• Latest
Simeulue

Simeulue

April 26, 2025
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Simeulue

Redaksiby Redaksi
April 26, 2025
Reading Time: 4 mins read
Simeulue
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Muhammad Subhan

TIBA-TIBA ingatan saya terbang jauh ke Simeulue. Sebuah pulau di Aceh yang dikelilingi laut dengan pantai-pantai indah.

Kenangan saya kembali ke 15 tahun lampau.

Pagi itu masih muda. Jumat, 16 April 2010. Jam menunjukkan pukul 7.45. Langit bersih. Bandara Lasikin di Pulau Simeulue tampak lengang.

Pesawat kecil Susi Air baru saja mendarat. Saya turun dengan debar. Ini kali pertama saya menginjakkan kaki di pulau itu. Pulau yang selama ini hanya hadir dalam mimpi dan cerita.

Udara laut menyeruak begitu pintu pesawat terbuka. Hangat dan tenang. Seperti menyambut seorang perantau yang pulang setelah lama pergi.

Saya datang ke Simeulue atas undangan sebuah media lokal. Tujuannya memberikan pelatihan jurnalistik untuk meningkatkan kapasitas wartawan dan staf media di sana. Tentu, saya senang mendapat undangan itu.

Dari udara, Simeulue terlihat memesona. Biru lautnya, hijau daratannya, bagai lukisan alam.

Saya teringat Bali, tempat yang pernah beberapa kali saya singgahi. Tapi Simeulue berbeda. Lebih sunyi, lebih murni. Seperti permata yang belum diasah.

Pulau ini baru tumbuh sebagai kabupaten definitif, namun potensinya besar. Pantai berbatu karang seperti di Babang. Pasir putih di Teupah Selatan. Laut yang kaya. Budaya lokal yang majemuk.

Simeulue juga kaya akan sejarah. Banyak perantau dari Minangkabau yang kini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat. Mereka membawa serta budaya dan tradisi yang kental.

Salah satunya adalah ulama yang sangat dihormati di Simeulue, Teungku Di Ujung. Nama aslinya Khalilullah, seorang ulama Minangkabau yang beragama Islam dan dikenal sebagai sosok yang berjasa dalam menyebarkan ajaran Islam di Pulau Simeulue, khususnya pada masa Kesultanan Aceh. Jejak perjuangannya tetap dikenang hingga kini.

Semua itu bisa jadi magnet wisata. Suatu saat nanti, siapa tahu, Simeulue akan menjadi “Bali-nya Sumatera.”

Namun, lebih dari keindahan, ada tekad dan cinta yang membuat saya datang.

Di kantor media yang mengundang, saya diminta berbagi kiat menulis, terutama dalam jurnalistik. Memberi pembekalan kepada wartawan muda di sana. Mereka penuh semangat. Penuh potensi.

Simeulue bukan nama asing bagi saya. Sejak 2009, saya diminta menjadi editor jarak jauh untuk media di Simeulue. Media itulah yang mengundang saya. Dari Padang Panjang, saya memantau tulisan-tulisan wartawan mereka. Beberapa nama bahkan sudah saya hafal karena produktif.

Dua hari itu saya menyampaikan empat materi: menulis berita, teknik wawancara, penulisan feature, dan foto jurnalistik.

Itu sedikit keahlian yang saya kuasai karena sebelumnya bertahun-tahun bekerja di sebuah media mingguan dan harian di Kota Padang.

Kepada wartawan-wartawan muda di sana, saya tekankan pentingnya membaca. Bukan hanya membaca berita yang ditulis sendiri, tapi juga membaca berita wartawan di media lain. Serta membaca buku pengayaan.

Dalam menulis berita, rumus 5W + 1H adalah dasar. Siapa. Apa. Di mana. Kapan. Mengapa. Bagaimana. Tanpa ini, berita kering dan tak bernyawa.

Teknik wawancara juga tak kalah penting. Wartawan harus siap. Fisik. Mental. Daftar pertanyaan. Alat tulis. Perekam. Disiplin waktu. Jangan biarkan narasumber menunggu. Wartawan harus datang lebih awal.

Menulis feature adalah seni. Ini bukan berita keras. Ini cerita. Bernyawa. Penuh rasa. Feature menghibur dan memberi informasi. Bahasa yang digunakan lebih luwes dan indah. Banyak media besar menjadikan feature sebagai kekuatan.

Foto jurnalistik juga kami bahas. Foto yang bagus bisa bicara lebih dari seribu kata. Bukan sekadar jepret, tapi bagaimana menangkap momen, emosi, dan cerita. Saya tunjukkan beberapa foto pemenang Pulitzer.

Baca Juga

96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
Kenangan yang terlupakan di cermin

Kehilangan Cinta Secara Karena Egois

Maret 27, 2026
8ebfa6ab-7ef6-4c91-be8a-443b7a9d1588

Ramadan, Rindu dan Gema Takbir di Negeri Seribu Menara

Maret 26, 2026

Waktu dua hari terasa terlalu cepat. Para wartawan muda itu tampak belum puas. Tapi inilah awal. Pondasi. Kelak mereka akan membangunnya lebih tinggi—dan, setelah bertahun-tahun berlalu, dari jauh saya melihat mereka sudah menjadi wartawan hebat.

Usai pelatihan, kami rehat di Pantai Babang. Pantai ini indah, tenang. Riak dan debur ombaknya begitu puitis. Pantai Babang salah satu ikon wisata di Pulau Simeulue.

ADVERTISEMENT

Keesokan harinya, kami beranjak ke Teupah Selatan. Daerah ini dulunya pusat tsunami 26 Desember 2004. Luka masih terasa. Tapi kehidupan terus berjalan. Orang-orangnya tangguh. Penuh harapan.

Saya meninggalkan Simeulue dengan hati yang penuh. Penuh syukur. Penuh kenangan. Juga tekad.

Di pulau yang sunyi ini, saya menemukan harapan yang tumbuh. Dalam berita-berita sederhana. Dalam senyum wartawan muda. Dalam lenguh ombak yang tak lelah memeluk pantai.

Simeulue tak lagi sekadar nama. Ia kini hidup dalam ingatan saya. Sebagai pulau yang sabar. Pulau yang berjuang. Pulau yang menulis masa depannya sendiri.

Dan, suatu hari nanti, saya ingin datang lagi. []

Baca juga di https://majalahelipsis.id/simeulue/

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 347x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 309x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 261x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 252x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 198x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Dari Kelas Biasa ke Kelas Luar Biasa

Dari Kelas Biasa ke Kelas Luar Biasa

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com