• Latest
Dunia Memang Tak Ramah pada Orang Susah - 1000546441_11zon | # Ironi | Potret Online

Dunia Memang Tak Ramah pada Orang Susah

April 30, 2025
9fdb3c1c-1879-4f8c-9aa8-02113678bceb

Warisan Musik Aceh dari Gampong Padang Manggeng

April 21, 2026
Ilustrasi siluet pasangan dengan hati retak melambangkan cemburu, konflik emosional, dan hubungan yang rapuh

Cemburu Membunuh Perempuan

April 21, 2026
Dunia Memang Tak Ramah pada Orang Susah - 1001348646_11zon | # Ironi | Potret Online

Kisah Perempuan – Lubna dari Córdoba

April 21, 2026
Dunia Memang Tak Ramah pada Orang Susah - 1001353319_11zon | # Ironi | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

April 21, 2026
IMG_0878

Perempuan di Titik Klimaks

April 21, 2026
Dunia Memang Tak Ramah pada Orang Susah - 1001361361_11zon | # Ironi | Potret Online

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

April 21, 2026
d2a5b58f-c424-41eb-91dc-d0a057017eda

Menguak Kenangan Orkes Mekar Melati Manggeng dan Para Musisi Muda

April 21, 2026
Rabu, April 22, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Dunia Memang Tak Ramah pada Orang Susah

Redaksi by Redaksi
April 30, 2025
in # Ironi, ITB Bandung, Kemiskinan
Reading Time: 2 mins read
0
Dunia Memang Tak Ramah pada Orang Susah - 1000546441_11zon | # Ironi | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Ririe Aiko

“Kemiskinan tak selalu lahir dari kemalasan, melainkan dari sistem yang memilih untuk menutup mata.”

Di sudut jalan kota Bandung, saya bertemu seorang kakek tua penjual balon. Ia berdiri tenang, membawa belasan balon warna-warni yang bergoyang pelan ditiup angin sore. Yang menarik perhatian saya bukan hanya sosok rentanya, tapi tulisan di balon yang ia jual: Harga Seikhlasnya.

Baca Juga
  • BENGKEL OPINI RAKyat
  • 🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Kalimat itu sederhana, tapi memuat beban kehidupan yang tak terkatakan. Ada kepasrahan, ada harapan, ada doa yang dibisikkan dalam diam oleh seseorang yang sudah terlalu lama berjalan di jalan hidup yang berat.

Saya membeli beberapa balon, lalu kami berbincang. Kakek itu bercerita dengan suara yang tak lagi lantang, namun penuh keteguhan. Istrinya meninggal dunia karena sakit yang tak pernah tertangani. Biaya berobat tak mampu mereka jangkau, dan akhirnya ia hanya bisa mendampingi sang istri hingga nafas terakhir tanpa rumah sakit dan tanpa pengobatan layak.

Baca Juga
  • “Wahabi Lingkunganā€ atau Suara Nalar yang Dikebiri?
  • Mustaqim dan Sekolah Pemimpinnya

Anaknya dua. Satu merantau jauh ke luar pulau, hidup seadanya. Satu lagi telah tiada, juga karena sakit yang tak terobati. Kini, kakek itu sendiri, berdagang balon demi bisa makan hari ini. Keluarganya yang lain tak bisa banyak membantu—bukan karena mereka tak peduli, tapi karena mereka pun berjuang keras untuk sekadar bertahan hidup.

Saya terdiam. Di hadapan saya bukan sekadar seorang penjual balon, tapi potret nyata dari wajah kemiskinan yang sering kita lihat namun enggan kita selami. Di usia yang seharusnya dinikmati di teras rumah sambil menyesap teh hangat, ia masih harus berjalan menembus debu kota, menggantungkan hidup pada balon-balon kecil di tangan.

Baca Juga
  • BENGKEL OPINI RAKyat
  • 🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Dan ia bukan satu-satunya. Jika kita mau membuka mata lebih lebar, kita akan temukan ribuan—bahkan jutaan—kakek dan nenek lain di penjuru negeri ini yang masih berjibaku mencari nafkah. Bukan karena tak mau beristirahat, tapi karena tak punya pilihan. Mereka bukan menjadi miskin karena tak mau berjuang, melainkan karena sistem menjerat mereka dalam ketidakmerataan yang tak kunjung usai.

Kita hidup di negara yang katanya kaya sumber daya, namun kenyataannya terlalu banyak warganya yang hidup dalam kekurangan. Pendidikan tinggi tidak lagi jaminan kesuksesan, dan kesehatan pun menjadi kemewahan yang sulit dijangkau. Sementara itu, di sisi lain, para elite pejabat menikmati masa tua mereka dengan segala fasilitas, duduk nyaman di kursi empuk, hidup dalam kemewahan yang nyaris tak tersentuh realita rakyatnya.

Lalu, jika kesenjangan sosial sudah sedemikian menganga, siapa yang layak disalahkan? Lagi-lagi, mereka yang hidup dalam kekurangan diminta bersabar. Lagi-lagi, orang susah harus menelan pahitnya hidup seolah itu takdir yang tak bisa digugat.

Kadang, dunia memang tidak ramah pada mereka yang terpinggirkan. Mereka yang terjerat dalam lingkaran kemiskinan kerap kali tak punya jalan keluar, seolah hidupnya hanya berputar dalam labirin yang tak berujung.

Namun kita masih memiliki pilihan. Kita bisa terus menjadi bagian dari dunia yang tak peduli, atau mulai menciptakan ruang kecil dalam diri untuk peduli. Sebab, kadang hal paling manusiawi yang bisa kita lakukan adalah duduk sejenak dan berusaha menjadi pendengar yang baik.

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post
Dunia Memang Tak Ramah pada Orang Susah - IMG 20250430 WA0021 | # Ironi | Potret Online

Barong Bola

POTRET Online

Ā© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

Ā© 2026 potretonline.com