POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Setelah 26 Nyawa Melayang, India Memilih Perang dengan Pakistan

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
May 7, 2025
Setelah 26 Nyawa Melayang, India Memilih Perang dengan Pakistan
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Yang suka keribunan, ngumpul di sini lagi, ya! Ini tentang perang sungguhan. Bukan perang antar jenderal purnawirawan yang sudah didamaikan oleh Prabowo semalam. Perang antar jenderal aktif India dan Pakistan yang sudah memerintahkan prajuritnya, baku hantam. Yang suka damai, cukup seruput kopi dari kejauhan.

“Bang, itu benaran India menyerang Pakistan? Lalu, gimanalah nasib Sara Ali Khan?”

Waduh, negara sudah perang, ente masih mikirkan si cantik Sara. Ini serius, wak. Perang modern, perang dua negara yang sama-sama memiliki rudal nuklir. Bukan rudal model di sini, ups.

Kita mulai ceritanya, wak. Pada pagi yang seharusnya tenang tanggal 7 Mei 2025, India memilih untuk tidak ikut trend damai-damaian. Mereka malah meluncurkan rudal. Bukan satu, bukan dua, tapi rudal beneran ke wilayah Pakistan dan Kashmir. Bukan untuk menyapa. Bukan untuk menakut-nakuti. Tapi untuk benar-benar meledakkan apa yang mereka sebut sebagai “kamp teroris”. Sebuah bentuk salam perkenalan yang agak kasar, seperti menggedor pintu tetangga pakai granat.

Alasan India sederhana dan sangat film Bollywood, balas dendam. Serangan teroris di Pahalgam, Kashmir pada 23 April 2025 telah menewaskan 26 wisatawan. India menuduh kelompok berbasis Pakistan sebagai dalang di balik tragedi tersebut. Pakistan, seperti biasa, membantah dengan gaya khasnya, “Kami tidak tahu-menahu. Mungkin mereka nyasar.” Tapi India tak mau tahu. Mereka sudah lama menahan rasa. Seperti sinetron prime time, emosi yang ditahan terlalu lama pasti meledak. Kali ini dalam bentuk rudal ke Kotli, Ahmadpur Timur, Muzaffarabad, Bagh, dan Muridke. Hasilnya? Delapan orang tewas, 35 lainnya terluka, termasuk warga sipil yang sedang rebahan dan tidak tahu apa-apa.

📚 Artikel Terkait

Kakek Nazar di Usia Senja

Membandingkan Seseorang; Perlu Atau Tidak?

MENANTI TAKDIR

Indonesia dan Warisan Dunia: Peluang, Tantangan, dan Tanggung Jawab Menjaga 16 Memory of the World

Pakistan pun tidak tinggal diam. Mereka langsung menyalakan alarm “Mode Dendam Maksimal” dan menembak jatuh lima jet tempur India, termasuk Rafale yang katanya kebal petir, Sukhoi SU-30 yang bisa salto di udara, dan MiG-29 yang sialnya sedang dalam misi selfie. PM Pakistan, Shehbaz Sharif, tampil di depan layar dengan wajah penuh minyak wangi perang, berkata: “Kami tidak takut. Kami akan membalas. Kami sudah menyiapkan nuklir, eh, maksudnya… nasi kebuli.”

Dunia menyaksikan semua ini dengan gaya klasik, prihatin maksimal, aksi minimal. PBB langsung mengadakan rapat darurat di ruang penuh AC dan sandwich mahal. Hasilnya? Seruan de-eskalasi yang sama sekali tidak terdengar oleh rudal-rudal yang masih beterbangan. Amerika Serikat menawarkan mediasi sambil memoles kontrak jual beli senjata. Rusia tertawa kecil, lalu mengirimkan brosur rudal S-400 ke kedua negara. Tiongkok? Sibuk menilai potensi ekonomi dari reruntuhan nanti. Korea Utara justru merasa tersaingi.

Para analis militer pun mulai mengutip peta, sejarah, dan jumlah hulu ledak nuklir masing-masing negara. “India punya 164 hulu ledak, Pakistan 170,” kata seorang analis sambil menggigit pulpen. “Kalau meledak semua, bisa bikin bumi muter balik ke zaman dinosaurus.” Tapi tentu saja, tak ada yang mau perang nuklir, kecuali mereka yang hidup di dunia maya dan mengira perang hanya seperti main Call of Duty.

Sementara itu, rakyat jelata di kedua negara mulai bersiap. Bukan untuk perang, tapi untuk antre beli bahan makanan, karena tahu harga bawang akan lebih mematikan dari misil. Di media sosial, netizen India dan Pakistan saling berbalas meme, karena dalam tragedi pun, manusia tak bisa jauh dari komedi.

Di tengah semua ini, alien di galaksi tetangga menyimpulkan bahwa spesies manusia adalah makhluk paling absurd, sudah tahu punya senjata nuklir, tapi masih bertengkar soal wilayah yang bahkan belum bisa masuk Google Maps dengan benar.

Semoga perang dua negara bertetangga tidak merembet ke sini. Kalau pun perang, paling hanya di medsos dan WA saja. Akan selalu damai bila sudah di warkop, seruput kopi tanpa gula sambil menyaksikan perang.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Bertutur, Merawat Budaya Baca Sejak Dini

Bertutur, Merawat Budaya Baca Sejak Dini

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00