• Latest

Menunggu Jubel (kembali) Berjubel

Mei 13, 2025
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Menunggu Jubel (kembali) Berjubel

Redaksiby Redaksi
Mei 13, 2025
Reading Time: 3 mins read
585
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook


Catatan Paradoks; Wayan Suyadnya

Denpasar pagi ini seperti bangun dari mimpi yang tenang. Udara dingin lembut, menyusup di sela-sela dedaunan yang menunduk memanggul embun.

Tanah basah, seperti baru saja diciumi hujan semalam. Wangi tanah menyembur dari sela-sela rerumputan, membungkus tubuh dengan kesejukan yang ganjil.

Tak ada yang istimewa sebenarnya, hanya desir angin dan cahaya matahari yang malu-malu menari di tembok rumah, namun entah kenapa, tiba-tiba ingat jubel, klipes, dan capung.

Di kampung dulu, ketika musim tanam tiba, dunia terasa penuh. Sawah baru diairi, pematang basah, dan muncullah makhluk-makhluk kecil yang menandai musim sebagai sesuatu yang hidup.

Jubel, sejenis ulat sawah yang gemuk dan kenyal sebesar klingking orang dewasa bisa didapat dengan mudah.

Baca Juga

96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
Air Mata Kemanusiaan di Tanah Rencong

Air Mata Kemanusiaan di Tanah Rencong

Maret 14, 2026
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?

Maret 12, 2026

Tak perlu mencarinya, cukup beli saja dari pedagang keliling. Dibungkus daun, direbus dengan kunyit, dan dimakan hangat-hangat dengan sambal terasi. Rasanya? Nikmat.

Tak bisa ditandingi masakan restoran mana pun. Khas, tak ditemukan juga di tempat lain.

Klipes pun demikian. Serupa, namun berbeda. Bentuknya lain, tapi berasal dari tempat yang sama: pematang sawah.

Mereka saudara dalam satu habitat, hidup di sela-sela basah tanah pematang yang menghidupi banyak hal. Dari situ juga capung lahir.

Jubel suatu hari bermetamorfosis menjadi capung, begitu juga klipes sejenis itu.

Dulu, saat masih anak-anak, mengejar capung adalah hiburan paling mengasyikkan. Lidi diberi getah nangka, lalu mengintai capung di antara rumput.

Jika yang tertangkap capung kauk—yang besar, bersayap lebar seperti bayangan kerbau di langit—itu seperti menemukan harta karun. Sorak gembira melebihi tendangan goal sepak bola.

Hidup dulu sederhana, namun terasa lengkap. Tak ada uang saku, tak ada mainan mahal, tapi dunia menyediakan semuanya. Dari makanan sampai hiburan, dari sawah sampai senyum.

Kini, semua itu seperti dongeng. Beberapa waktu lalu pulang kampung. Menanyakan jubel dan klipes, dijawab tawa sinis. Pemukiman di belakang kampung telah menggantikan sawah. Pematang tempat capung terbang sudah jadi jalan rabat beton.

Padi masih tumbuh, tapi tanpa kehidupan kecil yang dulu menjadikannya utuh. Pestisida dan pupuk buatan telah menggusur kehidupan mikro yang dulu begitu akrab.

Capung pun nyaris tak tampak, padahal dulu jenisnya beragam: capung jaum seperti jarum, capung klitikan, capung pajeng, capung bencot, capung bincung dan tentu saja capung kauk.

Inilah paradoks yang menyakitkan. Dunia yang katanya maju justru kehilangan yang paling mendasar: keintiman dengan alam.

ADVERTISEMENT

Kemajuan mencabut akar, dan menyisakan beton. Namun ada harapan. Di Bali kini, gaung pertanian organik mulai menggema kembali.

Katanya, jika tanah kembali bersih dari racun, maka jubel akan kembali berjubel, klipes akan tak akan apes, dan capung akan kembali melayang di atas pematang yang rindang.

Mungkin dunia bisa berputar kembali, meski tak persis seperti dulu.

Mungkin, suatu pagi, di Denpasar atau kampung mana pun, kita akan kembali mencium wangi tanah basah dan melihat capung kauk melintas perlahan di langit, membawa kenangan yang tak lekang.

Denpasar, 13 Mei 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 256x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Puisi Kosong di Ujung Senja

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com