Dengarkan Artikel
NYALA DI UJUNG RENCONG
(Syair Perang untuk Tanah yang Tak Pernah Tunduk)
Dengarlah wahai pewaris tanah,
Rencong bersinar di genggam darah,
Langit membara, bumi bersaksi,
Aceh berdiri, tak sudi dikerdilkan lagi.
Di balik kabut pegunungan tinggi,
Terdengar azan menggema sakti,
Laskar bangkit dari mimpi sunyi,
Menjaga tanah, menantang mati.
Musuh datang bak gelombang badai,
Dengan besi, kapal, dan nyali serigala,
Namun kami, anak rempah dan doa,
Tak gentar meski dunia menelaah.
Nyala menyala di ujung rencong,
Membelah gelap, menyayat congkak,
Setiap hunus adalah janji,
Setiap tusuk adalah ikrar suci.
Bukan sekadar tanah yang kami bela,
Tapi marwah, tapi ruh pusaka,
Dari Darussalam hingga Istanbul,
Kami bersyair dalam takdir yang tunggul.
Wahai sejarah, catat yang benar,
Kami bukan kisah yang mudah dilupa,
Nyala kami terus menyala,
Di ujung rencong — dan di dada bangsa.
Aceh, 20 Mei 2025
NYALA TANPA API
Dalam hening yang membeku,
Terbakar nyala tanpa api,
📚 Artikel Terkait
Jejak tanpa tapak,
Suara tanpa gema.
Ia bukan sang penguasa,
Tapi gelombang yang mengguncang samudra,
Dalam diamnya dunia bergetar-
tanpa sosok, tanpa nama, abadi.
Pantai Utara Aceh, 16 Mei 2025
SESUDAH CAHAYA
Tatkala nur merunduk dibalik hijab gelap,
Langit terbungkus sepi bagai kain kafan,
Bintang-bintang memudar, sunyi berbisik lembut,
Menyulam do’a dalam denting malam kelam,
Bayang hilang dari tubuhnya sendiri,
Langkah-langkah menyusur lorong sunyi tak bertuan,
Gumam angin mengelus dinding hati yang rapuh,
Membawa rahasia lama, sirr yang tersembunyi dalam diam.
Gelap bukan musuh bagi sinar yang sejati,
Melainkan pusara rahmat bagi jiwa yang merindu,
Tempat rindu dan do’a bersimpuh dalam sepi,
Menanti Tajalli-Nya hadir dalam sunyinya.
Aku pun terdiam, membisik tanpa suara,
Meresapi yang melampaui kata,
Sesudah cahaya, bukanlah tiada,
Melainkan awal cinta yang kembali pada-Nya.
Serambi Mekkah, 15 Mei 2025
BENANG SUTRA DI SENJA SERAMBI
Di balik tabir senja serambi,
Terpatri gema samudra waktu,
Seutaa tali benang sutra rindu,
Menyulam cerita dari akar abu.
Embun pagi mengusap pelupuk,
Menyibak kabut sejarah lama,
Dari rongga tanah yang tertutup,
Tumbuh nyala api di antara rama.
Layar terbentang bayang menari,
Dalam diam berbicara sunyi,
Rasa dan ragam bertaut harmoni,
Menglirkan jiwa pada bumi.
Bunga kecil di pekarangan dunia,
Mekar di tengah badai dan duka,
Pucuk harapan, akar budaya,
Menyatu dalam langkah yang tak terlupa.
Kota Tua, 15 Mei 2025
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






