar di udara.

Ia jarang bicara,

tapi sekali membuka mulut,

kalimatnya seperti batu kecil

yang dilempar ke kolam waktu.

Gelombangnya masih terasa sampai hari ini.

Kini kursi itu menatapku kembali.
Aku duduk di depannya,
mencoba meniru cara ayah diam.
Namun diamku gamang,
diam yang kehilangan wibawa—
diam anak kecil
yang belum khatam belajar menua.

Sore meluruh di sela daun jambu,

aku membayangkan ayah masih di sana,

mengangguk kecil,

mungkin sedang mengajari cara

menjadi lelaki tanpa kehilangan air mata.

Ponorogo, 2025

9. Tak Sempat Berpamitan

Di meja makan,masih tersisa dua sendok,satu piring,dan percakapan yang terpenggal di tengah suapan.Aku memungut remah roti,menemukan di bawahnyaselembar catatan yang mulai menguning:“Pergilah, tapi jangan buru-buru.”Tak berpenanda,tanpa tanggal,hanya sepenggal kalimatyang menolak dimakamkan oleh waktu.Aku tahu,mereka yang pergi tergesameninggalkan bayangan yang lebih beratdari tubuhnya sendiri.Malam itu,aku menyalakan sebatang lilin—bukan untuk menerangi,melainkan untuk memberi tahu yang hilangbahwa rumah ini masih hafal arah pintu.Asapnya naik perlahan,berpilin di udara seperti doa yang gentar.Aku menatapnya hingga padam,dan di saat itu aku paham:yang paling setia bukan kenangan,melainkan kehilanganyang tetap tinggalmeski segala telah pergi.Ponorogo, 2025

10. Litani Bayangan

Jam di dinding itu berhenti di pukul dua belas,

tapi aku masih mendengar waktu berjalan

di urat tanganku sendiri.

Jarum-jarumnya diam,

namun bayang-bayang di lantai

tetap bergeser perlahan—

seolah cahaya menolak ikut mati.

Di rumah ini,

semua benda punya ingatan.

Sendok mengingat suara tawa,

kursi menyimpan bentuk duduk yang tak kembali,

dan meja,

masih menunggu percakapan yang tidak sempat diakhiri.

Aku menatap jam itu,
dan seketika paham:
waktu tak pernah berhenti;
ia hanya menyamar sebagai bisu
agar kita belajar mendengar
yang tak bersuara—
detak nadi, langkah debu,
atau doa yang membeku
di pori-pori hari.

Malam nanti,
akan kuputar jarum itu kembali,
bukan untuk menghidupkan waktu,
melainkan untuk mengukur jarak
antara aku
dan diriku sendiri.

Ponorogo, 2025

Karya: S. Sigit Prasojo 

S. Sigit Prasojo, lahir di Ponorogo, 25 Juli 2001. Ia adalah santri di Pondok Pesantren An-Najiyah Ponorogo, aktif di Himpunan Penulis Mahasiswa, dan menjabat sebagai Wakil Ketua HIMA DIWANGKARA Pendidikan Bahasa Jawa  STKIP PGRI Ponorogo. Pernah menjadi juri Cipta Puisi FLS2N 2025 serta meraih berbagai kejuaraan kepenulisan tingkat nasional. Ia tergabung dalam komunitas sastra seperti Partey Penulis Puisi dan Aksara Malaysia. Karyanya telah dimuat di berbagai media sastra nasional, baik cetak maupun daring.

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post
Puisi-Puisi S. Sigit Prasojo - IMG_9101 | Antologi Puisi | Potret Online

Ketika Kedaulatan Dipakai untuk Menyangkal Kemanusiaan

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com