Dengarkan Artikel
Oleh Rosadi Jamani
Makin ke sini, negeri jiran kita semakin hebat bulutangkisnya. Ada rasa iri, sih. Ya, sudahlah! Namanya olahraga, pasang surut. Kecuali, ngopi tetap penuh gairah untuk selalu menemani tulisan ini. Mari kita simak kehebatan tetangga sebelah di bidang tepuk bulu.
Di saat sebagian besar negara masih sibuk debat siapa yang paling cinta ASEAN, Malaysia memutuskan untuk menyelesaikannya dengan cara yang lebih berkelas, memenangkan dua gelar di Thailand Open 2025. Bukan satu. Tapi dua, tuan-tuan dan puan-puan. Seolah ingin berkata, “Biarlah yang lain ribut soal geopolitik, kami pilih menggetarkan jaring net di Bangkok!”
Kemenangan ini tidak datang seperti hujan turun di musim kemarau, ia datang seperti banjir bandang yang menerjang papan skor dan membasahi sejarah dengan tinta emas. Pasangan ganda putra Aaron Chia/Soh Wooi Yik dan pasangan ganda putri Pearly Tan/Thinaah Muralitharan tampil bukan sekadar hebat. Mereka seperti muncul dari dimensi lain, tempat bulu tangkis diajarkan sejak bayi dan raket adalah alat makan pokok.
Mari kita mulai dari Aaron/Soh, duo yang seperti diciptakan langsung dari laboratorium rahasia badminton Malaysia. Mereka menghadapi pasangan Denmark William Kryger Boe/Christian Faust Kjaer dalam tiga gim yang menguji segalanya—mental, stamina, bahkan persahabatan. Skor 20-22, 21-17, 21-12 bukan sekadar angka. Itu adalah puisi dalam angka, soneta epik tentang perjuangan manusia melawan kelelahan dan demam panggung internasional.
Siapa di balik transformasi duo ini? Tidak lain dan tidak bukan, Herry Iman Pierngadi, pelatih legendaris asal Indonesia. Ya, Malaysia menyadari bahwa kalau ingin menang, jangan cuma beli teknologi. Beli sumber daya manusia unggul, dan siapa lagi kalau bukan Herry IP, otak di balik era keemasan ganda putra Indonesia. Di bawah asuhan beliau, Aaron/Soh bukan hanya naik level. Mereka berubah jadi mesin penghancur berkarakter lembut, seperti samurai yang meditasi dulu sebelum menebas lawan.
📚 Artikel Terkait
Sementara itu di sektor ganda putri, Pearly/Thinaah tampil seperti bunga mekar yang menyemburkan laser. Mereka menaklukkan pasangan Korea Selatan Jeong Na-eun/Lee Yeon-woo dengan skor 21-16, 21-17. Tidak ada drama tiga set. Tidak ada ketegangan berlama-lama. Ini seperti film laga berdurasi 15 menit, cukup buat nonton sambil rebus air tapi tetap bikin berteriak, “Apa Itu Smash?!”
Yang menarik, kemenangan ini datang setelah periode paceklik prestasi. Malaysia sempat diolok-olok sebagai “tim pencari pengalaman.” Tapi hari ini, pengalaman itu dibayar kontan. Bahkan dengan bunga. Bahkan dengan kupon diskon untuk final berikutnya.
Tentu saja, kita tidak boleh melupakan bahwa China juga merebut dua gelar, sektor tunggal putri lewat Chen Yu Fei, dan ganda campuran Feng Yan Zhe/Huang Dong Ping. Tapi ayolah, kita semua tahu China memang menang, itu seperti matahari terbit, nggak mengejutkan. Tapi Malaysia? Malaysia seperti komet langka yang lewat dan membakar langit dengan warna emas dan semangat serumpun.
Tuan rumah Thailand pun tak mau jadi figuran. Mereka membawa pulang satu gelar lewat Kunlavut Vitidsarn, yang berhasil menumbangkan Anders Antonsen dari Denmark. Sebuah kemenangan untuk menjaga harga diri, dan membuktikan bahwa Thailand tak hanya jago di kuliner dan pariwisata. Namun pada akhirnya, yang jadi bahan omongan bukan siapa yang menang, tapi siapa yang berubah jadi monster di lapangan. Jawabannya jelas, negeri Upin Ipin.
Dunia, hati-hati. Malaysia tidak hanya bangkit. Mereka sedang memanaskan mesin. Dengan Herry IP di balik kemudi, bukan tidak mungkin mereka akan merebut segalanya, gelar, ranking satu dunia, bahkan hati para penonton netral.
Thailand Open 2025 telah mencatat sejarah. Malaysia meraih dua gelar, dan ada sentuhan Indonesia di dalamnya.
“Bang, kita kapan juaranya?” Nanti, ada masanya, tenang saja.
camanewak
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






