Dengarkan Artikel
Oleh: Hanif Arsyad
Seringkali kita merasa gerah atau jengkel ketika berhadapan dengan orang-orang yang suka menerabas, seperti yang melakukan aksi menerobos lampu merah, atau ketika kita sedang dalam antrean melihat ada orang-orang tanpa malu-malu menerabas,tidak mau antre. Padahal lokasi itu di tempat orang-orang yang berlatar belakang pendidikan tinggi dan berasal dari kalangan orang yang kelas menengah ke atas.
Melihat fenomena atau realitas semacam ini, muncul beberapa pertanyaan yang mengelitik hati, kenapa orang yang sudah menyandang gelar pendidikan bahkan dipertuan agung, tapi masih buang sampah sembarangan, masih tidak tahu ekita mengantri, bahkan ada sebagian orang melakukan kewajiban shalat dan kewajiban kewajiban agama yang lain dilaksanakan, tetapi kenapa masih menipu dan korupsi?
Pemandangan ini mungkin sudah menjadi bagian dari keseharian kita. Seseorang dengan gelar akademik tinggi menyela antrean di bandara. Seorang tokoh yang dikenal religius, ternyata terlibat dalam praktik penipuan. Banyak yang rajin salat, tetapi curang dalam berdagang. Pertanyaannya, mengapa pendidikan tinggi dan religiositas belum selalu sejalan dengan perilaku etis?
Inilah salah satu paradoks sosial di negeri kita. Budaya beretika belum sungguh-sungguh tertanam dalam kehidupan masyarakat, meski indikator kemajuan seperti akses pendidikan dan kesalehan ritual tampaknya sudah meningkat.
Pendidikan Tak Menjamin Etika
Dalam banyak kasus, pendidikan formal lebih fokus pada aspek kognitif: nilai ujian, gelar, dan kemampuan teknis. Sayangnya, pendidikan karakter sering kali hanya jadi pelengkap kurikulum, bukan prioritas utama. Padahal, kecerdasan tanpa etika bisa menjadi bumerang—menjadikan ilmu sebagai alat untuk menipu atau menyiasati hukum.
Agama Tak Cukup Jika Hanya Ritual
📚 Artikel Terkait
Begitu pula dengan agama. Ibadah memang penting, tetapi inti dari keberagamaan adalah akhlak. Nabi Muhammad SAW sendiri menegaskan bahwa misi kenabiannya adalah menyempurnakan akhlak mulia. Jika seseorang salat lima waktu, namun tetap tidak jujur atau gemar mengambil hak orang lain, maka ada yang keliru dalam cara ia menjalankan agamanya.
Budaya Sosial Kita: Antara Simbol dan Substansi
Masyarakat kita kerap lebih menghargai status dan simbol: gelar, jabatan, popularitas. Integritas dan keteladanan kadang dinomorduakan. Figur publik yang tampil sederhana dan jujur tidak selalu jadi panutan, tergeser oleh mereka yang pandai membangun citra. Tak heran jika praktik tak etis seperti menyerobot antrean atau menyuap dianggap hal lumrah.
Butuh Kesadaran Kolektif
Perubahan harus dimulai dari kesadaran bersama: bahwa kemajuan sejati tidak hanya soal pembangunan fisik atau prestasi akademik, tetapi juga tentang kualitas moral masyarakat. Pendidikan perlu kembali ke tujuan awalnya: membentuk manusia seutuhnya—cerdas secara intelektual, matang secara emosional, dan kokoh secara moral.
Kita butuh teladan. Dari orang tua di rumah, guru di sekolah, tokoh agama di mimbar, hingga pejabat publik di ruang kekuasaan. Budaya etika dibangun dari hal kecil: membuang sampah pada tempatnya, mengantre dengan tertib, jujur dalam transaksi, tepat waktu dalam janji. Itulah tanda peradaban.
Penutup
Sudah waktunya kita bertanya, bukan hanya apa gelarmu? atau bagaimana salatmu? Tapi juga: bagaimana perilakumu? Adab di atas ilmu yang sering sekali kita dengar, tetapi adab ini sering kita abaikan dalam aplikasi keseharian kita, kualitas sebuah bangsa tidak hanya diukur dari indeks ekonomi atau jumlah lulusan, tetapi dari seberapa etis warganya dalam hidup bermasyarakat.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






