POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Menyelami Pesan Buya Syafii Maarif (1)

Gunawan TrihantoroOleh Gunawan Trihantoro
April 24, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Menjaga Marwah Hukum dalam Negara Demokrasi

Oleh Gunawan Trihantoro
Sekretaris Kreator Era AI Jawa Tengah

“Kalau ada sengketa selesaikan melalui jalur hukum, jangan di luar hukum,” demikian petuah Buya Syafii Maarif, sosok yang dikenal luas sebagai guru bangsa.

Kata-kata ini bukan sekadar nasihat, melainkan cermin dari konsistensinya menjaga martabat konstitusi dalam kehidupan berbangsa.

Buya mengingatkan bahwa dalam negara hukum, penyelesaian masalah harus melalui mekanisme yang sah dan diakui, bukan melalui jalan kekerasan atau tekanan massa.

Ia menyebut Mahkamah Konstitusi dan aparat hukum sebagai institusi yang harus dihormati, bukan dilecehkan apalagi dilewati.

Di tengah gelombang populisme dan derasnya arus emosi publik, Buya tetap teguh berdiri di atas prinsip-prinsip konstitusionalisme.

Ia tahu, tanpa kepercayaan pada institusi hukum, bangsa ini akan mudah tergelincir ke dalam kekacauan dan konflik sosial.

Pernyataan “tidak boleh main hakim sendiri” adalah tamparan bagi mereka yang gemar memainkan emosi publik untuk kepentingan sesaat.

Dalam negara demokrasi, perbedaan pendapat dan konflik kepentingan adalah hal wajar, namun penyelesaiannya harus berada dalam kerangka hukum.

Aparat penegak hukum bukan sekadar simbol kekuasaan, tetapi fondasi keadilan yang harus diperkuat, bukan dipertentangkan.

Buya memahami betul risiko dari “mengadu domba,” karena sejarah telah mengajarkan bahwa perpecahan bangsa sering bermula dari fitnah dan provokasi.

Ketika masyarakat kehilangan orientasi hukum, maka yang lahir bukan keadilan, tapi ketakutan dan dendam berkepanjangan.

📚 Artikel Terkait

Branding Halu-Halu,  Cara Naik Kelas dan Pencucian Nama

Poo Makna

Beasiswa, Jalan Menuju  Pendidikan Yang Lebih Tinggi dan Lebih Baik

In Memoriam Sejarawan Anthony Reid

Buya menyerukan agar hukum dijadikan panglima, bukan alat kekuasaan, apalagi balas dendam politik.

Kita bisa belajar dari keteladanan Buya yang dalam kritiknya tetap santun, dalam nasihatnya tetap tajam, dan dalam ilmunya tetap rendah hati.

Ia bukan sekadar cendekiawan, tetapi pelita dalam kegelapan ketika bangsa kehilangan arah di tengah krisis kepercayaan.

Dalam konteks ini, kata-kata Buya harus dibaca sebagai ajakan moral untuk menata kembali relasi antara rakyat, kekuasaan, dan hukum.

Bukan hanya pejabat, masyarakat sipil pun dituntut untuk melek hukum, agar tak mudah terprovokasi dan terjebak dalam arus disinformasi.

Hukum bukan milik elit, tapi milik seluruh rakyat yang percaya bahwa keadilan bisa ditegakkan melalui proses yang benar.

Buya Syafii Maarif ingin kita membangun bangsa ini bukan dengan kemarahan, tetapi dengan kesadaran akan pentingnya kepastian hukum.

Ia tahu, di negara-negara maju, hukum menjadi jangkar dalam mengarungi dinamika politik dan ekonomi.

Negara hukum adalah benteng terakhir dari kehancuran moral jika jalan-jalan dialog dan musyawarah tidak lagi dihargai.

Di sinilah pentingnya menjaga independensi lembaga hukum dari intervensi kekuasaan dan kepentingan partisan.

Pesan Buya ini menjadi relevan ketika sengketa politik, sosial, atau bahkan agama sering kali ditarik ke jalan-jalan publik yang memanaskan emosi massa.

Buya tidak membenci demonstrasi, tapi ia menolak cara-cara yang menjauhkan bangsa dari semangat dialog dan penyelesaian konstitusional.

Ia mengajak kita untuk percaya pada proses, bukan pada desakan-desakan jalan pintas yang justru merusak tatanan hukum itu sendiri.

Di tengah semarak dunia maya dan opini-opini liar, suara Buya adalah penyejuk yang mengingatkan pentingnya kesabaran dalam proses hukum.

Kata-kata beliau adalah jembatan antara kebijaksanaan masa lalu dan kebutuhan masa kini untuk tetap waras di tengah perbedaan.

Maka tugas kita bukan hanya mengagumi, tetapi mengamalkan: menjaga hukum, memuliakan konstitusi, dan menolak segala bentuk kekacauan sosial.

Buya Syafii Maarif telah menanamkan nilai yang kokoh: bahwa negara hukum adalah rumah bersama yang harus dirawat dengan akal sehat dan hati yang teduh.


Rumah Kayu Cepu, 24 April 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 140x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 128x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 98x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 92x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro adalah seorang penulis kelahiran Purwodadi tahun 1974. Ia merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang mulai aktif menulis sejak masa kuliahnya. Karya-karyanya telah terbit di berbagai media cetak dan online. Gunawan aktif dalam berbagai komunitas kepenulisan, termasuk Satupena, Kreator Era AI, dan Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah. Selain itu, ia juga berkontribusi sebagai penulis buku-buku naskah umum keagamaan dan moderasi beragama di Kementerian Agama RI selama periode 2022–2024. Hingga kini, Gunawan telah menghasilkan puluhan buku, baik sebagai penulis tunggal maupun penulis bersama, yang memperkuat reputasinya sebagai salah satu penulis produktif di bidangnya.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
165
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
TELAGA AIRMATA

Menyelamatkan Ingatan di Tengah Reruntuhan

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00