POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Kutempuh Jalan Menulis, Kurasakan Jiwa dan Badan Sehat

RedaksiOleh Redaksi
May 18, 2025
🔊

Dengarkan Artikel


‎
‎
‎Oleh: Anies Septivirawan
‎
‎Membaca dan menulis adalah dua kata kerja, namun berbeda makna. Dan kesamaannya adalah sama memiliki awalan “me”.
‎
‎Membaca dan menulis adalah kegiatan yang berbeda. Meskipun berbeda, namun dua kata kerja ini bagaikan dua sisi mata uang logam yang memiliki kebermanfaatan di tengah berlangsungnya kehidupan manusia dalam berperadaban.
‎
‎Dan, dua kata kerja ini pula, bak sepasang kekasih, sepasang suami istri yang melengkapi kehidupan alam semesta raya hingga semesta atau jagad kecil di dalam diri manusia.
‎
‎Sebuah kekuatan besar bernama tuhan telah berpuluh abad yang lalu memerintahkan makhluk berakal bernama manusia agar mau membaca ayat -ayat tidak tertulis berupa peristiwa – peristiwa besar di jagat raya, dan agar mau membaca ayat -ayat tertulis yang tertuang di atas lembar – lembar semua kitab suci agama.
‎
‎Dengan membaca aksara di semesta raya, kita mengerti, kita berasal dari mana dan akan kemana. Begitu pula membaca dan merangkai huruf demi huruf yang menjadi kata, menjadi kalimat, menjadi paragraf di atas kertas dan buku. Dengan membaca, kita menjadi tahu dan pintar. Maka dari itu, aku lebih senang dan suka membaca.
‎
‎Kesukaanku terhadap kegiatan membaca, adalah bermula ketika duduk di bangku sekolah dasar kelas dua di kota Jember.
‎
‎Ingatanku masih tajam dan jernih ketika sepulang dari sekolah, aku selalu disuguhi menu bacaan majalah anak – anak. Bacaan majalah anak – anak pada saat itu yang sering kubaca adalah majalah Bobo dan Ananda.
‎
‎Kala itu, bapakku yang bekerja sebagai staf rendah di sebuah BUMN di kecamatan Tanggul, Jember, rela merogoh kocek recehnya untuk berlangganan majalah Bobo dan Ananda untukku dan kakakku.
‎
‎Namun hanya aku yang gemar “melahap” menu-menu sajian bacaan kedua majalah anak -anak itu. Sedangkan kakakku hanya gemar bermain layang-layang dan memancing.
‎
‎Kegemaran atau kesukaan membacaku sejak kecil berlangsung hingga pada usia remaja ketika aku duduk di bangku SMP. Setelah kurasakan kenikmatan membaca sampai pada titik jenuh, aku mulai sering dilanda kegelisahan. Dan kegelisahan di dadaku mulai mendorongku agar segera bergerak untuk menulis apa saja.
‎
‎Aku pun mulai menulis seluruh aktivitasku mulai dari pagi hingga aku tidur pada malam hari. Aktivitas itu kutulis di atas kertas buku diary. Meskipun kegiatan menulis di buku diary itu kebanyakan dilakukan oleh anak – anak perempuan atau cewek, aku tidak pernah malu dan minder membawa buku diary kemana – mana.
‎
‎Selain seluruh aktivitas keseharian, aku juga sering menulis puisi dan sejumlah cerita pendek di dalam buku diary kesayanganku saat itu, aku masih kelas dua SMP di sebuah SMP Negeri favorit di Situbondo pada tahun 1982.
‎
‎Seiring berjalannya roda waktu yang telah membawaku pada usia remaja hingga lulus sekolah menengah atas, aku mulai gemar coba – coba mengirim karya puisiku ke sejumlah media massa. Meskipun ada banyak media massa yang menolak naskahku, tapi ada juga segelintir media massa berupa koran harian yang rela menerima naskah puisi cintaku di rubrik budaya kala itu.
‎
‎Ketika memiliki rasa haru dan bahagia ketika puisiku dimuat oleh salah satu koran tidak terkenal di Jakarta, pikiran, jiwa dan hatiku mulai mengambil keputusan agar aku harus selalu menulis. Menulis apa saja tentang kebaikan.
‎
‎Karena dengan menempuh jalan menulis, bagiku, ion-ion negatif bernama kegelisahan akan musnah lalu terlempar ke luar badan/tubuhku. Badanku sehat. Dan tidak hanya badanku, jiwaku juga waras alias sehat.
‎
‎Dan aku jadi teringat secuil syair lagu kebangsaan negara kita, “Indonesia Raya” , ciptaan Wage Rudolf Supratman: “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya….untuk Indonesia Raya… Indonesia Raya… merdeka…. merdeka….
‎
‎Kubaca syair lagu kebangsaaku itu sangat teliti dan berhati-hati agar tidak terbalik: “Bangunlah jiwanya… bangunllah badannya …” .
‎
‎Kalau kita membaca dan menyanyikan secara terbalik menjadi “bangunlah badannya… bangunlah jiwanya…, keadaannya akan menjadi negeriku pada saat ini. Semoga kita tidak membaca dan memaknainya secara terbalik, agar negeriku selalu baik – baik. Salam akal sehat.
‎
‎
‎Malang, Paruh Mei 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)

📚 Artikel Terkait

Jaga Raja Ampat

Begini Cara Cetak KK Secara Mandiri, Warga Banda Aceh Tak Perlu Ke Disdukcapil

Ada Apa dengan Kampus itu?

“Ie Pet”

📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Memaknai Kekhususan Hari Jum’at

Abu Kruengkalee; Syekhul Masyayikh Ulama Aceh Periode Awal

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00