Dengarkan Artikel
Catatan Paradoks; Wayan Suyadnya
Denpasar pagi ini seperti bangun dari mimpi yang tenang. Udara dingin lembut, menyusup di sela-sela dedaunan yang menunduk memanggul embun.
Tanah basah, seperti baru saja diciumi hujan semalam. Wangi tanah menyembur dari sela-sela rerumputan, membungkus tubuh dengan kesejukan yang ganjil.
Tak ada yang istimewa sebenarnya, hanya desir angin dan cahaya matahari yang malu-malu menari di tembok rumah, namun entah kenapa, tiba-tiba ingat jubel, klipes, dan capung.
Di kampung dulu, ketika musim tanam tiba, dunia terasa penuh. Sawah baru diairi, pematang basah, dan muncullah makhluk-makhluk kecil yang menandai musim sebagai sesuatu yang hidup.
Jubel, sejenis ulat sawah yang gemuk dan kenyal sebesar klingking orang dewasa bisa didapat dengan mudah.
Tak perlu mencarinya, cukup beli saja dari pedagang keliling. Dibungkus daun, direbus dengan kunyit, dan dimakan hangat-hangat dengan sambal terasi. Rasanya? Nikmat.
Tak bisa ditandingi masakan restoran mana pun. Khas, tak ditemukan juga di tempat lain.
Klipes pun demikian. Serupa, namun berbeda. Bentuknya lain, tapi berasal dari tempat yang sama: pematang sawah.
Mereka saudara dalam satu habitat, hidup di sela-sela basah tanah pematang yang menghidupi banyak hal. Dari situ juga capung lahir.
📚 Artikel Terkait
Jubel suatu hari bermetamorfosis menjadi capung, begitu juga klipes sejenis itu.
Dulu, saat masih anak-anak, mengejar capung adalah hiburan paling mengasyikkan. Lidi diberi getah nangka, lalu mengintai capung di antara rumput.
Jika yang tertangkap capung kauk—yang besar, bersayap lebar seperti bayangan kerbau di langit—itu seperti menemukan harta karun. Sorak gembira melebihi tendangan goal sepak bola.
Hidup dulu sederhana, namun terasa lengkap. Tak ada uang saku, tak ada mainan mahal, tapi dunia menyediakan semuanya. Dari makanan sampai hiburan, dari sawah sampai senyum.
Kini, semua itu seperti dongeng. Beberapa waktu lalu pulang kampung. Menanyakan jubel dan klipes, dijawab tawa sinis. Pemukiman di belakang kampung telah menggantikan sawah. Pematang tempat capung terbang sudah jadi jalan rabat beton.
Padi masih tumbuh, tapi tanpa kehidupan kecil yang dulu menjadikannya utuh. Pestisida dan pupuk buatan telah menggusur kehidupan mikro yang dulu begitu akrab.
Capung pun nyaris tak tampak, padahal dulu jenisnya beragam: capung jaum seperti jarum, capung klitikan, capung pajeng, capung bencot, capung bincung dan tentu saja capung kauk.
Inilah paradoks yang menyakitkan. Dunia yang katanya maju justru kehilangan yang paling mendasar: keintiman dengan alam.
Kemajuan mencabut akar, dan menyisakan beton. Namun ada harapan. Di Bali kini, gaung pertanian organik mulai menggema kembali.
Katanya, jika tanah kembali bersih dari racun, maka jubel akan kembali berjubel, klipes akan tak akan apes, dan capung akan kembali melayang di atas pematang yang rindang.
Mungkin dunia bisa berputar kembali, meski tak persis seperti dulu.
Mungkin, suatu pagi, di Denpasar atau kampung mana pun, kita akan kembali mencium wangi tanah basah dan melihat capung kauk melintas perlahan di langit, membawa kenangan yang tak lekang.
Denpasar, 13 Mei 2025
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





