Dengarkan Artikel
Oleh Abdurrahman – Peneliti Independen dari Aceh
Di tengah derasnya gelombang teknologi dan kecerdasan buatan, pendidikan Indonesia masih tersandera oleh satu virus laten: budaya manutan. Guru mengajar sesuai diktat kurikulum tanpa menginterogasi isinya, siswa belajar demi nilai bukan karena ingin tahu, dan birokrasi pendidikan pun lebih sibuk mengejar angka akreditasi daripada membangun ekosistem ilmu yang hidup dan bernyawa. Kita sedang berada di zaman penuh kemungkinan, tetapi masih memakai cara berpikir zaman kemarin.
Dalam konteks ini, peran guru sangat menentukan arah gerak bangsa. Namun, kita mesti jujur bertanya: apakah mayoritas guru kita hari ini adalah pencetak terobosan atau sekadar pengulang sistem? Apakah guru kita aktif meneliti dan bereksperimen, atau hanya menjadi perpanjangan tangan kebijakan tanpa nalar kritis?
Seharusnya, guru bukan sekadar pengajar, melainkan juga peneliti. Guru peneliti adalah mereka yang berani berpikir mandiri, menggali permasalahan lokal di ruang kelasnya, mengolah data secara ilmiah, dan menawarkan solusi berbasis bukti. Mereka tidak takut bertanya, “mengapa metode ini gagal?” dan tidak malu untuk menjawab, “karena kita belum mencoba cara yang lebih bermakna.”
Sayangnya, budaya ini masih langka. Di banyak daerah, termasuk Aceh, saya sering menemukan guru-guru hebat yang semangatnya besar, namun terjebak dalam rutinitas administratif yang melelahkan. Beban laporan, pelatihan yang formalistik, dan sistem insentif yang tidak berpihak pada riset membuat guru kreatif kehilangan gairah. Bahkan, masih banyak yang menganggap penelitian sebagai tugas tambahan yang rumit dan tak perlu, bukan sebagai bagian dari panggilan intelektual.
Padahal, dalam perspektif Islam, riset adalah pangkal dari peradaban. Firman pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad bukan “taatlah” atau “hafalkanlah”, melainkan “Iqra”—bacalah. Membaca di sini bukan hanya soal teks, tetapi juga membaca fenomena, membaca masalah, membaca realitas dengan mata tajam dan hati yang terbuka. Para ulama besar dalam sejarah Islam, seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, Al-Ghazali, hingga Al-Zarnuji, bukan hanya pengajar di madrasah, tetapi juga peneliti yang menulis, menggali, dan menyumbang gagasan bagi dunia.
📚 Artikel Terkait
Aceh yang pernah dikenal sebagai Serambi Mekkah juga punya warisan besar dalam hal ini. Tengok sejarah Dayah di Aceh yang tak hanya mengajarkan agama, tapi juga membentuk intelektual yang tangguh. Namun warisan itu tidak boleh hanya dijadikan kebanggaan historis. Warisan harus dihidupkan, dan satu-satunya cara menghidupkannya adalah dengan menjadikan riset sebagai ruh pendidikan Aceh masa kini.
Kita tidak bisa berharap kemajuan datang dari budaya manutan. Pendidikan yang stagnan tidak akan mencetak generasi pemimpin. Untuk itu, kita butuh guru peneliti, bukan sekadar guru pengikut. Kita butuh guru yang punya daya cipta, bukan sekadar daya salin. Kita butuh mereka yang bisa menciptakan metode pembelajaran baru, mengevaluasi praktik kelas secara ilmiah, dan menulis laporan yang memberi arah baru, bukan sekadar menggugurkan kewajiban administrasi.
Pendidikan adalah ladang perubahan sosial. Di tangan guru peneliti, kelas bukan lagi ruang beku yang hanya diisi hafalan, tetapi menjadi laboratorium perubahan. Di tangan mereka, anak-anak tidak hanya diajak menghafal rumus, tetapi diajak berpikir kritis, diajak bertanya dan mencari. Di tangan guru yang meneliti, kebijakan pendidikan tidak hanya disusun dari atas, tetapi diberi umpan balik dari lapangan yang nyata.
Namun untuk membentuk ekosistem guru peneliti, negara dan daerah harus memberi ruang dan penghargaan. Pertama, beri waktu luang bagi guru untuk meneliti, jangan hanya dibebani tugas administratif. Kedua, buat insentif dan publikasi yang merangsang guru untuk menulis dan berbagi hasil risetnya. Ketiga, dorong kolaborasi antara guru dan lembaga riset, universitas, bahkan pesantren.
Khusus untuk Aceh, sebagai daerah dengan identitas keislaman yang kuat dan sejarah intelektual yang panjang, ini adalah momen kebangkitan. Jangan biarkan simbol Serambi Mekkah menjadi slogan tanpa isi. Mari dorong para guru Aceh menjadi peneliti kelas dunia—bukan hanya pandai mengaji, tetapi juga tajam menganalisis. Bukan hanya taat pada sistem, tapi juga berani memperbaiki dan mencipta sistem baru.
Sebagai peneliti independen, saya telah melihat sendiri betapa potensi guru-guru Aceh luar biasa. Yang kurang bukan kemampuan, tapi ekosistem. Yang dibutuhkan bukan semangat baru, tapi penghargaan terhadap cara berpikir baru. Sudah saatnya kita menggeser paradigma dari manutan menjadi terobosan. Karena bangsa yang besar tidak dibangun dari kepatuhan membuta, tetapi dari keberanian bertanya dan kesungguhan meneliti.
Guru peneliti adalah kunci masa depan. Dalam Islam, ilmu itu bukan hanya alat, tapi jalan menuju kemuliaan. Dalam pendidikan, riset bukan hanya pilihan, tapi kebutuhan. Dan dalam konteks Aceh dan Indonesia hari ini, guru yang meneliti bukan hanya inspirasi, tetapi kebutuhan strategis untuk membangun peradaban baru.
Mari tinggalkan budaya manutan. Mari bangun pendidikan berbasis terobosan. Karena bangsa ini, dan peradaban Islam yang agung, lahir dari keberanian berpikir—bukan dari ketakutan mencoba hal baru.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





