POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Ketika Purnawirawan Bicara: Refleksi Moral untuk Kedewasaan Demokrasi Indonesia

RedaksiOleh Redaksi
April 30, 2025
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Dayan Abdurrahman

Dalam beberapa waktu terakhir, publik dikejutkan dengan kemunculan ratusan purnawirawan jenderal TNI yang secara terbuka menyampaikan pandangan dan kegelisahan mereka terhadap arah perjalanan demokrasi Indonesia. Di tengah dinamika transisi kekuasaan dari pemerintahan Jokowi ke kepemimpinan Prabowo-Gibran, suara para purnawirawan ini tidak bisa hanya dilihat sebagai sikap politis belaka. Lebih dari itu, ia merupakan sinyal moral, refleksi historis, dan pertanda bahwa bangsa ini sedang memasuki persimpangan penting dalam membangun demokrasi yang matang dan bermartabat.

Para purnawirawan bukanlah sosok sembarangan. Mereka pernah mengemban amanah besar menjaga keutuhan bangsa, mempertahankan kedaulatan negara, dan mengorbankan sebagian hidupnya demi Indonesia. Maka ketika mereka bersuara, ada pesan yang dalam yang ingin disampaikan: bahwa kekuasaan harus tetap dijaga dalam koridor etika, hukum, dan semangat pengabdian kepada rakyat, bukan sekadar kalkulasi politik sesaat.

Di sinilah pentingnya kita merenung, khususnya para pemimpin baru. Demokrasi tidak boleh hanya dimaknai sebagai mekanisme elektoral, tetapi sebagai sistem nilai yang menjunjung tinggi keterbukaan, partisipasi, tanggung jawab, dan keberpihakan kepada kebenaran. Demokrasi yang sehat bukan yang hanya memenangkan mayoritas, melainkan yang melindungi yang lemah dan menghargai perbedaan.

Dalam tradisi keislaman, para ulama klasik maupun kontemporer telah menekankan pentingnya amar ma’ruf nahi munkar dalam konteks sosial-politik. Ketika terjadi penyimpangan atau kekhawatiran terhadap arah kebijakan negara, umat Islam—termasuk para pensiunan militer—tidak boleh diam. Mereka wajib menyampaikan pandangan, tentu dengan adab dan hikmah. Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik jihad adalah berkata benar di hadapan penguasa yang zalim.” (HR. Abu Dawud). Hadis ini memberikan legitimasi spiritual bagi siapa pun yang ingin memperbaiki arah bangsa melalui kritik yang konstruktif.

Dari sisi sosial-budaya, sikap purnawirawan ini juga mencerminkan bahwa budaya kepemimpinan Indonesia seharusnya menjunjung tinggi kearifan lokal: musyawarah, keteladanan, dan penghormatan terhadap yang lebih tua. Indonesia adalah bangsa yang berakar kuat pada nilai-nilai kebersamaan. Ketika para tokoh senior menyampaikan kekhawatiran, kita tidak boleh serta-merta menuduh mereka dengan motif politik. Justru kita harus melihatnya sebagai bagian dari dinamika sehat dalam membangun bangsa yang beradab.

Sayangnya, dalam beberapa respons yang muncul, kritik para purnawirawan justru dibalas dengan sinisme dan delegitimasi. Ada upaya mengesampingkan pesan moral dengan membingkainya sebagai “kegaduhan politik.” Padahal, demokrasi yang matang adalah demokrasi yang mendengar, bukan yang membungkam. Ini adalah ujian bagi kedewasaan kita sebagai bangsa: apakah kita cukup lapang untuk mendengar kritik dari mereka yang pernah berada dalam lingkaran kekuasaan, tetapi kini memilih berdiri bersama suara rakyat?

📚 Artikel Terkait

Selepas Hujan

Menanti Pelaksanaan SPMB yang Berintegritas

Bimbingan Konseling Kini Dan Esok

Tebe, Gerakan dan Nyinyir?

Dari sisi global, demokrasi Indonesia sedang diperhatikan dunia. Posisi strategis Indonesia di kawasan Indo-Pasifik, statusnya sebagai negara Muslim terbesar, serta keberhasilannya menjaga stabilitas sosial dalam keberagaman, menjadikan Indonesia role model bagi negara-negara berkembang. Namun jika demokrasi kita justru dirusak oleh praktik-praktik manipulatif, politik dinasti, dan pembungkaman suara kritis, maka kepercayaan dunia pun akan luntur. Investasi, hubungan luar negeri, bahkan kerja sama global akan melihat stabilitas demokrasi sebagai indikator utama.

Kita tidak boleh melupakan bahwa bangsa ini telah melewati masa-masa kelam ketika suara rakyat dibungkam, ketika kritik dianggap ancaman, dan ketika kekuasaan dibangun tanpa akuntabilitas. Reformasi 1998 adalah titik balik. Jika hari ini ada kekhawatiran bahwa semangat reformasi mulai surut, maka kritik dari para purnawirawan adalah pengingat agar bangsa ini tidak kembali mundur.

Di sinilah peran guru, akademisi, pemuka agama, dan kaum intelektual lainnya sangat penting. Kita tidak boleh menjadi penonton pasif. Kita harus menyuarakan kebenaran, membimbing masyarakat memahami isu dengan kritis, serta menjaga agar nilai-nilai moral, agama, dan konstitusi tetap menjadi landasan dalam setiap keputusan politik bangsa.

Menjadi pemimpin bukan hanya soal menang dalam pemilu. Lebih dari itu, ia adalah amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan manusia dan Tuhan. Kepemimpinan adalah cermin akhlak. Dalam Islam, seorang pemimpin disebut sebagai ra’in (penggembala) yang akan dimintai pertanggungjawaban atas siapa yang dipimpinnya.

Oleh karena itu, suara para purnawirawan harus dijadikan momentum untuk introspeksi nasional. Sudahkah kita menjaga amanah reformasi? Sudahkah kita melibatkan rakyat secara bermakna dalam proses pembangunan? Dan yang paling penting: sudahkah kita mendidik generasi muda untuk menjadi warga negara yang tidak hanya cerdas, tetapi juga beretika dan beriman?

Kedewasaan demokrasi Indonesia bukan diukur dari seberapa sering kita mengadakan pemilu, tetapi dari seberapa besar ruang yang kita berikan bagi kritik yang jujur, suara moral yang bijak, dan keteladanan dari para pemimpin. Semoga suara para purnawirawan bukan dianggap ancaman, tetapi dijadikan hikmah—sebagai penanda bahwa bangsa ini masih memiliki nurani, dan bahwa kita belum sepenuhnya kehilangan arah.

penulis adalah pemerhati isu nasional sosial budaya

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Dunia Memang Tak Ramah pada Orang Susah

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00