Dengarkan Artikel
Oleh Tabrani Yunis
Ketika melintasi jalan Teuku Umar bersama anak yang paling kecil, Arisya Anum Tabrani Yunis, ia melihat sebuah bangunan putih terbit dari beton yang kelihatan begitu kokoh. Ia bertanya, what house  is that? Ya, bangunan apa itu ayah?  Ia bertanya dengan penuh rasa ingin tahu dalam bahasa Inggris. Padahal usianya belum 5 tahun.  Ia tersengat melihat bangunan putih yang berdiri kokoh di tengah taman dekat taman Putroe Phang. Ia tertarik, karena ia sangat suka melihat rumah-rumah besar dan cantik.  Setiap saat ia  melihat rumah besar dan cantik, Ia selalu mengungkapkan dengan kata-kata, wow! The house is big and beautiful.Â
Saya sedikit kaget dengan pertanyaan itu. Ya, saya tahu jawabannya. Jadi, sebagai ayah yang tahu tentang nama bangunan tersebut, wajib memberi tahu padanya. Walau hanya menyebut nama Gunongan. Saya katakan itu “ Gunongan”. Ia pun mengulangi dengan kata yang sama. Tentu di usianya yang belum 5 tahun, saya tidak bisa menjelaskan lebih detail pada Arisya bahwa itu adalah bangunan bersejarah, tempat permandian putri masa kerajaan Aceh. Belum bisa, dia belum tahu apa arti sejarah. Itu wajar.
Bukan hanya itu, ketika berbalik arah dari Setui ke kota, kami melintas lagi dan ia melihat pula ada komplek yang banyak batu nisannya. Ia pun bertanya lagi, kalau itu apa ayah? Saya berfikir sejenak. Jawaban apa yang harus diberi? Lalu saya menyebutkan That is “Kerkhof”. Kerkhof? What is that?
Yes, baby. Jawab saya. Do you want to know more about it? Yes, jawabnya. Tapi sekali lagi saya merasa sulit juga menjelaskannya bahwa Kerkhof Pocut itu adalah kompleks pemakaman serdadu Belanda dan serdadu KNIL yang mati terbunuh di Aceh dalam perang Aceh. Ia pasti sangat asing dengan hal itu. Namun, kata yang paling ia ketahui adalah kata kuburan atau grave. Saya pun mengatakan itu kuburan.
Apa yang menghentak pikiran saya adalah anak seusia Arisya punya rasa ingin tahu (coriousity) terhadap benda atau bangunan yang selama ini tidak menjadi titik perhatian orang dan bisa saja tidak penting untuk tahu, karena itu hanyalah peninggalan sejarah yang mungkin tidak ada untungnya untuk diketahui atau diingat.
Namun, sesungguhnya ketika anak kecil itu bertanya dan ingin tahu, saya melihat ada kebutuhan untuk mengisi rasa ingin tahunya terhadap dua peninggalan sejarah Aceh itu. Idealnya, pertanyaan itu menjadi pertanyaan para genarasi muda yang sudah usia sekolah. Karena kepada mereka sudah bisa dijelaskan lebih jauh tentang peninggalan sejarah Aceh itu.
Ingin rasanya saya menceritakan kepada Arisya dengan bangga sebagai orang Aceh bahwa di Aceh ini ada banyak situs sejarah yang sebenarnya wajib diketahui bahkan dikuasai informasinya oleh orang muda Aceh. Sebab Aceh yang memiliki sejarah kerajaan dan perang yang begitu panjang dalam mempertahankan setiap jengkal tanah, mewarisi kita begitu banyak bukti dan fakta sejarah yang wajib dijaga atau dipelihara sebagai pusat pembelajaran sejarah bagi anak cucu yang menjadi pewaris masa depan.
Ya, terus terang, ingin sekali menceritakan kepadanya dan menunjukan situs-situs tersebut. Misalnya Benteng Indrapatra yang berada di jalan Krueng Raya yang merupakan peninggalan kerajaan Hindu- Budha, sebelum masuknya Islam ke Aceh. Juga seharusnya saya bisa menceritakan kepadanya tentang Benteng Iskandar Muda yang menjadi bukti sejarah Suktan Iskandar Muda mempertahankan Aceh mass lalu.
