Dengarkan Artikel
DAHI BERSUJUD KE DALAM
Dahiku
lebih percaya pada luka
daripada lantai sajadah.
Ia bersujud ke dalam
mencari tuhan
di sela kerut usia.
2025
PUNGGUNG YANG TAK SELESAI DITULIS
Punggungku halaman terakhir
dari kitab yang tak punya sampul.
Selalu ditulis
selalu dihapus
selalu berdarah
setiap ingin menutup bab.
2025
TULANG-TULANG YANG BERDOA
Tulang-tulangku shalat dalam diam
mereka tak pakai kiblat
tak pakai waktu
tak pakai tubuh
hanya sunyi yang tahu
mereka sedang sujud.
2025
LAUTAN DI DALAM KOTAK
Ada hari-hari yang terjebak
di dalam kotak,
yang berisi laut,
gelombang yang terjepit
oleh dinding kaca,
tapi tidak ada yang tahu
bagaimana ia bisa berenang.
Di luar,
hujan turun dalam hitungan mundur,
membangunkan kota yang sedang tidur,
menyebarkan bau logam,
seperti darah yang terciprat di lantai.
Mereka berkata,
kita harus bergerak,
tapi ke mana?
Apakah kita bergerak
untuk menuju sesuatu
atau hanya bergerak
untuk menipu waktu?
📚 Artikel Terkait
Kita berjalan di jalan yang tak ada,
seperti bayang-bayang
yang mengikuti,
meski tahu
bahwa tidak ada yang pernah menang,
karena permainan ini
sudah dimulai tanpa kita.
Di belakang kaca,
mereka menonton,
dengan mata yang kosong,
memainkan puzzle
yang tidak pernah bisa diselesaikan,
sementara di dalam kotak,
laut terus bergerak tanpa suara,
tanpa kita yang bertanya.
2025
SERAGAM PULANG PERGI
Setiap pagi, seragamku
menyelinap ke luar rumah
dengan langkah pelan-pelan,
seperti maling kenangan.
Ia duduk sendiri di halte,
menunggu angkot
yang tak kunjung lewat
karena sopirnya sedang mogok
menuntut upah yang bisa dibawa pulang,
bukan cuma dicatat di papan tulis utang.
Seragam tak pergi ke sekolah.
Ia berjalan ke pasar,
membeli sayur-sayur layu
yang ingin pensiun dari piring rakyat.
Kadang, duduk di warung kopi,
mendengarkan ibu-ibu bercerita
tentang anak-anak yang rajin
berbaris di depan ponsel,
bukan di depan guru.
Sore hari, seragam pulang
dengan kantong berisi angin
dan aroma bawang yang sudah tua.
Ia mengetuk lemari pelan:
“Ibu, aku sudah pulang.
Maaf, tadi aku belajar dari jalanan lagi.”
Ibu membukakan pintu lemari
seperti membuka pintu surga kecil,
lalu menggantung seragam
di samping sepasang doa
yang masih basah oleh peluh.
2025
KELAS DALAM MIMPI
Malam itu aku tidur
di atas buku pelajaran,
kaki menyelip ke dalam seragam
yang masih hangat oleh setrikaan ibu.
Aku bermimpi berada di kelas
yang dindingnya
terbuat dari papan pengumuman,
atapnya
dari pertanyaan-pertanyaan tak terjawab,
dan lantainya
dari serbet bekas kantin.
Guru datang tanpa wajah,
membawa kapur
yang menulis sendiri di udara
setiap huruf berubah jadi nasi,
lalu jadi keringat,
lalu jadi rapor yang bisa dimakan.
Teman sebangkuku
adalah lemari kecil
yang setiap kali dibuka
menawarkan pelajaran tambahan:
cara melipat harapan,
cara menyimpan lapar,
cara menutup mulut
saat ingin menangis.
Di pojok kelas ibu duduk
sebagai murid paling sunyi.
Ia tidak mencatat,
tapi menggambar panci,
lemari es,
dan angka-angka dalam bon hutang.
Ketika bel pulang berbunyi,
semua murid berubah
jadi seragam kosong
yang tergantung di tali jemuran.
Aku terbangun,
menemukan ibu
sedang mengemasi mimpi
ke dalam kotak makan siangku.
2025
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






