• Latest

Puisi-Puisi Armen Setiaji Untung

Mei 8, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Puisi-Puisi Armen Setiaji Untung

Redaksiby Redaksi
Mei 8, 2025
Reading Time: 4 mins read
591
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

DAHI BERSUJUD KE DALAM

Dahiku
lebih percaya pada luka
daripada lantai sajadah.

Ia bersujud ke dalam
mencari tuhan
di sela kerut usia.

2025

PUNGGUNG YANG TAK SELESAI DITULIS

Punggungku halaman terakhir
dari kitab yang tak punya sampul.

Selalu ditulis
selalu dihapus
selalu berdarah
setiap ingin menutup bab.

2025

TULANG-TULANG YANG BERDOA

Tulang-tulangku shalat dalam diam
mereka tak pakai kiblat
tak pakai waktu
tak pakai tubuh
hanya sunyi yang tahu
mereka sedang sujud.

2025

LAUTAN DI DALAM KOTAK

Baca Juga

a0874485-5883-4836-9faa-17bcddc8a681

Kepiting Dalam Baskom

Maret 29, 2026
​TEOLOGI LIMBAH

​TEOLOGI LIMBAH

Maret 19, 2026
Pada Secangkir Cinta

Pada Secangkir Cinta

Maret 9, 2026

Ada hari-hari yang terjebak
di dalam kotak,
yang berisi laut,
gelombang yang terjepit
oleh dinding kaca,
tapi tidak ada yang tahu
bagaimana ia bisa berenang.

Di luar,
hujan turun dalam hitungan mundur,
membangunkan kota yang sedang tidur,
menyebarkan bau logam,
seperti darah yang terciprat di lantai.

Mereka berkata,
kita harus bergerak,
tapi ke mana?

Apakah kita bergerak
untuk menuju sesuatu
atau hanya bergerak
untuk menipu waktu?

Kita berjalan di jalan yang tak ada,
seperti bayang-bayang
yang mengikuti,
meski tahu
bahwa tidak ada yang pernah menang,
karena permainan ini
sudah dimulai tanpa kita.

Di belakang kaca,
mereka menonton,
dengan mata yang kosong,
memainkan puzzle
yang tidak pernah bisa diselesaikan,
sementara di dalam kotak,
laut terus bergerak tanpa suara,
tanpa kita yang bertanya.

2025

SERAGAM PULANG PERGI

Setiap pagi, seragamku
menyelinap ke luar rumah
dengan langkah pelan-pelan,
seperti maling kenangan.

Ia duduk sendiri di halte,
menunggu angkot
yang tak kunjung lewat
karena sopirnya sedang mogok
menuntut upah yang bisa dibawa pulang,
bukan cuma dicatat di papan tulis utang.

Seragam tak pergi ke sekolah.
Ia berjalan ke pasar,
membeli sayur-sayur layu
yang ingin pensiun dari piring rakyat.

Kadang, duduk di warung kopi,
mendengarkan ibu-ibu bercerita
tentang anak-anak yang rajin
berbaris di depan ponsel,
bukan di depan guru.

Sore hari, seragam pulang
dengan kantong berisi angin
dan aroma bawang yang sudah tua.

Ia mengetuk lemari pelan:
“Ibu, aku sudah pulang.
Maaf, tadi aku belajar dari jalanan lagi.”

Ibu membukakan pintu lemari
seperti membuka pintu surga kecil,
lalu menggantung seragam
di samping sepasang doa
yang masih basah oleh peluh.

2025

KELAS DALAM MIMPI

Malam itu aku tidur
di atas buku pelajaran,
kaki menyelip ke dalam seragam
yang masih hangat oleh setrikaan ibu.

Aku bermimpi berada di kelas
yang dindingnya
terbuat dari papan pengumuman,
atapnya
dari pertanyaan-pertanyaan tak terjawab,
dan lantainya
dari serbet bekas kantin.

ADVERTISEMENT

Guru datang tanpa wajah,
membawa kapur
yang menulis sendiri di udara
setiap huruf berubah jadi nasi,
lalu jadi keringat,
lalu jadi rapor yang bisa dimakan.

Teman sebangkuku
adalah lemari kecil
yang setiap kali dibuka
menawarkan pelajaran tambahan:
cara melipat harapan,
cara menyimpan lapar,
cara menutup mulut
saat ingin menangis.

Di pojok kelas ibu duduk
sebagai murid paling sunyi.
Ia tidak mencatat,
tapi menggambar panci,
lemari es,
dan angka-angka dalam bon hutang.

Ketika bel pulang berbunyi,
semua murid berubah
jadi seragam kosong
yang tergantung di tali jemuran.

Aku terbangun,
menemukan ibu
sedang mengemasi mimpi
ke dalam kotak makan siangku.

2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 360x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 318x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 200x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Perpustakaan Sekolah Jangan Dibiarkan Jalan Sendiri

Perpustakaan Sekolah Jangan Dibiarkan Jalan Sendiri

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com