Oleh Jengki Sunarta
Seribu Kuli
Di konstruksi pencakar langit
Seribu kuli meniti bilah-bilah besi
Di puncak tower Tuhan duduk santai
Membaca teka-teki
Yang dilontarkan seribu kuli
Ke langit muram
Bertaburan serbuk semen
“Mengapa upah kami murah
Dan peluh kami mengeluh?!”
Teriak seribu kuli
Pada udara tohor
Di ujung crane, Tuhan tersedu
Menyaksikan seribu kuli
Merayapi konstruksi
Di sebidang lahan tak bernama
Bekisting mencetak wajah seribu kuli
Dalam beton-beton beku
Tak ada cahaya
Pada anagram
Hanya bayangan hitam
Mengelupas dinding kaca
Luruh menjadi kata-kata
Kusam
Pada kontrak kerja
Wjs, 2025
-Respon terhadap puisi “Elitz Pertama” dalam buku “Setelah Deru Paku dan Palu” karya Kim Al Ghozali
- foto dari internet
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 363x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 322x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis.
Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.













Discussion about this post