📚 Artikel Terkait
Bahkan, ketika ia bertanya tentang bangunan Gunongan, di lokasi berdekatan juga ada kuburan Belanda yang dikenal dengan Kerkhof itu, tempat dikuburkannya tentara Belanda yang gugur di Aceh dan pasukan KNIL yang berasal dari Batak, Jawa dan Ambon. Tempat yang disebut dengan Kerkhof Peucut itu adalah bukti sejarah dalam bentuk komplek pemakaman militer Belanda di kota Banda Aceh. Tentu banyak sekali cerita sejarahnya dan tak mungkin saya ceritakan pada Arisya yang masih berumur belum 5 tahun itu.
Makanya seperti dikatakan di atas bahwa harusnya ini menjadi pengetahuan para generasi muda Aceh, apakah milenial, gen Z (Genzi) maupu gen Alhpa, khususnya di Aceh dan bangsa Indonesia umumnya.
Sayangnya saat ini orang-orang muda, generasi milenial, gennzi maupun Alhpa, banyak yang tidak mengenal sejarah bangsa dan negara mereka. Mereka sudah tidak lagi mau membaca sejarah, apalagi belajar sejarah, karena pelajaran ini sudah tidak begitu penting dalam sistem pendidikan Indonesia. Sehingga mereka, tidak melihat pelajaran sejarah sebagai pelajaran yang sangat penting dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara. Sejarah adalah pedoman untuk membangun kehidupan generasi yang lebih baik.
Sayangnya, realitas kekinian juga menunjukan terjadinya distorsi pengetahuan terhadap makna penting pelajaran sejarah. Bukan saja sejarah, tetapi juga mata pelajaran geografi, sebagai bagian dari cabang ilmu sosial. Seakan pelajaran ini hanya sekadar pengetahuan yang tidak memberikan manfaat.
Ya, nasib mata pelajaran sejarah dan geografi dalam kurikulum pendidikan Indonesia mengalami distorsi dan terdampak proses disrupsi. Sebagaimana kita ketahui bahwa pelajaran sejarah dan geografi di sekolah di Indonesia telah mengalami perubahan ketika konsep kurikulum Merdeka digadang-gadang sebagai kurikulum yang kemerdekaan itu.
Bayangkan saja, mata pelajaran Sejarah yang sebelumnya terbagi menjadi Sejarah Indonesia dan Sejarah Peminatan digabung menjadi satu mata pelajaran umum, dengan jam pelajaran yang berkurang dibandingkan kurikulum sebelumnya. Perubahan ini menimbulkan kebingungan bagi siswa dan juga menimbulkan tantangan bagi guru Sejarah, terutama terkait jam mengajar dan pemenuhan syarat tunjangan profesi. Apalagi. Kurikulum Merdeka memberikan fleksibilitas bagi siswa dalam memilih mata pelajaran, yang dapat berdampak pada jumlah peminat dan jam pelajaran untuk mata pelajaran tertentu seperti Sejarah dan Geografi. Jadi masalah nasib pelajaran sejarah dan geografi yang mengenaskan, ternyata ikut membuat pelajaran sejarah dan pengetahuan sejarah perjuangan bangsa ini menjadi tragis.
Padahal sejarah dan geografi sangat diperlukan bagi setiap generasi bangsa, agar mereka tahu bagaimana sejarah perjuangan bangsa dalam mempertahankan tanah air dari penjajahan di masa lalu. Penjajahan yang tidak diinginkan lagi saat ini dan di masa depan.
Lalu bagaimana kita bisa berharap anak cucu kita atau generasi sekarang dan mendatang mau mempertahankan berjuang agar negeri ini tidak dicaplok atau dijajah oleh bangsa lain, batas-batas wilayah negara, potensi bumi dan lain-lain, yang seharusnya tidak boleh sejengkal tanah pun hilang dan harus dipertahankan, tidak mereka ketahui?
Agaknya, fenomena dan realitas history and teritory or geography amnesia, harus disikapi segera. pemerintah harus merevitalisasi eksistensi pelajaran sejarah perjuangan bangsa dan juga pelajaran Geografi sebagai sebuah pelajaran yang wajib dipelajari oleh setiap peserta didik di sekolah, mulai dari pendidikan dasar, menengah, hingga perguruan tinggi. Bila ini tidak disikapi, kita akan menerima akibat buruk di masa depan. Selayaknya pemerintah bergerak cepat.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





